Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 18.6 ° C

Angkot Keluhkan Rekayasa Jalan Sukajadi

Muhammad Fikry Mauludy
PETUGAS Dinas Perhubungan memberikan arahan kepada pengendara yang mencoba memutar ke arah menuju Jalan Sukajadi bawah, Kota Bandung, Kamis, 11 Juli 2019. Pemerintah Kota Bandung bersama Polrestabes Bandung melaksana­kan rekayasa lalu lintas kawasan Sukajadi, Cipaganti, dan Setiabudi menjadi satu arah sebagai upaya untuk mengurai ke­macetan yang terjadi khususnya saat akhir pekan.*/ARIF HIDAYAH/PR
PETUGAS Dinas Perhubungan memberikan arahan kepada pengendara yang mencoba memutar ke arah menuju Jalan Sukajadi bawah, Kota Bandung, Kamis, 11 Juli 2019. Pemerintah Kota Bandung bersama Polrestabes Bandung melaksana­kan rekayasa lalu lintas kawasan Sukajadi, Cipaganti, dan Setiabudi menjadi satu arah sebagai upaya untuk mengurai ke­macetan yang terjadi khususnya saat akhir pekan.*/ARIF HIDAYAH/PR

BANDUNG, (PR).- Sopir angkot yang terkena dampak dari rekayasa kawasan Sukajadi-Setiabudhi-Cipaganti melakukan aksi mogok beroperasi, di Taman Bundaran Sukajadi, Jumat, 12 Juli 2019. Melalui musyawarah dengan Polrestabes dan Dinas Perhubungan Bandung, kumpulan sopir dari sejumlah trayek akhirnya menerima penerapan jalur baru sampai kepastian rute ditentukan pada akhir masa uji coba.

Sopir angkot yang terdampak menganggap rekayasa jalur telah mempersulit operasional angkot akibat sejumlah pengalihan rute. Pengemudi dihadapkan pada bertambahnya trayek yang harus bersaing mengangkut penumpang, terutama di Jalan Sukajadi.

“Kami enggak enak. Masa kita harus bertengkar setiap hari. Sopir angkot masih menjaga kondusifitas di jalur ini. Ini semua dari beda-beda trayek. Kami berkumpul biar tidak ada gesekan,” ujar Dede (45), sopir angkot trayek Sederhana-Buahbatu, di Jalan Sukajadi.

Setelah rekayasa diberlakukan, trayek angkot yang melintas Jalan Sukajadi bertambah dari 7 trayek menjadi 11 trayek. Dengan perubahan baru itu, kata Dede, rute yang harus ditempuh semakin jauh. Rute mobil yang biasanya mengarah ke sejumlah kantong penumpang diarahkan naik ke jalan layang Pasupati.

“Kalau kami lewat Balubur jadi nambah rute, biaya, sedangkan penumpang tidak ada. Kalau bisa dikembalikan lagi rutenya ke semula,” katanya.

Kondisi serupa dialami Dedi (42), sopir angkot jurusan Kebon Kalapa-Sukajadi. Pengalihan rute yang diarahkan ke jalan layang Pasupati memunculkan pertemuan dengan trayek yang selama ini tidak bersinggungan.

“Jarak tempuh semakin jauh karena harus ke atas jalan layang. Pas turun jadi ketemu Caringin-Sadangserang, sama Cisitu-Tegallega,” ujarnya.

Penumpang angkot juga ikut kesulitan. Neneng (46), warga Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kebingungan menentukan angkutan umum yang harus digunakan menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Biasanya ia bisa dengan mudah mengakses gerbang RSHS sesaat turun dari Damri yang ia tumpangi dari Ledeng. Kali ini, ia terpaksa turun di Cipaganti.

“Saya enggak tahu dari Cipaganti pakai angkot apa lagi. Jadinya jalan kaki. Padahal ini lagi mengantar yang sakit,” tuturnya.

Mencari formula

Selepas diskusi dengan perwakilan angkot, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Ricky Gustiadi mengatakan, mereka telah bersepakat untuk mengevaluasi bersama perubahan yang terjadi setiap hari. Setelah 7 hari masa uji coba, perhimpunan perwakilan angkutan umum yang berada di Forum LLAJ akan membahas penetapan rute baru sesuai kebutuhan di lapangan.

“Nanti dari hasil evaluasi, di situlah kita akan buat kesepakatan yang pasti antara komunitas, koperasi, dan di bawah Organda, bersepakat rute seperti apa untuk mengakomodir semuanya. Aspirasinya kan supaya rute tidak tumpang tindih, rute tidak lebih jauh. Nanti jika rute yang diubah, bukan ujung-ujung trayeknya. Tetap, misalnya Ciumbuleuit-St. Hall. Cuma berbeda lintasannya,” ujarnya.

Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza menuturkan, hari kedua terpantau masih berjalan seperti hari sebelumnya. Meskipun mobil luar kota sudah memasuki Bandung seperti akhir pekan biasanya, Jalan Sukajadi dan Cipaganti masih tergolong lancar.

“Besok masih tetap dipantau. Makanya kita laksanakan uji coba itu di hari Kamis supaya kita bisa melihat saat weekday atau weekend. Setiap pukul 16.00 kita melakukan evaluasi. Masih ada potensi (perubahan) lain. Karena kita sedang mencari formula yang pas. Kita melakukan plotting personel di beberapa titik. Tidak hanya di kawasan rekayasa juga di kawasan-kawasan yang berdampak,” ujarnya.***

Bagikan: