Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Sebagian berawan, 17.6 ° C

Petani Hibahkan Lahan Untuk Pengeringan Jagung

Handri Handriansyah
PETANI jagung Isah (63) membersihkan kebun jagung dari tanaman rumput liar di kebun miliknya di Kampung Ciseupang, Desa Nagrog, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis 23 Mei 2019. Petani jagung banyak yang tidak mempunyai lahan penjemuran, padahal itu penting untuk menjaga kualitas hasil panen agar harga jual tidak turun.*/ADE MAMAD/PR
PETANI jagung Isah (63) membersihkan kebun jagung dari tanaman rumput liar di kebun miliknya di Kampung Ciseupang, Desa Nagrog, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis 23 Mei 2019. Petani jagung banyak yang tidak mempunyai lahan penjemuran, padahal itu penting untuk menjaga kualitas hasil panen agar harga jual tidak turun.*/ADE MAMAD/PR

SOREANG, (PR).- Petani jagung Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung akan menghibahkan lahan seluas lima hektar kepada pemerintah untuk pengembangan lahan pengeringan. Hal itu dilakukan demi akselerasi untuk menjadikan Kabupaten Bandung sebagai sentra jagung terbesar di Jawa Barat.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rido Manah, Kecamatan Nagreg Endang Saeful Rohman mengatakan, saat ini Kecamatan Nagreg sudah dikenal sebagai sentra jagung terbesar di Kabupaten Bandung. "Namun kami ingin meningkatkan statusnya menjadi level Jabar, jadi saya sudah siapkan lahan guna dihibahkan ke pemerintah untuk lahan pengeringan jagung," ujarnya seusai acara silaturahmi dengan Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan dan para petani Jagung di Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Rabu  malam 22 Mei  2019.

Menurut Endang, lahan pengeringan merupakan sarana pendukung pascapanen terpenting dalam budi daya jagung. Soalnya pengeringan memang menentukan kualitas hasil panen agar harga jualnya tidak menurun.

Endang menambahkan, saat ini Pemkab Bandung memang sudah memberikan fasilitas alat pengeringan. Namun alat tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan, karena selain kualitas jagungnya tak sebaik dikeringkan lewat penjemuran, biaya operasional alat tersebut  sangat besar.

Jika dikeringkan dengan penjemuran, kata Endang, jagung pipil tidak akan gosong dan kandungan gizinya tetap terjada. Selain itu, penjemuran tidak membutuhkan biaya apapun untuk bahan bakar seperti alat pengeringan.

Di sisi lain, Endang berharap, hibah lahan tersebut bisa membuat Pemkab Bandung memberi dukungan penuh terkait perizinan. "Mudah-mudahan dengan hibah lahan tersebut, proses perizinan bisa dipercepat, sehingga bisa segera dimanfaatkan oleh petani yang selama ini punya lahan tanam tetapi tak punya lahan penjemuran," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan berjanji akan mempermudah perizinan sarana pendukung pascapanen budi daya jagung, termasuk lahan pengeringan. "Potensi pertanian jagung di Kabupaten Bandung sangat besar, namun kita kalah cepat mengklaim sebagai salah satu sentra jagung terbesar dari Gorontalo," ucapnya.

Selain potensi lahan, kata Gun Gun, Kabupaten Bandung pun saat ini memiliki sarana pendukung berupa silo (gudang) yang masuk kategori terbaik nasional di Nagreg. Terlebih silo tersebut berlokasi di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut dengan akses yang strategis.

Saat ini, lokasi silo jagung Nagreg telah didukung tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi). Ke depan aksesibilitasnya akan semakin tinggi setelah rampungnya tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu).

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, saat ini luas lahan jagung di Kabupaten bandung mencapai 10.000-15.000 hektar per tahun. "Produktivitasnya mencapai rata-rata tujuh ton per hektar, sehingga produksi per tahun bisa mencapai 70.000-105.000 ton,"  ujarnya.***

Bagikan: