Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Ada Masjid Unik Berbentuk Mirip Kakbah di Kabupaten Bandung, Terwujud karena Lahan Terbatas

Handri Handriansyah
MASJID Al-Majid di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
MASJID Al-Majid di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

SAAT menyusuri Jalan Raya Laswi di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, citra pertama yang muncul dalam benak banyak orang pasti adalah Padepokan Seni Wayang Golek Giriharga. Namun tak jauh dari lokasi padepokan tersebut, terdapat jalan kecil bernama Jalan H Mulya yang menyimpan kekayaan budaya baru di Kabupaten Bandung.

Adalah masjid unik di jalan tersebut yang saat ini menyita perhatian masyarakat. Masjid bernama Al-Majid tersebut dibangun dengan bentuk kubus mirip Kakbah.

Perjalanan menuju Masjid Al-Majid tak mudah karena lebar Jalan H Mulya hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat. Namun setelah menempuh jarak beberapa ratus meter dari gapura jalan tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan indah masjid.

Layaknya Kakbah, Masjid Al-Majid memiliki sejumlah ornamen khas seperti hajar aswad, rukun yamani, dan talang emas. Selain itu, cat hitam dan kaligrafi berwarna emas juga membuatnya semakin mirip Kakbah.

MASJID Al-Majid di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

Ketua DKM Masjid Al-Majid Yayan Badrujaman mengatakan, ide membangun masjid menyerupai Kakbah berawal dari minimnya lahan. "Lahan yang ada hanya berukuran sekira 7 x 10 meter," ucapnya.

Dengan arsitektur unik dan pengembangan vertikal, keterbatasan lahan kini tak menjadi halangan bagi masjid itu untuk memiliki kapasitas sampai 150 orang. Selain itu, fasilitas pendukung seperti toilet dan tempat wudu sudah memadai.

Awalnya tajug

Menurut Yayan, Masjid Al-Majid sebenarnya sudah berdiri di atas tanah wakaf pada tahun 1980-an. Namun ketika itu ukurannya lebih kecil, sekira 3 x 3 meter.

"Masjid ini merupakan masjid tertua di daerah ini dan awalnya dibangun sebagai tajug untuk para petani yang ingin beristirahat sambil menunaikan salat sepulang dari sawah. Pada 1990-an, dirombak menjadi masjid dengan bangunan permanen oleh kakek saya, H Jujun," kata Yayan.

Seiring waktu, Yayan mengatakan, bangunan masjid mengalami kerusakan di beberapa bagian penting. Oleh karena itu, masjid kembali dipugar pada Februari hingga April 2019.

"Jika dipugar dengan konsep yang umum, kami membutuhkan lahan yang luas. Akhirnya muncul ide membuat bentuk Kakbah. Apalagi keluarga saya memang sering beribadah haji dan umrah sehingga yang terpikir pertama kali adalah bentuk Kakbah," tutur Yayan.

Ide tersebut mampu diwujudkan berkat donasi dari berbagai pihak yang mencapai sekira Rp 700 juta. "Yang paling mahal adalah biaya untuk kaligrafi dan pintu yang mencapai Rp 100 juta karena kami menggunakan bahan kayu tahan air dan rangka besi agar bisa semirip mungkin dengan Kakbah," ujarnya.

Lebih makmur

Yayan mengatakan, bangunan masjid tersebut baru rampung sekira 90 persen. Soalnya, ketika itu proses pembangunan dipercepat dan terhenti sementara karena warga ingin menggunakan masjid tersebut untuk salat Idulfitri.

Meski demikian, masjid unik itu kini semakin makmur karena daya tariknya membuat lebih banyak warga menunaikan salat wajib di sana.

Selain itu, tak sedikit masyarakat dari luar daerah yang sengaja datang untuk salat kemudian berswafoto dengan latar belakang masjid unik tersebut.***

Bagikan: