Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Langit umumnya cerah, 22.1 ° C

Korban Erupsi Gunung Tangkubanparahu 24 Orang

Novianti Nurulliah
ATAP warung di sekitar Kawah Ratu, Sabtu 27 Juli 201,9 tertutup abu vulkanik letusan freatik Gunung Tangkubanparahu, Subang.*/ANTARA
ATAP warung di sekitar Kawah Ratu, Sabtu 27 Juli 201,9 tertutup abu vulkanik letusan freatik Gunung Tangkubanparahu, Subang.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Dinas Kesehatan Jawa Barat menyyatakan, terdapat 24 orang terdampak erupsi Gunung Tangkubanparahu yagn telah ditangani. Selain itu, Dinkes telah menaruh bantuan logistik di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat dengan lokasi kejadian. Bantuan logistik itu di antaranya 1.000 masker agar warga tidak menghirup debu vulkanik yang berbahaya.

Kepala Dinkes Jabar Berli Hamdani Gelung Sakti mengatakan, terkait erupsi Gunung Tangkubanparahu pada Jumat 26 Juli 2019, Dinkes sudah berkoordinasi dengan BPBD serta petugas di faskes yang berada dekat dengan di lokasi kejadian seperti Puskemsas Cikole dan RSUD Lembang.

“Kami langsung meluncurkan logistik berupa masker. Tadi malam sudah kami simpan di lokasi dan kami sampaikan informasi kepada masyrakat agar tetap tenang dan ikuti petunjuk dari petugas yang ada di lapangan,” kata Berli, Sabtu 27 Juli 2019.

KONDISI pintu masuk taman Wisata ALam Gunung Tangkubanparahu, Subang tertutup abu vulkanik, Sabtu 27 Juli 2019.*/ANTARA

Dia mengatakan, 24  orang yang terdampak kebanyakan mengalami sesak napas. Mereka sudah menjalani perawatan di RSUD Lembang.

“Mereka tadi malam sudah pulang. Ada satu orang yang mengalami luka bakar karena berada terlalu deket saat terjadinya erupsi. Tapi kami sekarang tetap turunkan tim, semua ada di lapangan dan kami ikut memantau. Mudah-mudahan erupsi tidak berlanjut,” kata dia.

Berli menuturkan, selain masker, tenaga medis kesehatan siap siaga sudah ada di faskes terdekat dengan Gunung Tangkubanparahu. “Kami juga sudah buat pengajuan ke Kemenkes untuk penambahan logistik sebagai stok,” kata dia.

Masker menjadi prioritas saat ini karena jika abu vulkanik terhirup, akan membahayakan saluran pernapasan karena banyak mengandung partikel yang hanya debu tapi juga logam berat dan gas beracun. “Selain sesak napas, kalau sampai gas beracun terhirup, bisa berdampak fatal,” katanya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, jika masih ada debu vulkanik di sekitar Gunung Tangkubanparahu, warga maupun yang beraktifitas di sekitar lokasi harus memakai masker. ”Tolong dipakai. Saya lihat tadi, radius 500 meter masih tidak boleh ke sana,” kata dia.

Nila Moeloke meminta aparat terkait mengecek kondisi warga sekitar, terlebih jika ada warga yang mengungsi. “Nanti kami lihat apakah ada pengungsi atau tidak, mudah-mudahan masih aman dalam hal ini,” kata dia.***

Bagikan: