Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Cerah berkabut, 31.2 ° C

Lima Pelajar Pengguna Tembakau Gorila Jalani Rehabiitasi

Cecep Wijaya Sari
ILUSTRASIpenggunaan narkoba.*/DOK. PR
ILUSTRASIpenggunaan narkoba.*/DOK. PR

NGAMPRAH, (PR).- Lima pelajar asal Kabupaten Bandung Barat menjalani rehabilitasi akibat mengonsumsi tembakau gorila. Mereka diciduk petugas Badan Narkotika Nasional setempat setelah kedapatan menggunakan salah satu jenis narkoba tersebut.

Kepala BNN KBB Sam Norati Mariana mengungkapkan, kelima pelajar tersebut terjaring operasi petugas pada 8 April lalu. Namun, mereka tidak ditahan lantaran hanya sebagai pengguna, bukan pengedar ataupun kurir. 

"Mereka masih menjalani rehabilitasi di puskesmas setempat. Dari 8 sesi, tinggal 2 sesi lagi yang harus mereka jalani," ujar Sam, Rabu 12 Juni 2019.

Dia menuturkan, para pengguna tembakau gorila tersebut merupakan pelajar SMA dan SMP berusia di bawah 17 tahun. Mereka mendapatkan narkoba tersebut dari daerah sekitar. Namun, jumlah tembakau yang mereka miliki tidak begitu banyak.

Untuk diketahui, tembakau gorila merupakan tembakau sintetis yang menyebabkan pemakainya "melayang" dalam beberapa kali isap. Berbeda dengan ganja, tembakau gorila tidak memiliki aroma khas yang menyengat.

Menurut Sam, peredaran narkoba di kalangan pelajar sudah menjadi tren selama beberapa tahun terakhir. Dengan kondisi itu, pihaknya gencar melakukan sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah-sekolah.

"Kami punya program Sekolah Bersinar (Bersih Narkoba) yang sasarannya para pelajar. Dengan sosialisasi ini, diharapakan para pelajar tidak berani coba-coba menggunakan narkoba," ujarnya.

Dia mengungkapkan, lingkungan sekolah menjadi bidikan BNN untuk terus dilakukan pengawasan serta sosialisasi anti narkoba. Tahun ini, tercatat ada 15 SMPN di Bandung Barat yang menjadi percontohan dalam program Sekolah Bersinar. Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2019 tentang penguatan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) yang ditindaklanjuti SE Bupati Bandung Barat.

Sementara itu, lanjut dia, rehabilitasi pasien narkoba saat ini masih dilakukan di lima instansi kesehatan, yaitu RSUD Cililin, Puskesmas Jayagiri, Puskesms Padalarang, serta dua klinik di Kecamatan Cisarua, yakni Klinik Rumah Palma dan Klinik Nurido. Soalnya, BNN KBB belum memiliki klinik khusus untuk rehabilitasi.

Rehabilitasi tersebut dilakukan dengan rawat jalan, berupa 8 kali pertemuan (konseling) dan 2 kali tes urin. Setelah selesai, dilanjutkan dengan penanganan pascarehabilitasi oleh BNN provinsi. 

"Dalam waktu dekat, kami akan segera buka klinik rehabilitasi agar penanganan pasien bisa lebih optimal. Sebab, kami bisa mengontrol perkembangan pasien secara lebih intensif," tuturnya.***

Bagikan: