Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sebagian cerah, 31.1 ° C

Pengaruh Alih Rute Penerbangan dari Bandung ke Kertajati Hanya Akan Berdampak di Awal

Muhammad Fikry Mauludy
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019. PT BIJB menyatakan pemindahan 12 rute penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang seharusnya pada tanggal 15 Juni 2019 dibatalkan karena adanya masalah administrasi.*/ANTARA
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019. PT BIJB menyatakan pemindahan 12 rute penerbangan dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang seharusnya pada tanggal 15 Juni 2019 dibatalkan karena adanya masalah administrasi.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Pengaruh pengalihan sejumlah penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka diprediksi akan menyinggung jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menakar penurunan jumlah wisatawan hanya terjadi di awal masa beralihnya penerbangan ke Kertajati.

“(Jumlah wisatawan) 7 juta pada 2018. Informasinya, itu sekitar 75-90% (via Bandara Husein). Orang akan kaget karena pada awalnya 12 penerbangan itu hilang dari Kota Bandung. Tetapi saya tidak khawatir, insyaallah kita positif, karena masyarakat Bandung itu kreatif,” kata Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran pada Disbudpar Kota Bandung Aswin Sulaiman, di Balai Kota Bandung, Kamis, 20 Juni 2019.

Dibanding wisatawan dengan moda transportasi lain, jalur penerbangan memang favorit karena memberikan kecepatan dan kemudahan. Namun, kata dia, saat Bandara Husein masih menjadi bandara militer, wisatawan tidak kemudian habis.

“Contohnya, penerbangan ke Husein dan (bandara) Halim yang dulu aktif. Yang ke Bandung tetap lewat Jakarta, seperti itu. Jadi jangan khawatir. Ada penerbangan atau tidak ada penerbangan, Bandung akan tetap jadi tempat tujuan wisata, tempat memorable yang didukung dikunjungi dan dicari orang lain,” katanya.

Ia tidak menampik jika dimungkinkan muncul gejala geger di awal pindahnya rute penerbangan ke lokasi lain. Tetapi itu hanya gejala awal, karena ekonomi masih tetap berjalan. Kreatifitas warga Bandung dinilai luar biasa.

Semenjak Bandara Kertajati dibuka, sudah ada beberapa warga yang menawarkan jasa kendaraan pariwisata dari Kertajati untuk memudahkan wisatawan ke Kota Bandung. Semangat itu yang membuat Pemkot yakin, masyarakat punya optimisme.

“Jadi kita akan menyuarakan agar orang tetap datang ke Kota Bandung. Kalau paket wisata sudah disiapkan dari tahun kemarin. Jadi antisipasi penerbangan Kertajati sudah dimunculkan, hot deals namanya. Kita memancing juga seperti itu. Menggunakan biro perjalanan yang ada di Kota Bandung, dari hotel, atau dari tempat wisata yang ada di Kota Bandung,” ujarnya.

Disbudpar juga masih melihat angka kunjungan dari wisatawan Jabodetabek. Meski begitu, ia meyakini jika turis dari sekitar Bandung dan Jawa Barat lebih besar dari Jabodetabek karena jenis kunjungannya harian.

“Gerbang tol masuk ke Kota Bandung semua hampir setiap hari macet. Dulu hanya setiap akhir pekan. Bukan hanya plat B, ada juga dari Jogja, Sumatera, Bali. Jadi tidak riweuh dipindahkeun ke Kertajati teh. Apalagi nanti jika Tol Cisumdawu jadi,” tutur Aswin.

Lokasi Wisata

Disbudpar Kota Bandung juga masih yakin dengan wisatawan yang tergiur berbagai agenda tahunan yang digelar di Kota Bandung, termasuk agenda yang dilangsungkan non pemerintah. Yang terdekat ada Asia Africa Festival yang sejak jauh hari dipromosikan. Acara itu disebut-sebut bakal menghadirkan 38 peserta, lebih banyak ketimbang tahun lalu yang diikuti 22 peserta.

Gelaran yang menampilkan historical walk dari Hotel Homann ke Gedung Merdeka, festival, karnaval, dan kuliner sehari semalam itu digadang-gadang menarik wisatawan dari luar daerah.

Kampung wisata juga diandalkan Pemkot Bandung, seperti di Pasirkunci dan Dago Pojok yang sudah dikenal di luar negeri. Saat ini Disbudpar Kota Bandung tengah mempersiapkan 6 kampung wisata lainnya.

“Itu juga babak belur. Karena bukan pemerintahnya, yang kita butuhkan di sini dukungan masyarakat. Seperti di Braga, dukungan masyarakat luar biasa. Jadi dukungan untuk mereka agar punya Kampung Braga walaupun di tengah kota, asalkan jadi tempat tujuan yang orang-orang punya kenangan, Kampung Braga,” ujarnya.

Yang terbaru, Pemkot Bandung juga menawarkan wisata halal. Aswin menjamin konsep wisata halal itu tidak sembarangan diutarakan Wali Kota Bandung Oded M. Danial, tetapi karena dorongan dari masyarakat Bandung yang telah menunjukkan alternatif wisata di Bandung.

“Wisata halal itu simple. Misalkan, tidak boleh ada tempat salat di basement sejajar tempat parkir, disejajarkan dengan tempat layak. Mudahkan akses ke tempat wudlu. Lalu ada arahan untuk kuliner halal,” katanya.***

Bagikan: