Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 16.4 ° C

Jelang Lebaran, Kemacetan di Pusat Kota Bandung Terus Meningkat

Muhammad Fikry Mauludy
KENDARAAN memadati jalan di kawasan perbelanjaan di Jalan Dewi Sartika, Kota Bandung, Minggu, 26 Mei 2019. Kemacetan yang terjadi di beberapa titik di Kota Bandung disebabkan bertambahnya pengendara yang akan berbelanja untuk kebutuhan lebaran di pusat perkotaan.*/ARF HIDAYAH/PR
KENDARAAN memadati jalan di kawasan perbelanjaan di Jalan Dewi Sartika, Kota Bandung, Minggu, 26 Mei 2019. Kemacetan yang terjadi di beberapa titik di Kota Bandung disebabkan bertambahnya pengendara yang akan berbelanja untuk kebutuhan lebaran di pusat perkotaan.*/ARF HIDAYAH/PR

BANDUNG, (PR).- Kemacetan akan terus terjadi di pusat Kota Bandung menjelang Hari Raya Idulfitri. Kondisi padatnya kendaraan di ruas-ruas jalan utama menuju taman, lokasi wisata, dan pusat perbelanjaan telah menjadi peristiwa tahunan setiap akhir Ramadan.

Dari pantauan Dinas Perhubungan Kota Bandung tiga hari terakhir, telah terjadi peningkatan jumlah kendaraan di banyak ruas jalan di Kota Bandung. Kepadatan lalu lintas terjadi di jalanan pusat kota dan di sekitar pusat keramaian.

“Secara general volume kendaraan bertambah. Justru yang dipadati daerah perbelanjaan dan kemacetan terjadi siang sampai malam,” ujar Kepala Seksi Manajemen Transportasi Dinas Perhubungan Kota Bandung, Sultoni, di Bandung, Minggu, 26 Mei 2019.

Kepadatan lalu lintas terjadi diprediksi karena kendaraan warga Kota Bandung keluar di jam yang sama. Jumlah kendaraan yang memenuhi jalanan juga ditambah dari luar Kota Bandung.

Pantauan Dishub Kota Bandung dilakukan sejak Jumat, 24 Mei 2019, volume kendaraan juga sudah mulai meningkat dari arah gerbang masuk Kota Bandung. Kendaraan mulai menyerbu dari arah Jalan Kopo, Jalan Mohammad Toha, Jalan Buahbatu, hingga batas kota dari Bunderan Cibiru dan Bunderan Cibeureum.

Gelombang kendaraan juga terpantau dari pintu keluar tol. Kepadatan mulai terjadi saat menemui sejumlah persimpangan di Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Lingkar Selatan, Jalan PHH Mustopa, dan Jalan Andir.

Pusat keramaian yang jadi menimbulkan kemacetan terlihat di Alun-alun Ujungberung, Tegallega, Pasar Baru, serta sekitaran Pasar Andir. Sementara mal yang disasar warga dan menciptakan kemacetan di sekitarnya terpantau di Sukajadi, Balubur, Pasirkaliki, Merdeka, Riau, Kebonkalapa, Kapatihan, hingga Gatot Subroto.

Dishub Kota Bandung juga menempatkan sejumlah petugas yang membantu personel kepolisian. Selain dilakukan pengaturan manual, sejumlah ruas diberlakukan sistem buka-tutup jalur.

“Kondisional, Tamansari mengarah utara dilakukan buka-tutup jalur, Pasirkaliki dan Sukajadi mengarah utara dilakukan buka-tutup jalur, dan Otista-Pasarbaru mengarah Tegallega juga dilakukan buka-tutup jalur,” ujar Sultoni.

Ia menambahkan, kepadatan yang terjadi diakibatkan meningkatnya volume kendaraan. Petugas Dishub berupaya melakukan tindakan bersama kepolisian, salah satunya dengan pemasangan water barrier untuk mengarahkan pengendara dengan sistem kanal kondisional.  

Walau begitu, masih ada beberapa ruas jalan yang sudah tidak mampu menampung lonjakan kendaraan karena sudah melebihi kapasitas normal. Sejumlah persimpangan pun dilakukan pengaturan manual. Saking padatnya, kendaraan berjejal di tengah sejumlah persimpangan dengan posisi mengunci dari berbagai arah.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kata Sultoni, kondisi lalu lintas yang menjejali jalanan Kota Bandung ini diprediksi masih akan berlangsung hingga malam takbiran. Untuk mengurangi kemacetan, petugas sudah ditugaskan sejak pagi hari.

“Memang kepadatan terjadi siang sampai malam. Malah jam 9 pagi arus kendaraan sudah mulai (masuk pusat kota). Apalagi nanti mendekati Hari Raya Idulfitri. Biasanya sampai H-1. Pas Lebaran mulai kosong,” tuturnya.

Bandung sentral

Pengamat Ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bayu Kharisma mengatakan, Kota Bandung masih menjadi magnet bagi warga di luar daerah. Dengan ekonomi yang terus tumbuh, Bandung telah menjelma menjadi sentra ekonomi di antara wilayah sekitarnya.

Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi di Bandung belum didukung oleh kesiapan infrastruktur yang layak. Dengan kondisi ini, Kota Bandung kewalahan untuk menampung kunjungan masyarakat dari luar daerah.

“Karena sebagai penopang daerah di sekitarnya, infrastuktur Kota Bandung sebetulnya belum optimal untuk menjembatani kunjungan warga yang masuk ke Kota Bandung,” ujarnya.

Kepadatan saat menjelang Ramadan di pusat Kota Bandung diakibatkan kunjungan warga dari daerah Jakarta dan juga sekitar Bandung. Sebagai kota tujuan wisata dengan kelengkapan pusat perbelanjaan dan kuliner, Bandung termasuk kota paling menarik. Bayu menjelaskan, suasana wisata belanja itu otomatis merangsang munculnya konsumerisme.

“Bandung ini semakin lama semakin menjadi destinasi wisata dan belanja. Dari daerah berduyun-duyun ke Bandung,” katanya.

Posisinya dengan berbagai pusat perbelanjaan menjadi faktor pendorong Bandung sebagai destinasi wisata belanja. Di sisi lain, konsumerisme publik jelas tinggi. Adanya berbagai kegiatan ekonomi yang bergulir cepat di Kota Bandung otomatis memunculkan pola hidup yang berubah. Dengan perkembangan zaman dan kebutuhan gaya hidup yang bertambah, kecenderungan hedonisme semakin terbuka.

“Untuk kondisi saat ini ramai karena ada tradisi Lebaran, untuk mudik, dan daya beli semakin tinggi. Termasuk disebabkan karena adanya THR. Mengapa masyarakat lebih cenderung konsumerisme? Karena budaya mendorong masyarakat untuk meningkatkan tingkat konsumsinya,” ujarnya.***

Bagikan: