Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Kebakaran Naik Hampir 2 Kali Lipat selama Ramadan-Idulfitri

Handri Handriansyah
ILUSTRASI  kebakaran*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI kebakaran*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT

SOREANG, (PR).- Kasus kebakaran selama Ramadan hingga pasca-Idulfitri di Kabupaten Bandung meningkat hampir dua kali lipat dari rata-rata bulan-bulan sebelumnya. Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung mencatat sedikitnya ada 28 kebakaran terjadi selama Ramadan-Idufiitri 1440 H.

Kepala Seksi Pemadaman dan Investigasi pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung, Endang Sulaeman mengatakan, pemicu kebakaran tersebut sebagian besar adalah hubungan pendek arus listrik, ledakan tabung dan kompor gas, tungku kayu bakar serta petasan. "Jumlah kasus mengalami peningkatan," ujarnya kepada wartawan, Rabu, 12 Juni 2019.

Emang menambahkan, sepanjang Januari hingga Juni, total terjadi 114 kebakaran di Kabupaten Bandung. Artinya, rata-rata terjadi 19 kebakaran setiap bulan.

Hal itu menunjukan bahwa kasus selama Ramadan naik sekitar 47 persen dari bulan-bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah itu bahkan meningkat sampai 65 persen dari 17 kasus.

"Sementara itu sepekan saat libur lebaran, kami menangani tiga kebakaran. Selain itu juga ada enam kali penyelamatan," kata Endang.

Meskipun jumlah kasusnya meningkat, Endang menegaskan bahwa jumlah kerugian materil justru cenderung menurun. Hal itu dilansir berkat semakin tingginya kesadaran masyarakat dan respon cepat mereka dalam melaporkan setiap kejadian.

"Kesadaran masyarakat semakin tinggi untuk melaporkan kejadian kebakaran. Mungkin kalau dulu yang lapor itu cuma kebakaran rumah saja yah, tapi kalau sekarang banyak macamnya, seperti kebakaran mobil, alang-alang dan lain sebagainya. Selain itu, dengan adanya sembilan pos, semakin mendekatkan pelayanan kami pada masyarakat," tutur Endang.

Endang menjelaskan, rata-rata kebakaran terjadi akibat korsleting listrik, kompor gas, tungku api dan juga petasan. Kelalaian masyarakat dalam penggunaan peralatan tersebut membuat percikan yang berimbas munculnya api.

"Salah satu penyebab korsleting listrik itu karena pemakaian peralatan listrik yang tidak sesuai standar. Kemudian ada juga karena lupa mematikan kompor gas dan lupa mematikan tungku api bekas memasak di dapur. Tak hanya itu saja, anak anak yang main petasan juga harus diwaspadai," kata Endang.

Di sisi lain Endang menambahkan, saat ini Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung memiliki sembilan pos. Setiap pos dilengkapi armada pancar, pompa dan armada suplai. 

"Di sembilan pos ini kekuatan kami mencapai 136 orang personel yang siap melayani masyarakat. Namun masih ada kebutuhan kami yang saat ini belum terpenuhi yaitu penambahan selang, nozle dan beberapa perangkat pendukung lainnya. Penambahan ini sangat penting untuk menjangkau lokasi kebakaran yang ada di dalam gang," kata Endang.

Bagikan: