Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 25.3 ° C

Informasi Potensi Gempa dan Tsunami Membuat Masyarakat Resah

Dewiyatini
ILUSTRASI gempa berpotensi tsunami.*/ANTARA
ILUSTRASI gempa berpotensi tsunami.*/ANTARA

BANDUNG,(PR).- Beredarnya informasi tentang potensi gempa berkekuatan 8,8 skala richter yang disertai tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan di media sosial, marak juga reaksi keresahan itu dengan rencana evakuasi ke tempat-tempat yang dirasa aman.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian memberikan tanggapan untuk meredakan kekhawatiran masyarakat. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono menjawabnya melalui akun Instagram-nya, @daryonobmkg, pada Sabtu 20 Juli 2019.

Menurut Daryono, masyarakat harus menerima kenyataan, Indonesia rawan gempa dan tsunami. Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat. Dengan demikian, wajar bila wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

Daryono juga memaparkan sejumlah kejadian gempa besar melebihi magnitudo 7,0 yang pernah mengguncang wilayah Samudera Hindia selatan Jawa. “Sebut saja pada 1863, 1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945, 1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006. Selain itu, tsunami juga pernah di selatan Jawa pada 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006,” katanya dalam cuitannya.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi PVMBG Badan Geologi menjelaskan lokasi Indonesia yang berada di titik temu tiga lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia memiliki konsekuensi menjadi areal sumber gempa bumi. Sedikitnya terdapat 252 sumber gempa bumi (patahan aktif) yang telah berhasil diidentifikasi oleh Pusat Gempabumi Nasional (Pusgen). 

Tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia membentuk zona subduksi Sunda, yang merupakan sumber gempa bumi utama, di sepanjang perairan selatan Jawa. Zona subduksi Sunda berpotensi menghasilkan gempa bumi pada kedalaman dangkal. 

“Gempa bumi menengah-besar pada kedalaman dangkal berpotensi memicu kejadian tsunami. Hal ini menyebabkan wilayah pantai selatan Jawa rawan terhadap bencana tsunami,” ucapnya.

Tidak sadar

Selain itu, Sri juga membeberkan 20 kejadian tsunami di pantai Selatan Jawa sejak awal abad ke-20. Tsunami itu dipicu oleh guncangan gempabumi. Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) Banyuwangi (1818, 1925, 1994).

Sedangkan pada 1990-an dan 2000-an, kata Sri, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo M7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal. Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala Mw7.7 yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi 1-6 m dan jarak landaan 100-400 m. 

Sri menyebutkan salah satu karaterisitik penting tsunami di selatan Jawa adalah “tsunami earthquake” yaitu tsunami besar yang dipicu oleh kejadian gempa bumi dengan magnitudo relatif kecil dan goncangan kadangkala tidak terasa. 

“Kejadian tsunami earthquake seperti halnya Tsunami Pangandaran 2006 patut mendapat perhatian lebih karena didahului gempa bumi dengan goncangan lemah sehingga masyarakat sekitar pantai lengah dan tidak sadar terhadap kemungkinan datangnya tsunami,” kata Sri.

Sri menyebutkan potensi tsunami earthquake di pantai selatan Jawa harus mendapatkan perhatian serius karena jenis tsunami ini dapat didahului oleh gempa bumi yang tidak terlalu besar. 

Pihak Badan Geologi, lanjut Sri, telah melakukan upaya mitigasi bencana tsunami dimulai dari penelitian endapan tsunami untuk mengetahui jejak landaan tsunami yang terjadi sebelumnya, dilanjutkan membuat peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) tsunami, dan menyosialisasikannya. 

Sri mengatakan kewaspadaan menghadapi bahaya tsunami, sebaiknya dengan mengenali wilayah pantai rawan tsunami atau tidak. Pantai rawan tsunami adalah pantai yang berhadapan langsung dengan sumber gempa bumi. Karakteristiknya berupa pantai landai, pantai berbentuk teluk, pantai tanpa penghalang alami, dan ada muara sungai yang lebar, dalam dan bentuk sungai lurus).

Sri menyarankan masyarakat juga perlu mengetahui informasi mendirikan bangunan di luar jangkauan terjangan tsunami dan mengetahui tatacara penyelamatan diri, membangun dan mempertahankan hutan pantai dan gumuk pasir yang secara alamiah berfungsi sebagai pemecah gelombang atau membuat bangunan pemecah gelombang. Ditambah lagi dengan membuat pelatihan tata cara menghindari tsunami, merancang Perda / RTRW / RUTR berwawasan bencana tsunami, dan membangun Sistem peringatan dini tsunami.***
 

Bagikan: