Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 24.7 ° C

Pemerintah Diimbau Ambil Langkah Strategis Terkait Penutupan Penerbangan

Yulistyne Kasumaningrum
BANDARA Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR
BANDARA Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

BANDUNG, (PR).- Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jabar Budijanto Ardiansjah menuturkan baru saja ia mendapatkan kabar mengenai ditutupnya penerbangan Citilink rute Palembang (PLM)-Kertajati (KJT) dan sebaliknya. Tidak hanya untuk sementara waktu, rute tersebut ditutup karena sepinya penumpang.

Budijanto menyayangkan hal tersebut, karena sebelumnya rute penerbangan Palembang-Husein Sastranegara merupakan salah satu rute favorit degan tingkat keterisian penumpang yang cukup tinggi.

“Yang dikhawatirkan sejak awal adalah pemindahan penerbangan justru menjadi keluar Jabar dengan kata lain ke bandara lain. Makanya sebelum dilakukan pemindahan (dari Husein Sastranegara ke Kertajati) harusnya dilakukan survey yang tepat,” katanya saat dihubungi Kamis 25 Juli 2019.

Maka melihat akan ditutupnya sejumlah rute penerbangan dari dan menuju Kertajati, Budijanto mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis agar tidak terjadi lagi penutupan rute. Selain tentunya sembari menyelesaikan masalah aksesibilitas yang hingga kini belum terselesaikan.

“Artinya belum ada sebulan sudah ada yang akan tutup, maka ini harus diantisipasi. Ajak maskapai berdiskusi, tahu cari alasannya, serta bantu solusinya. Jangan melihat seolah ini baru satu rute saja, tetapi bagaimana supaya ini tidak berdampak terus menerus. Ajak asosiasi dan industri untuk bicara,” katanya.

Budijanto pun menambahkan, sejak jauh-jauh hari asosiasi telah menyarankan untuk saat ini sebaiknya BIJB lebih baik konsentrasi di penerbangan umrah dan haji, serta kargo sambil menunggu infrastruktur jalan tol tersedia. Jika akses telah terbuka, maka otomatis penumpang yang terbang melalui BIJB akan bertambah.

“Percepat aksesibilitas, mereka yang terbang itu menghitung jarak tempuh sehingga mau dipaksa bagaimanapun akan sulit. Kalau terus dilakukan sebelum infrastruktur ini siap, tak menutup kemungkinan Kertajati tidak jalan, begitu juga Husein sehingga malah yang dapat bandara lain,” katanya.***

 

Bagikan: