Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Tahura Djuanda Tetap Buka Saat Libur Lebaran, Lokasi Tepat untuk Botram Keluarga

Tim Pikiran Rakyat
TAHURA Djuanda/DOK. PR
TAHURA Djuanda/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Warga Bandung tetap bisa mengunjungi kawasan konservasi Taman Hutan Raya atau Tahura Djuanda selama libur Lebaran.

Kepala Tahura Djuanda Lianda Lubis menuturkan, kawasan wisata alam itu bisa mengakomodasi kegiatan keluarga yang ingin melakukan aktivitas makan bersamadengan suasan alam terbuka.

"Menjadi pilihan karena bisa digunakan untuk botram, penelitian, hiking, dan sebagainya. Ingin fresh, benar-benar ke hutan, saya kira Tahura Djuanda menjadi pilihan," ujarnya dalam wawancara yang disiarkan Radio PRFM.

INSTALASI kesetimbangan SDGs di Tahura Djuanda sedang diperbaiki pada Sabtu, 30 Maret 2019. Ke depan, pengelola Tahura Djuanda akan memberlakuka e-ticketing untuk meningkatkan PAD dengan penambahan hingga Rp2 miliar per tahun.*/MOCHAMAD IQBAL MAULUD/PR

Lianda Lubis mengatakan, tingkat kunjungan ke Tahura Djuanda pada musim liburan termeasuk libur Lebaran selalu meningkat drastis. Tahura Djuanda menjadi salah satu pilihan utama bagi wisatawan yang datang dalam rombongan.

"Per hari bisa 5.000-an pengunjung. Pendapatan di masa musim liburan, selama empat hari saja bisa Rp 100 sampai Rp 150 juta," kata dia.

Saat musim liburan, tarif parkir kendaraan di Tahura Djuanda tetap sama seperti hari biasa. Untuk mobil, tarif prakir Rp 10.000 dan sepeda motor Rp 5.000.

"Itu untuk yang parkir di dalam kawasan parkir Tahura Djuanda. Sebenarnya bukan tarif parkir, tapi kompensasi emisi," kata dia.

Cerita panjang Tahura Djuanda

Tahura Djuanda merupakan taman hutan raya pertama di Indonesia dan satu-satunya yang diresmikan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia.

Pada awal berdirinya, tempat itu berstatus Kawasan Hutan Lindung Gunung Pulosari yang diresmikan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1922.

Saat ini, Tahura Djuanda menjadi satu-satunya hutan kota yang tersisa di kawasan Bandung Utara. Sejak diresmikan sebagai Kebun Raya Rekreasi, hutan yang merupakan bagian dari daerah cekungan Bandung ini menjadi salah satu tempat wisata alam favorit.

BATU Selendang Dayang Sumbi/DOK. TAHURA DJUANDA

Kawasan Tahura Djuanda memiliki cerita yang sangat panjang, mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini. Berbagai peninggalan sejarah yang terdapat di dalamnya membuktikan peran kawasan hutan ini dari masa ke masa.

Pengelola Tahura Djuanda kini tengah mengoptimalkan pemanfaatan areal hutan sebagai “jalur penyangga kehidupan” bagi kesejahteraan masyarakat. Dari segi ekonomi, pemanfaatan beragam pepohonan di Tahura Djuanda dapat menghasilkan berbagai komoditi bernilai ekonomis seperti kayu, rotan, dan damar.

Dari aspek ekologis (lingkungan), tahura menjadi habitat beraneka ragam flora dan fauna. Sementara dari sisi sosialnya, keberadaan tahura memiliki nilai keindahan dan kesejukan.

Sebagai kawasan pelestarian alam, koleksi terbesar di Tahura Djuanda adalah aneka jenis tanaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kawasan hutan itu merupakan vegetasi campuran, flora eksotik dari benua Afrika, Amerika, dan Asia tumbuh berdampingan dengan flora dan fauna asli Indonesia. Dalam menjalankan salah satu fungsinya sebagai arboretum (laboratorium alam), saat ini Tahura Djuanda memiliki tak kurang dari 2.000 jenis tumbuhan yang 112 di antaranya berasal dari luar negeri.***

Bagikan: