Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 19.4 ° C

Kolam Retensi Gedebage Ditargetkan Rampung November 2019

Muhammad Fikry Mauludy
SEJUMLAH warga menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di pinggir area kolam retensi inlet Gedebage di tepi proyek pembangunan Masjid Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung. beberapa waktu lalu. Kendati sudah ada himbauan Berbahaya dilarang bermain, namun masih banyak warga yang tidak mengindahkan himbauan tersebut.*/ADE MAMAD/PR
SEJUMLAH warga menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di pinggir area kolam retensi inlet Gedebage di tepi proyek pembangunan Masjid Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung. beberapa waktu lalu. Kendati sudah ada himbauan Berbahaya dilarang bermain, namun masih banyak warga yang tidak mengindahkan himbauan tersebut.*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- Proses pembangunan kolam retensi Gedebage telah memasuki tahap lelang. Kolam untuk menampung luapan banjir dari Sungai Cinambo Lama itu ditargetkan rampung pada November 2019.

“Sudah masuk proses lelang. Mudah-mudahan Juli sudah kontrak. Dalam rencana itu empat bulan pengerjaan setelah Juli berarti itu Agustus, September, Oktober, November,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, Didi Ruswandi, belum lama ini, di Bandung.

Curah hujan tinggi di kawasan utara Kota Bandung serta kurangnya daerah resapan membuat debit air yang menerjang daerah hilir bertambah. Aliran air dari Gunung manglayang dilayani oleh Sungai Cinambo lama, dan saluran di Jalan rumah Sakit.

Sejak awal, kolam retensi yang akan dibangun di depan Pasar Gedebage akan difungsikan untuk menahan laju kiriman air dari utara. Akan tetapi, saat ini kebutuhan pembangunan kolam sudah mendesak.

Selama ini, banjir yang melanda Gedebage, Pasar Induk Gedebage, termasuk di persimpangan Jalan Gedebage-Jalan Soekarno-Hatta tidak mampu ditanggulangi maksimal oleh pengoperasian pompa.

Luas kolam retensi Gedebage diperkirakan mencapai 3 ribu meter persegi. Kolam itu bisa menampung air hingga 9 ribu meter kubik. Saat musim kemarau, kolam retensi Gedebage dialihfungsikan menjadi lahan parkir dan fungsi publik lainnya.

Didi mengakui, kapasitas sungai di Kota Bandung kini semakin kecil. Dari standarisasi teknik air, drainase sungai dibuat untuk bisa mengatasi hingga siklus banjir 20 tahunan.

“Dari hasil kajian dari master plan drainase, sungai sekarang hanya bisa menampung banjir dua tahunan. Relatif hampir semua di banjir 2-5 tahunan sudah meluap,” ujarnya.

Didi menambahkan, hasil kajian pakar juga diterapkan untuk mengatasi luapan air sungai di Kota Bandung, selain menggunakan kolam retensi. Salah satu solusinya yakni dengan pembuatan drum pori.

Saat ini, DPU Kota Bandung mulai mengarahkan penggunaan drum pori di sejumlah titik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cinambo serta DAS Citepus. Drum pori sudah terpasang di beberapa titik dengan jumlah yang mencapai puluhan unit.

“Maka kita canangkan gerakan drum pori. Salah satunya ya untuk itu (mengatasi luapan sungai). Kemarin analisa Pak Muslim dari ITB kalau dihitung, (kolam) retensi Bandung itu butuh 1.000 hektar kolam. Jadi sangat besar kebutuhannya. Makanya kita memperbanyak drum pori,” ujarnya.***

Bagikan: