Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 25.3 ° C

Sudah tidak Miskin Lagi, Enam Warga Mundur dari PKH

Tim Pikiran Rakyat

FOTO ilustrasi program keluarga harapan  (PKH).*/ANTARA
FOTO ilustrasi program keluarga harapan (PKH).*/ANTARA

SOREANG, (PR).- Sedikitnya 6 warga dari keluarga penerima manfaat (KPM) pada program keluarga harapan (PKH) di sejumlah desa di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung mundur (graduasi) dari kepesertaan KPM yang digulirkan pemerintah pusat dengan sasaran warga miskin tersebut, Senin 15 Juli 2019.

Mereka mundur dari kepesertaan KPM tersebut dengan alasan ekonominya sudah lebih baik dari sebelumnya. Mundurnya pun atas kesadaran sendiri. 

Keenam kepesertaan KPM PKH itu, di antaranya Imas (43) warga Kampung Rancajigang Desa Padamulya Kecamatan Majalaya. Neng Karmila (37) warga Kampung Buahjajar RT 04/RW 06 Desa Bojong Kecamatan Majalaya. Popi Hoerunnisa (32) warga Kampung Cangkuang RT 01/RW 06 Desa Biru.
Tiga KPM lainnya, yakni Aning Sulastri (55) dan Ai Suryati (40), keduanya warga Kampung Pajagalan RT 05/RW 04 Desa Majakerta. Satu lagi Yati Maryati (50) warga Kampung Pajagalan RT 04/RW 04 Desa Majakerta. 

Pendamping Desa Padamulya Dian Handayani, S.Sos., menyatakan, anggota KPM atas nama Imas mengundurkan diri dari kepesertaan KPM PKH itu dengan alasan sudah mampu secara ekonomi. Selain itu, kepala keluarganya bekerja di pabrik dan membuka usaha layanan pengiriman uang melalui jaringan online. 

"Sebelumnya, Bu Imas masuk kepesertaan KPM pada 2016 dengan tanggungan satu anak, yaitu siswa kelas 7 SMPN 1 Pacet atas nama Hera Srirahayu. Setiap tahapnya menerima Rp 375.000. Bu Imas mundur dari KPM memasuki tahap keempat pencairan PKH. Tetapi tahap ketiga lalu, Bu Imas masih menerima bantuan dari PKH tersebut," kata Dian didampingi Pendamping Desa Bojong Nida Febriani, S.E., M.M., dan Pemdamping Desa Biru Zikri Hakim di Sekretariat PKH Kecamatan Majalaya, Senin siang.

Begitu juga yang dialami anggota KPM Neng Karmila. Menurut Pendamping Desa Bojong Nida Febriani, sebelum mundur dari kepesertaan KPM, Neng Karmila memiliki  tanggungan siswa SD, SMA dan balita. 

"Neng Karmila masuk kepesertaan KPM sejak 2016, dengan menerima Rp 1,3 juta per tahap. Karena sudah mampu secara ekonomi, kepesertaan KPM ini mundur dari PKH dengan kesadaran sendiri. Dalam keseharian, Neng Karmila buka usaha konveksi dengan pendapatan Rp 5 juta  sampai Rp 10 juta per bulan. Kepesertaan KPM ini mundur memasuki tahap keempat tahun ini," katanya kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih.

Potong rambut

Sementara itu Pendamping Desa Biru Zikri Hakim turut mengapresiasi dengan mundurnya Popi Hoerunissa dari kepesertaan KPM PKH. Popi mundur dari KPM memasuki tahap keempat tahun ini. 
"Sementara dalam kesehariannya, Bu Popi memiliki  tanggungan anak usia dini 2 orang, SD 1 orang dan SMP 1 orang. Setiap tahap menerima Rp 1,8 juta dengan empat kategori. Namun saat ini, Popi dengan kesadaran sendiri mundur dari KPM PKH," ucap Zikri Hakim.

Ia mengatakan, rasa percaya diri yang dilakukan Popi itu, setelah dirinya buka usaha potong rambut di Ciparay. Dalam sehari mendapatkan keuntungan bersih Rp 150.000. 
"Karena kehidupannya lebih baik, sehingga mengundurkan diri dari KPM. Bu Popi beserta keluarganya bisa hidup mandiri, setelah 2017 masuk KPM," ujarnya.

Rasa percaya diri juga ditunjukkan Aning Sulastri, Ai Suryati, dan Ati Maryati, ketiganya warga Kampung Pajagalan Desa Majakerta. "Setelah mereka masuk kepesertaan KPM PKH 2009 dan 2010, saat ini mereka sudah tak lagi sebagai anggota KPM," tutur Pendamping Desa Majakerta Mahpud, S.Hi. 

Mahpud mengatakan, Aning Sulastri mundur dari KPM pada tahap 2 tahun ini. "Bu Aning mundur dari KPM setelah anaknya lulus Polri, selain sudah memiliki rumah bagus dan memiliki usaha warungan," katanya. 

Berbeda dengan Ai Suryati, katanya, karena sudah memiliki  rumah bagus dan membuka usaha jongko kecil, sehingga ekonominya sudah merasa cukup. "Sebenarnya, anggota KPM ini masih memiliki tanggungan SD 1 orang dan SMA 1 orang setelah masuk KPM 2010 dan mundur tahap 2 lalu," jelasnya.

Sementara itu, kata Mahpud, Yati Maryati mundur dari KPM pada tahap ketiga tahun ini, setelah masuk KPM 2010. Yati memiliki tanggungan SMP 1 orang dan SMA 1 orang. "Saat ini, Bu Yati buka usaha warungan dan usahanya cukup bagus," pungkasnya.***

Bagikan: