Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Lembang Sering Macet, Sopir Angkot Keluhkan Pendapatan Berkurang

Hendro Susilo Husodo
SUASANA antrean kendaraan di Jalan Raya Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*/DOK.PR
SUASANA antrean kendaraan di Jalan Raya Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*/DOK.PR

NGAMPRAH, (PR).- Para sopir angkutan kota (angkot) mengeluhkan kemacetan yang kerap terjadi setiap kali libur panjang di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Selain harus mengeluarkan biaya bahan bakar yang lebih besar, kemacetan pun membuat penumpang angkot jadi berkurang.

Ketua Organisasi Persatuan Pengemudi Cisarua Lembang (PPLC) Denden Susanto menyatakan, sejak awal musim libur Lebaran, jumlah penumpang yang menggunakan angkot menurun drastis karena jalurnya terhambat macet. Dia menduga, penumpang memilih alternatif alat transportasi yang lain.

"Kalau sedang musim liburan atau lagi libur panjang, penghasilan sopir benar-benar terganggu. Kami hanya bisa bawa angkot paling 1-2 ritase, dengan pendapatan yang berkurang jadi sekitar Rp 60-100 ribu sehari," kata Deden, Selasa, 11 Juni 2019.

Meski begitu, menurut dia, dari sekitar 50 unit dari 71 unit angkot trayek Lembang-Cisarua tetap beroperasi, sedangkan sisanya memilih untuk berhenti sementara. "Kami memaksakan untuk operasional, karena kebutuhan. Kalau enggak nyupir, mau dapat uang dari mana?" ujarnya.

Deden mengatakan, beban sopir saat beroperasi di sekitar Lembang pada musim liburan semakin berat, karena pengeluaran biaya bahan bakar kendaraan yang bertambah. Padahal, selama ini sopir angkot lebih banyak mengandalkan penumpang dari ibu rumah tangga dan anak sekolah.

"Sementara pada musim liburan, anak-anak sekolah juga kan masih libur. Jadi, sopir angkot juga semakin resah, karena pendapatannya sudah pasti berkurang. Belum lagi ditambah dengan pengeluaran bensin yang bertambah, karena jalanan yang macet," tuturnya.

ANGKUTAN kota menunggu penumpang di depan Pasar Panorama Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa, 11 Juni 2019.*/HENDRO HUSODO/PR

Cucu Supriatna, sopir angkot lainnya, menyatakan hal yang senada. Sejak menjamurnya tempat wisata di Lembang, dia mengaku penghasilan sopir angkot pun ikut terdampak. Pasalnya, kebanyakan wisatawan justru membawa kendaraan pribadi atau menyewa bus.

"Kadang-kadang saya membawa penumpang hanya dua orang. Bahkan, sering juga angkot kosong, enggak ada penumpang sama sekali. Soalnya, penumpang juga merasa lebih cepat jalan kaki daripada naik angkot, karena jalurnya terjebak macet," kata Cucu, yang telah 30 tahun bekerja sebagai sopir.

Selain faktor kemacetan, dia menilai, kemudahan masyarakat dalam mendapatkan kredit motor juga ikut mempengaruhi pendapatan sopir angkot. Masyarkat akhirnya memilih untuk mengambil kredit motor dibandingkan menggunakan angkutan umum.

"Sekarang sangat berbeda dibandingkan dulu, sekitar tahun 1990-2000, ketika masih banyak masyarakat yang masih menggunakan angkot. Waktu itu, musin liburan jadi berkah, karena masyarakat masih naik angkot untuk bersilaturahmi dengan tetangga atau sanak saudaranya," ucapnya.

Dia berharap, pemerintah dapat mencarikan solusi agar kemacetan yang sering terjadi bisa teratasi. Lebih dari itu, kehadiran wisatawan ke Lembang juga diharapkan bisa mendongkrak pendapatan para supir. "Usulan kami, pemerintah membangun terminal bus. Jadi bus-bus itu parkir di terminal, sementara wisatawan diangkut pakai angkot ke tempat wisata," katanya.***

Bagikan: