Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Aktivitas Tangkubanparahu Menurun, Tetapi Belum Normal

Cecep Wijaya Sari
LANSKAP Kawah Ratu pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu, 28 Juli 2019. Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu PVMBG mecatat pada Minggu pagi (28/7) amplitudo getaran berkisar di angka 0,5 mm dibandingkan saat erupsi pada Jumat, 26 Juli 2019 yang mencapai lebih dari 50 mm.*/ANTARA
LANSKAP Kawah Ratu pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu, 28 Juli 2019. Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu PVMBG mecatat pada Minggu pagi (28/7) amplitudo getaran berkisar di angka 0,5 mm dibandingkan saat erupsi pada Jumat, 26 Juli 2019 yang mencapai lebih dari 50 mm.*/ANTARA

NGAMPRAH, (PR).- Aktivitas Gunung Tangkubanparahu di perbatasan Kabupaten Subang dan Lembang, Kabupaten Bandung Barat menunjukkan penurunan sejak erupsi pada Jumat, 26 Juli 2019. Meski demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengimbau agar tidak ada aktivitas manusia dalam radius 500 meter dari kawah aktif.

"Meski aktivitas kegempaan sudah menurun, saat ini belum bisa dibilang stabil atau normal. Kami masih terus pantau perkembangannya setiap hari," kata Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat pada PVMBG Nia Haerani, Minggu, 28 Juli 2019.

Dia menuturkan, aktivitas gunung api tersebut kemarin secara visual masih menunjukkan embusan asap putih tipis, mengindikasikan zat-zat yang didominasi uap air. Sementara dari aktivitas kegempaan, ada sekitar 20 kejadian/hari, menurun signifikan dari sebelum erupsi yang mencapai 400 kejadian/hari.

Meski aktivitas kegempaan sudah turun, lanjut dia, pihaknya mengimbau agar tidak ada aktivitas manusia untuk sementara waktu dalam radius 500 meter dari kawah aktif, yakni Kawah Ratu. "Lokasi tersebut ada di sekitar kios para pedagang dan lokasi parkir dekat kawah. Kalau untuk di luar kawasan Tangkubanparahu, saat ini tidak ada dampaknya" tutur Nia.

Dia juga mengungkapkan, hal tersebut sudah disampaikan kepada pihak pengelola Taman Wisata Alam Tangkubanparahu. Meski demikian, PVMBG hanya memberikan rekomendasi, tidak berwenang menutup areal wisata terebut.

Lebih jauh dia mengungkapkan, erupsi tahun ini termasuk dalam deretan kejadian terbesar dalam sejarah aktivitas Gunung Tangkubanparahu. Pada 1910, terjadi erupsi dengan lontaran freatik hingga 2 km. Selanjutnya, pada 2013 juga terjadi kejadian serupa pada bulan Februari dan Oktober.

"Namun dari semua kejadian itu termasuk yang terakhir ini, itu termasuk tingkatan erupsi freatik. Jadi, tidak ada lontaran material seperti bebatuan vulkanik," tuturnya.

Sementara itu, Direktur PT Graha Rani Putra Persada selaku pengelola TWA Gunung Tangkuban Parahu Putra Kaban memastikan pihaknya menutup objek wisata tersebut selama tiga hari sejak Sabtu, 27 Juli 2019. Hal itu berdasarkan instruksi Kapolda Jabar Rudy Sufahriadi yang turun langsung memantau situasi di Tangkubanparahu pada Sabtu lalu.

Menurut Kaban, penutupan tersebut berdasarkan pertimbangan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Pihaknya pun belum mau memikirkan soal untung rugi yang harus diterimanya akibat penutupan tersebut.

“Itikad baiknya kan untuk keamanan, jadi kami ikuti penutupan sementara ini. Sebab, keselamatan pengunjung adalah yang paling utama walaupun kondisi saat ini sudah terlihat tenang," katanya.***

Bagikan: