Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Potensi Konflik Pasca-Pemilu Masih Dapat Terjadi

Hendro Susilo Husodo
AKSI unjuk rasa 22 Mei 2019 di depan Kantor Bawaslu, Jakarta.*/REUTERS
AKSI unjuk rasa 22 Mei 2019 di depan Kantor Bawaslu, Jakarta.*/REUTERS

NGAMPRAH, (PR).- Setelah kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019, potensi konflik pasca-pemilu dianggap masih dapat terjadi. Oleh karena itu, polisi dituntut supaya bisa mengelola perbedaan yang ada di tengah masyarakat dengan baik, sehingga tidak menjadi sumber konflik. 

Demikian mengemuka dalam Seminar Sekolah Sespimma Polri Angkatan ke-61 di Sespim Polri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 24 Juni 2019. Seminar itu mengambil tema "Optimalisasi Democratic Policing Guna Mengantisipasi Konflik Sosial Pascapemilu 2019 Dalam Rangka Terpeliharanya Kamtibmas".

"Tema yang kami angkat kali ini adalah democratic policing dan konflik sosial, karena kami melihat bahwa setelah pileg dan pilpres kemarin itu masih menyisakan masalah-masalah," kata Kepala Sespimma Sespim Polri Brigjenpol Syafril Nursal, seusai seminar.

Menurut dia, seminar sekolah tersebut dilaksanakan sesuai dengan program pendidikan yang telah dirancang. Para perwira pertama Polri yang berjumlah 100 orang menjalani pendidikan sespimma selama sekitar empat bulan. Dibuka pada 6 Maret 2019, pendidikan sespimma direncanakan bakal ditutup pada 3 Juli 2019.

"Setelah selesai pendidikan yang ditutup pada 3 Juli, mereka akan kembali ke wilayah. Tentu mereka akan menghadapi hal-hal seperti itu (perbedaan-perbedaan), sehingga kami harapkan pengetahuan, pengalaman, dan penjelasan dari para narasumber di seminar ini dapat membantu mereka melakukan penanganan di lapangan," katanya. 

Nursal menambahkan, para peserta didik sespimma yang disiapkan untuk menjadi pemimpin di wilayah harus dapat mengelola perbedaan di masyarakat dengan baik. Apalagi, masyarakat Indonesia dikenal heterogen. Oleh karena itu, para peserta didik pun harus bisa membangun sinergitas dengan pihak-pihak terkait. 

"Bagaimana polisi di wilayah dapat mengelola dengan baik masyarakat. Kan kita tahu, masyarakat kita itu plural sekali. Bagaimana polisi mengelolanya, sehingga pluralisme itu tidak menjadi sumber konflik. Jadi, biar cepat menetralisir perbedaan-perbedaan, karena itu dibekali dengan democratic polising," tuturnya. 

Ketua Senat Sespimma Angkatan ke-61 AKP Rustiono didampingi ketua panitia seminar AKP Faisal Amri Nasution mengatakan, kehadiran narasumber yang berkompeten berguna dalam meningkatkan pengetahuan para peserta didik. Pada seminar tersebut, hadir sebagai pembicara di antaranya ialah Hermawan Sulistyo dan Thamrin Amal Tomagola. 

"Dari yang disampaikan oleh narasumber dan proses diskusi, tentunya muncul ide-ide atau pengetahuan-pengetahuan yang baru. Itu jadi modal bagi kami dalam menyikapi potensi-potensi konflik yang ada di tengah masyarakat pascapemilu 2019," katanya.***

Bagikan: