Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 19.5 ° C

Aktivitas Kegempaan Gunung Tangkubanparahu Menurun, Warga Beri Kesaksian Soal Tanda-tanda Alam

Yusuf Wijanarko
GUNUNG Tangkubanparahu/ANTARA
GUNUNG Tangkubanparahu/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Tangkubanparahu Hendri Deratama mengatakan, berdasarkan pantauan pergerakan seismograf, masih terjadi tremor antara 1,5 hingga 2 milimeter dan fluktuatif cenderung menurun.

Sebelumnya, kata dia, pukul 4.00 WIB, pergerakan seismograf masih menunjukkan angka 30 milimeter. Dengan demikian, tremor cenderung mengalami penurunan.

"Masih tremor terus-menerus 1,5-2 milimeter dominan 2 milimeter. Ini fluktuatif menurun," kata Hendri di Pos Pengamatan Gunung Api Tangkubanparahu, Sabtu 27 Juli 2019 kepada Antara.

Sekira pukul 9.05 WIB, seismograf sempat menunjukkan terjadinya gempa tektonik. Meski demikian, kata dia, posisi terjadinya gempa masih belum diketahui.

Menurut dia, kemungkinan pergerakan seismograf yang menunjukkan gempa itu terjadi di luar wilayah Subang dan terekam seismograf.

"Itu gempa tektonik, tidak tau di mana, itu tetap terekam di sini," kata dia.

Dia mengimbau masyarakat tidak mendekati kawah aktif dalam radius 500 meter. Adapun kondisi di kawah saat ini masih dipenuhi oleh abu setebal 5 sampai 10 cm akibat erupsi.

Berdasarkan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Gunung Tangkubanparahu yang terletak di Kabupaten Subang masih berpotensi terjadi erupsi karena terekamnya tremor yang berkelanjutan.

Tanda-tanda alam

Pedagang minuman tradisional di Kawah Ratu Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu tidak melihat tanda-tanda alam sebelum gunung itu mengalami erupsi Jumat 26 Juli 2019 sore.

Saat Gunung Tangkubanparahu mengalami erupsi dan melontarkan abu vulkanik yang membuat langit menjadi gelap, Ajat (67) yang sudah berdagang di Gunung Tangkubanparahu sejak 1989 sedang melayani pembeli.

"Saya santai saja, saya tidak panik, saat abu sudah menyebar, saya berinisiatif mengambil kain, dibasahi, lalu mulut dan hidung saya ditutup kain," kata Ajat kepada Antara di Pos Pengamatan Gunung Api Tangkubanparahu, Sabtu 27 Juli 2019.

Ajat mengatakan, dia sudah tiga kali menyaksikan Gunung Tangkubanparahu meletus. Saat gunung itu meletus pada Jumat sore, dia baru meninggalkan area kawah saat melihat asap putih keluar dari kawah.

"Saya tidak berlari, santai saja. Saat melihat kawah meletus, lalu gelap, saya santai dulu, asap keluar putih baru saya keluar," kata dia.***

Bagikan: