Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 31.1 ° C

Setelah Erupsi Tangkubanparahu, Warga Gelar Ruwatan

Hendro Susilo Husodo
PEDAGANG membersihkan atap kiosnya dari debu vulkanik pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin, 29 Juli 2019. Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu menyatakan, Wisata Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu akan dibuka setelah kawasan wisata tersebut bersih dari debu vulkanik.*/ANTARA
PEDAGANG membersihkan atap kiosnya dari debu vulkanik pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin, 29 Juli 2019. Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu menyatakan, Wisata Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu akan dibuka setelah kawasan wisata tersebut bersih dari debu vulkanik.*/ANTARA

NGAMPRAH, (PR).- Sebagai bentuk rasa syukur dan terhindar dari marabahaya, masyarakat menggelar ruwatan di Kampung Gamlok, RT 6 RW 7, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 29 Juli 2019. Ruwatan di kampung yang bejarak sekitar empat kilometer dari Gunung Tangkubanparahu itu merupakan tradisi tahunan.

Dalam ruwatan yang mengangkat tema Repeh Rapih Parenah Tumaninah itu, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan warga sekitar melakukan sejumlah ritual. Ketua RT setempat, Maman Suherman mengatakan, ruwatan digelar menurut penanggalan Sunda, yakni setiap 26 Hapit yang kali ini jatuh pada 29 Juli 2019.

"Dalam ruwatan ini, acara ritual yang digelar yaitu pemotongan seekor kambing berwarna hitam, meriung berdoa, lalu kesenian tarawangsa dan terbang buhun, yang menggunakan alat musik Sunda seperti goong, kolenang, kendang, atau terompet," kata Maman di sela acara.

Pemangku adat setempat, Budi Raharja mengatakan, tradisi ruwatan mulai digelar sejak sekitar tahun 1960-an, yang dipimpin oleh Abah Mad Pa'i, kuncen Gunung Tangkubanparahu. Hingga saat ini, kearifan lokal masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Tangkubanparahu itu masih cukup kental. 

"Selain di Kampung Gamlok, kami juga biasa menggelar ruwatan di Gunung Tangkubanparahu. Kalau di sini setiap bulan Hapit, ruwatan di gunung itu setiap 10 Muharam. Ruwatan itu sebagai tolak bala, karena kami tinggal di perkampungan yang paling dekat dengan Tangkubanparahu," katanya.

WARGA menggelar ruwatan di Kampung Gamlok, RT 6 RW 7, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 29 Juli 2019. Ruwatan di kampung yang bejarak sekitar empat kilometer dari Gunung Tangkubanparahu itu merupakan tradisi tahunan.*/HENDRO HUSODO/PR

Dari semua kelender acara ruawatan tersebut, terang dia, intinya adalah sebagai tasyakur nikmat dan permohonan tolak bala kepada penguasa alam semesta. "Juga menjaga tradisi leluhur dalam menjaga alam, serta menghormati Ibu Ratu dan Eyang Sangkuruiang yang masih dipercayai sebagai legenda hidup dalam lingkungan masyarakat sekitar gunung," katanya.

Sewaktu Gunung Tangkubanparahu erupsi pada 26 Juli 2019 kemarin, menurut dia, warga Kampung Gamlok cukup tenang. Selain karena tak ada abu yang turun di kampung tersebut, para sesepuh sudah melihat tanda-tanda Tangkubanparahu bakal erupsi. "Makanya, pas erupsi itu sesepuh di sini juga tidak ke atas," ujarnya.

Meski begitu, dia berharap agar pemerintah, dalam hal ini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dapat menginformasikan kondisi Gunung Tangkubanparahu kepada masyarakat sekitar secara langsung. Sebelum terjadi erupsi, kata dia, semestinya masyarakat diberi peringatan dini.

"Keinginanan masyarakat sekitar sih ada keterbukaan kepada khayalak untuk kondisi kawah dari pihak PVMBG. Jangan ada yang ditutup-tutupi, karena kejadian pada Jumat (26 Juli 2019) kemarin adalah kejadian yang sangat fatal. (Erupsi) itu terjadi saat masyarakat dan pengunjung ada di sekitar kawah, tanpa ada peringatan dini," katanya.***

Bagikan: