Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20 ° C

Selama Ramadan, Kasus Perceraian Menurun

Cecep Wijaya Sari
ILUSTRASI perceraian.*/PERCIKANIMAN.ID
ILUSTRASI perceraian.*/PERCIKANIMAN.ID

NGAMPRAH, (PR).- Jumlah perkara yang masuk ke Pengadilan Agama Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat mengalami penurunan selama Ramadan 1440 H. Hingga Jumat 24 Mei 2019, hanya 124 perkara yang masuk, sebagian besar masih perkara gugat cerai.

"Sementara pada April lalu, ada sekitar 300 perkara yang masuk. Jadi, selama Ramadan memang ada penurunan," kata Humas PA Ngamprah Ahmad Hodri kemarin.

Berdasarkan pengalamannya bertugas di beberapa daerah, menurut Hodri, penurunan jumlah perkara yang masuk sudah menjadi tren setiap memasuki bulan Ramadan. Namun, biasanya perkara yang masuk akan kembali melonjak setelah Lebaran nanti.

 "Khusus perkara yang sudah masuk bulan ini, kemungkinan diputuskan juga setelah Lebaran walaupun ada beberapa yang diputuskan di bulan ini juga," katanya.

Hodri menyebutkan, pelayanan selama Ramadan berjalan normal dimulai pukul 08.00 hingga 15.00. Kantor PA Ngamprah terakhir melayani pada Jumat (31/5/2019) dan kembali beroperasi melayani masyarakat pada 11 Juni mendatang. 

Secara keseluruhan, Pengadilan Agama Ngamprah yang resmi berdiri pada November 2018 lalu hingga Mei ini (7 bulan terakhir) menerima sekitar 1.500 perkara. Kasus cerai gugat banyak diajukan warga selatan seperti Cililin, Sindangkerta, Cipongkor, Gununghalu, dan Rongga. Penyebab utamanya dari faktor ekonomi, perselisihan rumah tangga, hingga adanya pihak ketiga. 

“Sebanyak 71 persennya atau 1.180 perkara sudah diputuskan. Faktor perceraian beragam mulai dari ekonomi, perselisihan rumah tangga dan pihak ketiga. Bahkan, hal sepele juga bisa langsung mengajukan cerai ke pengadilan," katanya.

Upaya mediasi

Dia menuturkan, pihaknya berupaya memediasi pasangan suami istri sebelum memutuskan bercerai. Namun, upaya mediasi ini cukup sulit jika pasutri mengedepankan emosi. Biasanya, hal itu terjadi pada pasangan dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang terbilang minim.

"Rata-rata, yang mengajukan cerai gugat pendidikannya SMP ke bawah, sedangkan pekerjaan suaminya kebanyakan buruh lepas," ujarnya seraya menambahkan, usia pasutri yang bercerai sekitar 30-40 tahun dengan usia perkawinan 5-10 tahun. 

Khusus bagi kalangan ASN, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengembangan Karier pada Badan Kepegawaian dan Pelatihan Sumber Daya Manusia KBB, Ali Kurniawan sebelumnya mengungkapkan, poses bercerai harus melalui tahapan yang sudah diatur sebelum masuk ke Pengadilan Agama. Dia mencontohkan, bila kasus itu terjadi di SKPD, kepala SKPD akan memanggil sebanyak tiga kali kepada yang bersangkutan untuk diselesaikan secara internal. 

Jika tetap keputusannya ingin berpisah, kepala SKPD tersebut melapor ke BKPSDM untuk mendaftarkan pengajuan cerai. “Jika hasil mediasi tetap tidak merubah keputusan yang bersangkutan, kami juga mengeluarkan rekomendasi untuk selanjutnya masuk ke Pengadilan Agama. Tapi, jika melihat tahun sebelumnya, banyak juga pasangan yang awalnya keukeuh ingin berpisah, akhirnya setelah kami mediasi bisa kembali bersatu," katanya.***

Bagikan: