Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sedikit awan, 15.9 ° C

Garasi Kereta Api Cepat Dibangun di Rancaekek

Tim Pikiran Rakyat
CAMATRancaekek Baban Banjar.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA
CAMATRancaekek Baban Banjar.*/ENGKOS KOSASIH/GALAMEDIA

SOREANG, (PR).- Pembebasan lahan untuk proyek pembangunan kereta api cepat Bandung-Jakarta di kawasan Desa Rancaekek Wetan dan Desa Rancaekek Kulon Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung sudah rampung dan tinggal pengerjaan.

Hal itu diungkapkan Camat Rancaekek Baban Banjar kepada wartawan di Rancaekek Kabupaten Bandung, Rabu 26 Juni 2019. Namun ia mengaku tidak terlibat terlalu jauh dalam proses pembebasan lahan untuk proyek kereta api cepat Bandung-Jakarta itu, dirinya hanya sebagai anggota Tim 7 pembebasan lahan. 

"Yang jelas pembebasan lahan sudah beres di Kecamatan Rancaekek, yaitu meliputi Desa Rancaekek Wetan dan Desa  Rancaekek Kulon," jelas Baban.

Ia mengatakan, lokasi yang terkena pembebasan lahan seluas 80 hektare itu, untuk kawasan depo atau garasi kereta api cepat saja. Sedangkan stasiun kereta api cepatnya ada di kawasan Kecamatan Cileunyi. 

"Adanya proyek pembangunan jalur kereta api cepat itu akan berdampak positif pada pengembangan pembangunan di kawasan Rancaekek. Bahkan berdasarkan kabar di lapangan, adanya jalur kereta api cepat ini, waktu tempuh Bandung-Jakarta selama 45 menit. Hal ini sama dengan waktu perjalanan dari Rancaekek menuju kawasan Kota Bandung," kata Baban. 

Camat Rancaekek menuturkan dengan adanya pembangunan kereta api cepat ini akan berdampak pada pembangunan di kawasan Desa Sukamanah dan Desa  Tegalsumedang, Kecamatan Rancaekek karena letak desa tersebut berdekatan. 

"Walaupun pembebasan lahannya sudah beres, tapi kita tidak tahu detailnya seperti apa. Bahkan, pembangunannya belum dimulai," katanya. 

Ia mengatakan, pembangunan kereta api cepat yang merupakan program pemerintah itu, harus diatur tata ruangnya. Apalagi pemerintah pusat mewacanakan pembangunan Tol Cigatas (Cileunyi, Garut dan Tasikmalaya).

"Jangan sampai ada pembangunan merusak lingkungan. Jadi proyek pembangunan itu harus dibarengi dengan penataan lingkungan," harapnya. 

Membangun embung

Untuk mendukung berbagai pelaksanaan pembangunan itu, imbuhnya, Bupati Bandung berencana membangun embung-embung di kawasan Desa Sukamanah Kecamatan Rancaekek. "Diharapkan dengan adanya embung-embung itu bisa digunakan untuk menampung air untuk mengendalikan ancaman banjir," ungkapnya. 

Terkait penanganan banjir di Kecamatan Rancaekek, ia menyatakan, sudah ada pengontrolan dari Bidang Drainase Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung.

"Memang selama ini ada drainase bermasalah, seperti di kawasan Perumahan Rancaekek Kencana. Air masuk ke kawasan perumahan, sehingga menyebabkan banjir," ucapnya.

Ia pun mengatakan, persoalan banjir yang sering terjadi di Jalan Dangdeur, depan Masjid Agung Rancaekek itu karena kondisi jalannya berada pada cekungan. "Jadi jangan hanya menyalahkan pemerintah," katanya.

Baban juga berharap dalam penanganan normalisasi Sungai Cikeruh, dari Balai Besar Wilayah Sungai Citarum harus ada koordinasi dengan pihak kecamatan. "Sampai saat ini, pelaksanaan normalisasi Sungai Cikeruh belum kunjung dilaksanakan. Sementara perencanaan sudah diwacanakan sejak 2015, tapi belum kunjung direalisasikan," katanya kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih.

Tak hanya Sungai Cikeruh, katanya, normalisasi Sungai Cikijing, Sungai Cimande juga belum tuntas sampai saat ini. "Terkesan pengerjaannya lambat. Sementara banjir tiap tahun terjadi dan masyarakat menunggu pengerjaan normalisasi ketiga sungai itu dipercepat," paparnya.

Baban mengatakan, dalam pengerjaan normalisasi Sungai Cikeruh harus ada koordinasi antar daerah. Pasalnya, Sungai Cikeruh melintasi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. 

"Jangan sampai wilayah pegunungan yang menjadi hulu Sungai Cikeruh dan daerah resapan air hujan dibangun. Akibatnya serapan air tidak ada. Pohon besar yang bisa menyimpan air kemudian ditebang. Dampaknya, terjadi pendangkalan di aliran Sungai Cikeruh tersebut karena terjadi erosi," jelasnya.

Sebelum terjadi kerusakan lingkungan, kata Baban, aliran Sungai Cikeruh cukup dalam pada tahun 1970-1980-an itu. Kedalamnya bisa mencapai beberapa meter. 

"Saya tahu persis kondisi aliran Sungai Cikeruh karena saya asal warga Rancaekek. Namun saat ini kondisinya dangkal," pungkasnya.***

Bagikan: