Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 20.7 ° C

Cicalengka Punya Dua Bangunan Bersejarah dari Zaman Hindia Belanda

Tim Pikiran Rakyat
RUMAH dinas patih di Jalan Dewi Sartika, Cicalengka/AZIZ ALI HAERULLOH
RUMAH dinas patih di Jalan Dewi Sartika, Cicalengka/AZIZ ALI HAERULLOH

CICALENGKA, pada zaman Hindia Belanda,tahun 1896, merupakan sebuah afdeeling dari Regentschap Bandong. Afdeeling merupakan daerah setingkat Kecamatan saat ini sedangkan regentschap adalah kabupaten.

Seperti daerah lainnya, Cicalengka juga memiliki beberapa bangunan dari masa Hindia Belanda. Setidaknya ada dua bangunan yang masih mempertahankan gaya arsitektur kolonial-lokal, para sejarawan menyebutnya sebagai Indische Empire Stijl. Dua bangunan itu adalah kantor kepatihan Tjijalengka dan rumah dinas Patih Tjijalengka.

Perpaduan antara gaya arsitektur Belanda dan lokal tercermin dari kombinasi atap tumpang dengan langit-langit kantor yang tinggi disertai jumlah jendela yang banyak dan berukuran besar. Kombinasi itu dilatarbelakangi orang Belanda yang tidak biasa hidup di daerah tropis. Mereka melakukan beberapa penyesuaian di tempatnya bekerja yaitu gedung pemerintahan dengan membuat ventilasi yang besar dan banyak guna menjaga suhu di dalam ruangan tetap sejuk dan nyaman.

KANTOR Kecamatan Cicalengka menenpati bekas kantor Kepatihan Tjijalengka dan masih mempertahankan gaya arsitektur warisan zaman Hindia Belanda/AZIZ ALI HAERULLOH

Tjijalengka pada awal abad ke-20 dipimpin seorang patih dalam hubungan tata pemerintahan kaum pribumi. Kedudukan patih berada di bawah bupati dan kedudukan tertinggi dalam pemerintahan pribumi (Inlandsch Bestuur) adalah bupati.

Afdeeling Tjijalengka membawahkan beberapa distrik yaiu Tjipeudjeuh, Madjalaya, Tjimbanganten, Tjikemboelan, Tjijalengka, dan Baloeboer Limbangan.

Kedua bangunan yaitu kantor kepatihan Tjijalengka dan rumah dinas Patih Tjijalengka memiliki nilai historis bagi pergerakan emansipasi perempuan pribumi yang diinisiasi Raden Dewi Sartika.

Raden Dewi Sartika, pada masa anak-anak pernah hidup di bawah asuhan pamannya, Raden Aria yang saat itu menjabat sebagai Patih di Tjijalengka.

Halaman belakang kantor kepatihan dia jadikan sebagai “ruang belajar” bagi anak-anak pegawai rendahan di Kepatihan. Saat itu,  sikap diskriminatif dalam bidang pendidikan bagi kaum pribumi non-bangsawan oleh pemerintah kolonial masih kuat.

Raden Dewi Sartika kecil, sepulang sekolah mengajari mereka belajar membaca huruf latin, bahasa Belanda, dan menghitung.

Karena alasan itulah, dua bangunan itu memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan penting bagi warisan budaya Indonesia khususnya Kabupaten Bandung. Rumah Dinas Patih dan Kantor Kepatihan Tjijalengka menjadi titik awal perjuangan Raden Dewi Sartika untuk mendirikan Sakola Istri di Bandung. (Aziz Ali Haerulloh)***

Bagikan: