Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 18.2 ° C

Gempa Kuat Sesar Lembang Mengintai Bandung

Tim Pikiran Rakyat
PAPAN informasi zona Sesar Lembang mulai dipasang di beberapa titik sebagai penanda lokasi Sesar Lembang. Salah satunya di Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.*/JULIA ALAZKA/BBC NEWS INDONESIA
PAPAN informasi zona Sesar Lembang mulai dipasang di beberapa titik sebagai penanda lokasi Sesar Lembang. Salah satunya di Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.*/JULIA ALAZKA/BBC NEWS INDONESIA

NGAMPRAH, (PR).- Teti Hadiyati terlihat antusias ketika memandu belasan orang warga Desa Lembang, Kabupaten Bandung, menyanyikan lagu.

Syair lagu itu terdengar, "Satu-satu, awas ada gempa. Dua-dua, lindungi kepala..."

"... Tiga-tiga, menuju titik kumpul. Satu, dua, tiga, selamat semuanya..." .

Teti adalah satu dari dua perempuan anggota relawan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang aktif menyosialisasikan kesiapsiagaan bencana gempa Sesar Lembang.

Di hadapan warga RW 10, Desa Lembang, akhir April lalu, Teti dan rekannya Ai Sukaesih, menyosialisasikan dan simulasi bencana gempa - termasuk menyanyikan lagu itu - guna mengantisipasi bencana gempa.

Mereka menyampaikan materi sosialisasi melalui paparan langsung, leaflet, buku panduan, serta - tentu saja - lagu.

Maklum saja, masyarakat desa itu tinggal dan beranak-pinak di kawasan berpotensi menimbulkan gempa berkekuatan kuat, karena dilalui sesar atau patahan yang diyakini aktif.

Warga terlihat antusias menyimak penjelasan Teti dan Ai Sukaesih, sesama relawan yang siang itu mengenakan kerudung oranye dan kaos hitam bertuliskan Avengers.

Avengers di sini bukanlah kelompok superhero asal Amerika, tapi komunitas relawan siaga bencana bentukan BNPB yang anggotanya adalah warga setempat.

"Avengers itu superhero yang selalu siap dalam menanggulangi bencana. Siap, selalu tangguh!" kata Teti, setengah berteriak.

Panggilan jiwa

Umur Teti tidak muda lagi. Usianya menginjak 54 tahun. Tapi ia rela turun sebagai relawan karena "panggilan jiwa".

"Saya sebagai relawan Avengers itu panggilan jiwa karena mendengar di sini ada Sesar Lembang. Wallahualam kapan (gempa) terjadinya, mungkin banyak korban.

"Intinya, ingin membantu, yang betul-betul membutuhkan tenaga anggota relawan, untuk membantu masyarakat yang terkena bencana," katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Julia Alazka.

Tidak semua anggota Avengers Lembang ini pria muda berotot, tapi juga perempuan paruh baya, seperti Endang Hidayat yang usianya mendekati 70 tahun dan Tamim 62 tahun.

"Selama sehat saya akan tetap berbakti kepada yang memerlukan bantuan. Daripada bengong di rumah sendirian, karena saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi," kata Endang.

Avengers lokal ini terbentuk pada 2016 usai mengikuti kegiatan pelatihan siaga bencana di tingkat kecamatan di Kabupaten Bandung. Sebanyak 30 relawan direkrut dan mereka kemudian membentuk komunitas relawan.

Warga Desa Lembang yang mengikuti sosialisasi kebanyakan perempuan yang membawa serta anak-anaknya. Menurut Teti, perempuan memang menjadi target sosialisasi.

"Kemarin datang ke ibu-ibu majelis taklim, ke sub-sub KB yang ada di lingkungan kita, kita sosialisasikan tentang kesiapsiagaan bencana," ungkapnya.

Menjadi guru

Hal itu selaras dengan tema Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2019, "Perempuan menjadi guru siap siaga bencana. Rumah menjadi sekolahnya."

Perempuan, kata Wisnu Widjaja, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BNPB, adalah strategi untuk menyebarkan pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana.

"Karena perempuan meskipun mungkin secara tenaga fisik rentan, tetapi semangat dia untuk melindungi itu tinggi sekali.

"Kalau itu bisa kita berdayakan dengan cara memahami, kemudian juga bagaimana cara menyelamatkan diri, dia pasti juga akan menyampaikan ke yang lain, dan itu terbukti," ujar Wisnu.

Sekarang ini, kata Wisnu, ada "ribuan ibu-ibu" yang telah dilatih untuk mengantisipasi gempa Sesar Lembang. Diharapkan melalui peran kaum ibu, pemahaman kesiapsiagaan bencana lebih meluas.

Apa komentar warga Desa Lembang usai mengikuti sosialisasi gempa Sesar Lembang?

"(Panik) ya pasti (tetap) ada, tapi harus dihadapi dengan tenang, siap siaga. Jangan terlalu paniklah karena kita sudah tahu, sudah ada pengarahan bahwa daerah kita ini mungkin atau kapan saja (terjadi gempa)," ungkap Popon Lasmaya, warga Desa Lembang, usai mengikuti simulasi gempa.

"Ya, mudah-mudahan enggak terjadilah," tambahnya.

Bergerak aktif

Popon Lasmaya adalah satu dari sekian orang warga Desa Lembang yang menyadari ancaman gempa yang membayangi keseharian warga Desa Lembang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Wilayah desa itu berada dekat dengan Sesar Lembang, yang menurut para ahli, berpotensi menimbulkan gempa dengan kekuatan magnitudo enam hingga delapan.

Terlebih lagi, sesar atau Patahan Lembang dilaporkan terus bergerak aktif dengan rata-rata pergerakan mencapai empat milimeter per tahun.

Dan kajian ahli menyebutkan sesar ini telah berada di tahap akhir siklus gempa bumi, yang artinya ancaman gempa bisa datang kapan saja.

Sesar Lembang memiliki panjang 29 kilometer, yang membentang dari Barat ke Timur, dimulai dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, hingga Manglayang, Kabupaten Bandung.

Jika terjadi pergerakan patahan, demikian para ahli gempa, dampaknya bisa dirasakan di dua kota dan empat kabupaten, yakni Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Subang, dan Sumedang.

Meski Kota Bandung relatif jauh dari Sesar Lembang, tapi dampak guncangan akan sama kuat dengan dengan lokasi di dekat patahan, kata peneliti gempa.

Danau purba

"Kondisi tanah di wilayah Bandung Raya ini labil karena bekas danau purba, sehingga guncangannya akan sama kuat dengan wilayah yang dekat dengan Sesar Lembang," kata Mudrik Rahmawan Daryono, Peneliti gempa Puslit Geoteknologi LIPI.

Dengan intensitas guncangan mencapai kekuatan magnitudo 6,0 hingga 8,0 dan kondisi tanah yang labil, gempa Sesar Lembang dapat dikategorikan merusak, meski hal itu juga tergantung pada kekuatan bangunan dan infrastruktur, kata peneliti.

Berdasarkan statistik, Rahma mengungkapkan, gempa yang intensitas guncangan 6,0 ke atas bisa mengakibatkan 1% korban meninggal dunia dan 3% korban luka.

Namun angka itu masih sangat umum, karena harus menghitung pula faktor lainnya, seperti ketahanan bangunan dan kesiapan masyarakatnya, katanya.

"Kita juga belum punya contoh masyarakat yang sudah siap dan kemudian terkena gempa, sehingga agak sulit mengukur dan menyamakan statistik di setiap lokasi," kata Rahma.

Menurutnya, justru contoh masyarakat yang belum siap dan kontruksi bangunan yang tidak tahan gempa, seperti yang terjadi pada gempa di Yogya pada 2006.

Dengan kekuatan magnitudo 6,5 kerusakannya sangat parah dan jumlah korbannya pun sangat banyak hingga mencapai 6.000 orang, ungkapnya.

Menurut Rahma, Indonesia bisa belajar dari Jepang atau Selandia Baru yang bisa bertahan hidup dengan intensitas gempa berkekuatan magnitudo 6,0.

"Sehingga saya meyakini, jika kita bisa segera mengupayakan bangunan-bangunan tahan gempa, mungkin dampaknya tidak terlalu signifikan," katanya.

"Tetapi, apabila kondisinya masih seperti sekarang dengan kontruksi yang kurang baik, khawatir yang bisa terjadi dampaknya seperti gempa Yogya," tambah Rahma.

Namun tidak semua warga di enam kota kabupaten yang dilewati Sesar Lembang memahami ancaman gempa tersebut.

Tak ada persiapan

"Sudah lama beredar kabar (gempa Sesar Lembang) itu, sejak gempa di Palu. Itu berita beneran, apa hoaks sih? Meresahkan," kata Eppy, warga Buah Batu, Kota Bandung.

Lantaran belum yakin ada ancaman gempa Sesar Lembang, pegawai bank swasta ini tak mempersiapkan apapun untuk menghadapi bencana yang datangnya sulit diprediksi itu.

Eppy juga mengaku belum pernah mengikuti simulasi gempa, baik di lingkungan rumah, maupun kantor.

"Pernahnya simulasi kebakaran," kata ibu dua anak ini.

Tak beda jauh dengan Eppy, Apep Hidayat juga mengaku tidak mempersiapkan diri menghadapi bencana gempa.

Padahal, Apep tinggal di Batulonceng Lembang, yang dilewati Sesar Lembang. "Enggak ada persiapan apa-apa, namanya bencana alam bisa datang kapan saja," kata Apep.

Peneliti Puslit Mitigasi Bencana ITB, Rahma Hanifa menyebutkan, kesadaran warga di Bandung dan sekitarnya akan ancaman gempa Sesar Lembang masih minim, karena belum ada pengalaman gempa yang merusak.

"Di satu sisi banyak masyarakat yang sudah aware, tapi di sisi lain masih banyak masyarakat yang masih merasa 'kita tidak berada di dalam ancaman gempa'. Jadi, gempa 'nggak mungkin terjadi di Kota Bandung'," kata Rahmawan.

"Ini masih jadi persepsi yang banyak (dianut) masyarakat. Kenapa? Karena dalam masa hidup kakek-nenek kita yang tinggal di Bandung, belum pernah mengalami gempa yang sangat merusak, mungkin terjadi gempa dari tempat-tempat yang jauh seperti Tasik yang berdampak di Kota Bandung," ujar Rahma, yang juga terlibat aktif di BNPB ini.

Berbeda dengan sikap warga yang pernah merasakan gempa yang kuat, seperti warga Cisarua yang pada 2011, rumah mereka rusak akibat gempa, katanya.

Menurutnya, pengalaman itu membuat mereka lebih siap dan siaga menghadapi kemungkinan terjadinya bencana serupa.

"Jadi pengalaman seseorang terhadap gempa, ternyata sangat mempengaruhi seseorang bagaimana mereka menyikapi kesiapan terhadap gempa. Seseorang yang tidak mengalami gempa secara langsung lebih cenderung merasa gempa jauh tidak berada di dekat kehidupannya," papar Rahma.***
 

Bagikan: