Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 30.7 ° C

Kunjungan Wisatawan Asing ke Jawa Barat Meningkat, Negara Asalnya Semakin Beragam

Yulistyne Kasumaningrum
WISATA alam Kampung Cai Ranca Upas, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu tujuan wisata alam yang cocok untuk keluarga karena ada beragam aktivitas yang bisa dilakukan anak-anak di sana. Misalnya, memberi makan rusa, arena permainan outbond, dan kolam renang.*/ARIF HIDAYAH/PR
WISATA alam Kampung Cai Ranca Upas, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu tujuan wisata alam yang cocok untuk keluarga karena ada beragam aktivitas yang bisa dilakukan anak-anak di sana. Misalnya, memberi makan rusa, arena permainan outbond, dan kolam renang.*/ARIF HIDAYAH/PR

BANDUNG, (PR).- Kunjungan wisatawan asing ke Jawa Barat semakin meningkat. Kunjungan melalui dua pintu masuk, yakni Bandara Husein Sastranegara dan Pelabuhan Muarajati Cirebon, sepanjang Januari-Mei 2019 mencapai 67.139 orang. Jumlah tersebut meningkat 4,97% dibandingkan periode yang sama 2018 yang mencatatkan 63.960 kunjungan.

Karena itulah, pemerintah dan para pelaku pariwisata di Jawa Barat didorong untuk terus berinovasi mengembangkan raga destinasi dan atraksi pariwisata. Apalagi, saat ini mulai terjadi diversifikasi kebangsaan wisatawan asing yang mengunjungi Tatar Priangan.

“Terjadi diversifikasi yang ditandai dengan munculnya wisatawan dari kebangsaan lain, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Dody Herlando saat konferensi pers di Bandung, Senin, 1 Juli 2019.

Ia mengatakan, dari total kunjungan tersebut, wisatawan Malaysia memang masih mendominasi kunjungan dengan persentase mencapai 64,7 persen. Jumlahnya disusul Singapura, India, Thailand, serta Amerika Serikat yang berada di posisi lima besar sebagai penyumbang terbanyak wisatawan asing ke Jabar.

Perkembangan yang terjadi tersebut, menurut Dody, harus menjadi perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata Jabar. Perhatian itu untuk mengkaji lebih jauh minat para wisatawan dari kebangsaan lain tersebut.

“Apa yang mau dibeli oleh mereka? Dengan demikian, diharapkan, Jabar dapat mengoptimalkan potensi yang ada,” kata Dody.

Inflasi/DOK. PR

Upah asisten rumah tangga jadi salah satu pemicu inflasi

Pada kesempatan tersebut, Dody memaparkan, sepanjang Juni 2019, wilayah Jabar mengalami inflasi 0,48 persen. Untuk pertama kalinya pada 2019, inflasi Jabar di bawah angka inflasi nasional yang pada Juni 2019 mencapai 0,55%. Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender year to date (Januari – Juni 2019) sebesar 2,14 persen.

Dari hasil pemantauian harga barang dan jasa yang dilakukan, kata dia, tercatat beberapa komoditasmengalami kenaikan/penurunan harga. Hal itulah yang memberikan andil inflasi/deflasi cukup siginifikan.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi antara lain cabai merah, upah pembantu rumah tangga, serta nasi dengan lauk. Ada pula kenaikan harga kentang, bayam, jengkol, petai, angkutan antar kota, pepaya, cabai rawit, bubur, daun pintu, emas perhiasan, tomat sayur, buah pir, kelapa, mobil, dan rokok kretek filter.

Sementara, komoditas yang mengalami penurunan dan memberikan andil deflasi signifikan antara lain bawang putih, tarif kereta api, telur ayam ras, daging ayam ras, beras, sawi hijau, tongkol, dan ikan kembung. Ada pula penurunan harga telepon seluler, daging ayam kampung, daging kambing, serta kacang tanah.***

Bagikan: