Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

Pemkab Bandung Barat akan Lelang untuk Jabatan Staf Ahli

Hendro Susilo Husodo
null
null

NGAMPRAH, (PR).- Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berencana melakukan seleksi terbuka untuk tujuh jabatan tinggi pratama (open bidding), termasuk di antaranya posisi staf ahli. Padahal, di Pemkab Bandung Barat sempat ada staf ahli yang memilih turun jabatan untuk menjadi camat.

Sekretaris Daerah Bandung Barat Asep Sodikin mengatakan, Pemkab Bandung Barat segera memproses kekosongan jabatan eselon II, setelah belum lama ini dilakukan rotasi pejabat eselon II. Ditambah dengan dua kepala dinas yang pensiun tahun ini, maka seleksi terbuka meliputi tujuh jabatan.

"Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) dengan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan akan pensiun tahun ini. Jadi, jabatan itu kami seleksikan juga dengan dinas-dinas yang kosong pimpinannya," kata Asep di kantornya, Ngamprah, Senin, 22 Juli 2019.

Dia menyebutkan, jabatan tinggi pratama yang kosong itu ialah tiga staf ahli, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag), serta Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A).

Menurut Asep, saat ini rencana seleksi terbuka jabatan tinggi pratama itu tengah diproses oleh Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM). Persetujuan atau rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri, kata dia, juga sudah dikantongi. "Sekarang BKPSDM sedang meng-input data ke sistem di Komisi Aparatur Sipil Negara. Input data itu untuk jadwal tahapannya. Kalau oke, baru jadwal open bidding itu dilaksanakan. Saat ini saya belum dapat laporan lagi dari BKPSDM mengenai progresnya," katanya.

Ditanya soal jabatan staf ahli yang turut dilelangkan, Asep menyatakan bahwa Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna bakal menjadikan jabatan tersebut sebagai jabatan yang strategis. Asep pun membantah anggapan miring mengenai posisi staf ahli sebagai "tempat parkir" pejabat eselon II yang tidak terpakai.

"Justru ini yang bagus dari Pak Bupati. Beliau ingin staf ahli bukan jadi tempat buangan. Nanti staf ahli akan punya tugas khusus, fasilitasnya pun dilengkapi. Pak Bupati ingin beri kesempatan, bahwa yang menjadi staf ahli juga punya posisi strategis," katanya.

Sebelumnya, jabatan staf ahli di Pemkab Bandung Barat dianggap sebagai jabatan buangan. Daripada menjadi staf ahli, contohnya, Med Ardiwilaga bahkan rela turun jabatan menjadi camat (pejabat eselon III). Masa pensiun dirinya pun sempat menjadi polemik, karena pejabat eselon II dan pejabat eselon III memiliki batas usia pensiun yang berbeda.***

Bagikan: