Pikiran Rakyat
USD Jual 14.014,00 Beli 14.112,00 | Langit cerah, 18.3 ° C

Tahun 2019, Rehabilitasi Hutan Lindung KBU Meningkat 5 Kali Lipat

Hendro Susilo Husodo
ADMINISTRATUR Perhutani KPH Bandung Utara Komarudin menunjukkan hasil foto citra satelit mengenai kondisi hutan di Bandung Utara, di kantornya, Kota Bandung, Selasa 18 Juni 2019.*/ HENDRO SUSILO/PR
ADMINISTRATUR Perhutani KPH Bandung Utara Komarudin menunjukkan hasil foto citra satelit mengenai kondisi hutan di Bandung Utara, di kantornya, Kota Bandung, Selasa 18 Juni 2019.*/ HENDRO SUSILO/PR

NGAMPRAH, (PR).- Pada tahun ini Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung Utara mendapat tugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melaksanakan rehabilitasi hutan lindung (RHL) seluas 1.033 hektare. Angka tersebut meningkat nyaris lima kali lipat dibandingkan tahun 2018.

"Untuk tahun 2019, (evaluasi terkait RHL) belum dilaksanakan. Kalau luasnya itu 1.033 hektare. Jadi, kalau di Perhutani KPH Bandung Utara, luas tanaman RHL bertambah hampir lima kali lipat dibandingkan pada 2018," kata Administratur Perhutani KPH Bandung Utara Komarudin di kantornya, pekan kemarin.

Pada tahun lalu, dia menyebutkan, luas tanaman RHL di wilayah Perhutani KPH Bandung Utara ialah 211 hektare. Pada 2018 pula, berdasarkan hasil evaluasi tim Institut Pertanian Bogor dan tim Kementerian LHK, persentase tumbuh tanaman di RHL tersebut mencapai sekitar 98 persen.

"RHL ini amanah yang cukup berat, karena pakai APBN, uang rakyat. Namun, di dalam pelaksanaannya tidak mudah. Bukan dari aspek teknis, karena menanam itu mudah, tapi biasanya dari aspek sosial ada yang mengganggu kesuksesan RHL. Biasanya ada beberapa orang, yang kalau ini dijadikan hutan, dia tidak bisa ini (melakukan usaha)," katanya.

Meski begitu, dia menekankan, RHL sangatlah penting untuk sumber air dan daerah resapan air. Oleh karena itu, Komarudin mengajak seluruh pihak untuk memikirkan masa depan, dengan turut menyukseskan program RHL. Apalagi, di luar area hutan Bandung Utara sudah padat oleh permukiman.

"Secara umum, kalau kita lihat (pada hasil foto citra satelit), area hutan relatif masih hijau, bagus, kompak. Namun, di luar area hutan, memang Bandung daerah padat, ini tidak bisa dimungkiri. Bahkan, seringkali terjadi banjir di Cicaheum. Dari batas hutan, jaraknya itu sekitar 10 kilometer," katanya, sambil menunjukkan hasil foto citra satelit.

Dia tak menyalahkan jika ada orang yang beranggapan bahwa banjir disebabkan oleh hutan yang gundul, karena memang sewaktu SD masyarakat diajari seperti itu. Namun, Komarudin membantah dengan tegas jika kawasan hutan Bandung utara dianggap sebagai penyebab banjir di cekungan Bandung.

"Saya berani menjamin bahwa tutupan lahan di KPH Bandung Utara ini masih bagus, lebih dari 98 persen masih bagus," ujarnya.

Kalaupun ada lahan yang bermasalah, dia mengakui, itu berada di Cisalak, Kabupaten Subang, dengan luas sekitar 6,5 hektare yang di antaranya terdapat pemukiman dan fasilitas sosial. Dibandingkan luas kawasan hutan di KPH Bandung Utara yang mencapai 20.650 hektare, Komarudin mengatakan, lahan yang bermasalah itu relatif sangat sedikit.

Pun demikian dengan pengelolaan tempat wisata di KPH Bandung Utara. Dari ketentuan maksimal 10 persen, dia menyatakan bahwa kawasan hutan yang dijadikan tempat wisata hanya sekitar 0,5 persen atau seluas 109 hektare untuk 33 tempat wisata.***

 

Bagikan: