Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Mahasiswa Telkom University Ciptakan Alat Deteksi Kualitas Air Citarum

Ecep Sukirman
DANSEKTOR 6 Satgas Citarum Harum Kolonel inf. Yudi Zanibar (kanan) didampingi salah satu perwakilan mahasiswi Telkom University menunjukkan alat pengukur kualitas air saat dilakukan uji coba di aliran Sungai Citarum Sektor 6 di Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Senin, 8 Juli 2019. Alat pengukur kualitas air itu merupakan proyek kerja sama yang dilakukan antara Telkom University dengan salah satu universitas di Korea Selatan yang saat ini melakukan riset di Sungai Citarum.*/ECEP SUKIRMAN/PR
DANSEKTOR 6 Satgas Citarum Harum Kolonel inf. Yudi Zanibar (kanan) didampingi salah satu perwakilan mahasiswi Telkom University menunjukkan alat pengukur kualitas air saat dilakukan uji coba di aliran Sungai Citarum Sektor 6 di Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Senin, 8 Juli 2019. Alat pengukur kualitas air itu merupakan proyek kerja sama yang dilakukan antara Telkom University dengan salah satu universitas di Korea Selatan yang saat ini melakukan riset di Sungai Citarum.*/ECEP SUKIRMAN/PR

SOREANG, (PR).- Upaya rehabilitasi Sungai Citarum terus menyedot perhatian setiap pihak, salah satunya dari kalangan akademisi. Tidak sekedar dari akademisi dalam negeri melalui program kuliah kerja nyata (KKN) tematik, upaya rehabilitasi Sungai Citarum pun datang dari kolaborasi antara mahasiswa Telkom University dengan mahasiswa dari salah satu universitas asal Korea Selatan.

Ketua kolaborasi mahasiswa Telkom University Prasetya Dwiwibawa mengatakan, dari hasil kokaborasi dua universitas tersebut menghasilkan alat pendeteksi kualitas air di Sungai Citarum yang dinamakan water quality control. Setelah perakitan selesai, alat ini diujicobakan di aliran Sungai Citarum, tepatnya di Sektor 6 Citarum di wilayah Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Senin, 8 Juli 2019.

“Cara kerja alat ini nanti diturunkan menggunakan drone di titik tertentu yang akan diambil sample airnya. Data-data yang dihasilkan dari pengambilan sample air ini bisa langsung dikirim melalui perangkat khusus. Dalam alat ini ada sensor suhu air, kandungan logam, pH, kekeruhan, dan lainnya. Ini memang baru uji coba (alat). Kita memang sedang melakukan kolaborasi riset di Citarum,” ungkap Prasetya.

Diakui dia, alat hasil kolaborasi bersama universitas di Korea Selatan itu memang baru berupa prototipe. Umumnya, lanjut Prasetya, saat mengukur kualitas air biasanya dilakukan di laboratorium yang memerlukan waktu cukup lama. Dengan adanya alat ini, diharapkan hasil uji sample kualitas air pun dapat segera terpetakan.

Prasetya menjelaskan, alat pendeteksi ini berbentuk bulat seukuran bola yang sudah dilengkapi dengan alat pengambil sample air yang terhubung ke sensor-sensor yang sudah ditanam di alat tersebut. Angka-angka yang dihasilkan sensor itu kemudian dikirim melalui perangkat lainnya yang sudah disiapkan. Agar tidak tenggelam dan terbawa arus air, alat ini sudah dilengkapi dengan pelampung dan motor penggerak yang dapat mempertahankan posisi alat pendeteksi ini. Alat ini bisa digerakkan dari jarak jauh saat mengambil uji sample air.

“Proyek kerja sama dengan universitas dari Korea Selatan ini sudah jalan sejak akhir tahun 2018. Alat ini baru kami ujicobakan sekarang di aliran Sungai Citarum di wilayah Sektor 6. Jika hasil sampe air ini identik dengan hasil uji di laboratorium, mungkin ke depannya kami akan membuat alat serupa,” ucap dia.

Rehabilitasi Citarum perlu kolaborasi banyak pihak

Sementara itu, Komandan Sektor 6 Satgas Citarum Harum Kolonel Inf. Yudi Zanibar mengapresiasi kontribusi dari akademisi ini dalam upaya rehabilitasi Sungai Citarum. Dikatakan dia, upaya rehabilitasi Sungai Citarum memang perlu melibatkan berbagai unsur, termasuk dari kalangan akademisi.

“Dari amanat peraturan presiden tentang penanganan Sungai Citarum, bahwa semuanya harus terlibat dalam kapasitas masing-masing untuk berbuat dalam rehabilitasi Sungai Citarum ini. Budayawan, teknologi, masyarakat, unsur pemerintahan, dan lainnya turut terlibat dalam upaya rehabilitasi Sungai Citarum dengan berbagai kegiatannya. Kebetulan di Sektor 6 ini, sudah 24 negara yang datang ke wilayah ini (sektor 6) untuk melihat sejauh mana hasil upaya rehabilitasi Sungai Citarum,” ucap Yudi.

Dalam kunjungan dari beberapa negara itu, lanjut Yudi, para delegasi negara itu pun mengapresiasi upaya berbagai pihak dalam hal penanganan Sungai Citarum. Bahkan, lanjut Yudi, di wilayah Sektor 6 ini nantinya akan dibangun taman publik tepat di pinggir Sungai Citarum. Hal itu untuk menumbuhkembangkan kepedulian masyarakat untuk turut menjaga Sungai Citarum dari kerusakan.

“Pada Jumat pekan lalu berdasarkan hasil rapat dengan pak Gubernur Jawa Barat bahwa pembangunan salah satu fasilitas publik di wilayah Sektor 6 ini akan dilanjutkan karena bangunan tersebut akan dijadikan laboratorium aktivitas sosial,” ujar dia.***

Bagikan: