Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Musim Kemarau, Pasokan Air PDAM Digilir

Muhammad Fikry Mauludy
*/DOK. PR
*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Sejumlah warga Kota Bandung mulai mengalami kesulitan air PDAM. Di Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, beberapa warga terkena giliran distribusi air dari PDAM Tirtawening Kota Bandung.

“Biasanya air ngalir dua hari sekali. Kadang kalau dari pagi ditunggu, keluarnya sedikit. Kadang sebentar ada, terus mati lagi. Setelah sore baru lumayan. Sudah lama kayak gini,” tutur Omah (50), warga Kelurahan Babakan Asih, saat ditemui di rumah tinggalnya, Senin, 15 Juli 2019.

Ia mengaku kesulitan mengakses air bersih, terutama saat musim kemarau seperti sekarang. Berbeda dengan tetangga lainnya yang memiliki persediaan air cadangan dari sumur, Omah bergantung pada pasokan air PDAM.

Ia berharap layanan air bersih itu bisa mengalir lancar setiap hari. Di Kelurahan Ancol, Kecamatan Regol, pasokan air PDAM juga naik-turun. Ketua RT 03/RW 01, Kelurahan Ancol, Kecamatan Regol, Budi Z. mengatakan, beberapa warga mulai melaporkan pasokan layanan air bersih yang mulai berkurang semenjak kemarau.

“Sudah beberapa hari memang tidak normal (pasokan air PDAM). Enggak seperti biasa. Semenjak kemarau,” ujarnya.

Dari laporan warga, kata dia, ada beberapa yang mengalami kekurangan pasokan air pada jam-jam tertentu. Mereka pun mulai coba-coba memprediksi jadwal distribusi air, meskipun harus menunggu hingga dini hari.

“Kalau kekurangan air, mereka coba-coba mulai sedot airnya pada jam tertentu. Kadang-kadang jam 2 atau jam 5 subuh,” katanya.

Sementara Budi telah menyiasati kemarau dengan membangun tangki penampungan yang ditanam di bawah garasinya. Pasokan air PDAM dibiarkan mengalir dan diatur pelampung otomatis saat tangki penuh.

Meski begitu, berkurangnya pasokan air juga sudah ia rasakan. Konsumsi listrik bertambah karena fungsi pompa bergantung pada pasokan air.

“Biasanya (alirannya) gede, jadi berkurang. Listrik naik karena ngisinya (tangki) kan lama. Saya gunakan air ledeng cuma untuk minum. Sementara yang lain kan betul-betul mengandalkan air ledeng, karena ada yang tidak punya penampungan sama pompa. Jadi karena kurang, ada warga yang harus beli air,” ujarnya.

Giliran

Kepala Sub Bidang Humas PDAM Tirtawening, M. Indra Pribadi mengatakan, saat ini kondisi untuk air di Badak Singa masih cukup normal. Debit masih normal di angka 2.400-2.600 liter per detik. Namun, untuk kemarau sudah mulai terasa dari air baku sudah mulai menurun. Ada penurunan dari Situ Cipanunjang hampir 5 meter dari kapasitas 21 meter.

“Untuk masyarakat yang mengalami keluhan biasanya bersifat kasuistik. Tinggal melaporkan ke petugas wilayah pelayanan terdekat. Penggiliran itu kewajiban dari wilayah pelayanan terkait. Ada yang memang satu hari sekali, dua hari sekali. Di musim kemarau ini kita berharap masyarakat berhemat air dan memiliki penampungan untuk penyimpanan air,” ujarnya.

Indra menambahkan, PDAM Tirtawening juga mengantisipasi dengan memberikan pelayanan tangki air minum bagi warga yang membutuhkan. Penyediaan tangki air minum ini bersifat gratis sebagai bagian dari pelayanan PDAM Tirtawening Kota Bandung kepada para pelanggan. Warga yang membutuhkan dapat berkelompok 5-10 kepala keluarga dan berkoordinasi dengan petugas wilayah pelayanan.

Warga yang menginginkan layanan ini bisa menghubungi petugas wilayah di nomor 022-2503031 untuk wilayah utara, dan 022-7204227 untuk wilayah timur. Petugas akan mengirimkan tangki air minum berukuran 5000 meter kubik atau 3000 meter kubik sesuai kebutuhan warga.

“Syaratnya warga harus memesan secara kolektif. Kalau memesan perorangan, ada pembiayaan sendiri. Kalau kolektif gratis, setelah itu nanti kami minta ada koordinator warga. Setelah kami antarkan tangki itu, koordinator warga ini yang akan mengatur pembagiannya kepada warga. Satu tangki bisa untuk 5-10 rumah,” ujar Indra.***

Bagikan: