Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Waspadai Keracunan pada Ikan Budidaya Tambak Saat Musim Kemarau

Ririn Nur Febriani
*/DOK. PR
*/DOK. PR

 

CIMAHI, (PR).- Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Bandung, mengingatkan potensi keracunan ikan tambak yang juga bisa membahayakan manusia. Perubahan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau bisa memicu matinya ikan di keramba atau di jaring apung.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau banyak kasus kematian ikan di keramba atau jaring apung yang dugaannya karena keracunan. Terutama banyak terjadi di Kabupaten Bandung Barat, kalau di Cimahi jarang," ujar Kepala BKIPM Bandung, Deddy Arief Hendriyanto, Senin, 15 Juli 2019.

Penyebab matinya ikan di keramba atau jaring apung itu, kata Deddy, akibat perubahan cuaca. Kondisi air di sungai tempat ikan dibudidayakan jadi kelebihan kadar amonia dan kekurangan kadar oksigen yang membuat ikan keracunan.

"Ikan mengalami kematian karena disinyalir adanya non infectious disease, jadi bukan karena penyakit, bakteri, maupun virus. Kalau diperiksa di bagian insang, nanti bisa ditemukan cacing insang," ucapnya.

Peningkatan kadar amonia dalam air juga bisa disebabkan karena pengendapan pakan ikan yang biasanya menggunakan pelet atau pakan ikan buatan sendiri. "Karena pengendapan pakan itu, ketika hujan turun pakan akan mengapung ke atas, sedangkan pakan sudah mengendap sejak lama dan mengeluarkan gas. Jadi itulah yang menyebabkan ikan keracunan," bebernya.

Pihaknya menghimbau masyarakat yang membudidaya ikan di jaring terapung maupun di medium lain, agar senantiasa membersihkan sisa pakan ikan yang mengendap. "Penanganan sebisa mungkin melakukan pembersihan sisa pakan ikan yang mengendap dari sekarang. Angkat jaringnya atau dengan upaya lainnya," jelasnya. 

Ikan yang mati keracunan tidak laik untuk dikonsumsi. "Sebab bisa menyebabkan keracunan juga pada pengonsumsi. Bisa saja ada oknum yang menjual ikan mati karena keracunan ke pasar, lalu dibeli dan dikonsumsi masyarakat yang bisa kena dampaknya," tuturnya.***

Bagikan: