Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

Ada Sekolah Berbayar Sampah di Bandung Barat

Cecep Wijaya Sari
SEJUMLAH siswa menunjukkan hasil kerajinan tangan dari eceng gondok di Sekolah Alam Bening Saguling, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.*/CECEP WIJAYA SARI/PR
SEJUMLAH siswa menunjukkan hasil kerajinan tangan dari eceng gondok di Sekolah Alam Bening Saguling, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.*/CECEP WIJAYA SARI/PR

AWALNYA, Bayu (12) tidak pernah membantu orangtuanya membersihkan lantai di rumah. Selain malas dan takut kotor, ia memang tak begitu peduli kebersihan.

Namun belakangan, sikap anak berkaca mata itu berubah. Sepulang sekolah, ia rajin menyapu dan mengepel lantai. Tak hanya itu, ia bahkan mengumpulkan sampah untuk dibawa ke sekolahnya.

"Memang PR di sekolah ini ya menyapu dan mengepel, terus ngumpulin sampah juga," katanya di Sekolah Alam Bening Saguling, Kampung Babakancianjur, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.

Lulusan SD negeri di Cihampelas ini memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah alam tersebut. Selain dekat dengan rumah, sekolah itu mengajarkannya berbagai hal, termasuk kecintaan terhadap alam dan lingkungan sekitar.

Bayu mendapatkan berbagai keterampilan baru di antaranya membuat tanaman aquaponik dengan media tanam eceng gondok. Dengan cekatan, ia memeragakan cara menanam dengan sistem aquaponik.

"Untuk potnya, bisa memakai botol plastik bekas. Lalu, isi dengan biji-bijian dan disiram dua kali sehari. Ini bisa tumbuh dan dipanen dalam waktu tiga minggu," katanya.

SEJUMLAH siswa menunjukkan hasil kerajinan tangan dari eceng gondok di Sekolah Alam Bening Saguling, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.*/CECEP WIJAYA SARI/PR

Guru Literasi Sekolah Alam Bening Saguling Edi Juharna mengatakan, sekolah alam tersebut baru dibuka tahun ini. Sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Bening Saguling milik Indra Darmawan itu didirikan dengan didasari kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Menurut dia, sekolah di tepian Sungai Citarum itu bukan hanya diprioritaskan bagi warga sekitar, tetapi juga menerima warga dari luar daerah.

"Untuk warga sekitar, sekolah ini digratiskan. Mereka hanya perlu mengumpulkan sampah sebagai pengganti uang sekolah. Makanya, ini disebut sekolah berbayar sampah," katanya.

TKdan SMP

Di sekolah tersebut, para siswa memang dididik untuk bisa menjaga kebersihan lingkungan di antaranya dengan membersihkan, mengumpulkan, memilah, dan mengolah sampah.

Tak hanya itu, mereka juga diberi keterampilan mengolah eceng gondok menjadi berbagai kerajinan seperti tas, tempat tisu, tempat laptop, dan lain-lain. Eceng gondok yang sering dianggap sebagai tanaman pengganggu tersebut diperoleh dari Sungai Citarum di sekitar sekolah.

Saat ini, menurut Edi, sekolah tersebut dibuka untuk tingkat TK dan SMP. Hal itu dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan warga sekitar lantaran lembaga pendidikan untuk kedua tingkatan tersebut masih minim.

"Kalau untuk SD, itu di sini sudah banyak sehingga kami hanya buka TK dan SMP. Soal kurikulum, kami sesuaikan antara kurikulum mandiri dan nasional," ujarnya.***

Bagikan: