Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

Start Up Kota Bandung Harus Berdampak Sosial

Muhammad Fikry Mauludy
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Lama menyandang status kota pintar, Kota Bandung sudah saatnya naik kelas dengan mengembangkan bantuan digital yang berdampak sosial tinggi. Dibutuhkan banyak start up atau layanan digital yang bisa bermanfaat mendukung lingkungan inklusi, khususnya kemudahan yang menyentuh warga difabel.

Direktur Inkubator Bisnis SBM ITB Dina Dellyana mengatakan, pengembangan start up sudah harus melampaui tujuan revenue. Kota Bandung bisa menjadi pionir kota pintar dalam menyediakan layanan digital yang berdampak sosial tinggi.

“Banyak sekali ide, start up, atau aplikasi yang bisa diterapkan. Sebenarnya teknologi kan hanya sebagai yang membantu. Percuma canggih. Kalau tidak berguna, buat apa?” ujarnya, saat dihubungi, Selasa, 21 Mei 2019.

Dina menuturkan, motivasi merancang start up jangan sampai terjebak teknologi. Kehadiran teknologi akan sia-sia jika tidak merangkul kebutuhan warga Bandung.

Sejak lama, Bandung dipenuhi banyak ide dan memunculkan start up untuk mencoba menyelesaikan sejumlah persoalan warga Bandung.

Pada kompetisi Bandung Datathon 2019 belum lama ini bisa menjadi contoh betapa beragamnya rancangan baru yang bisa menjawab permasalahan yang selama ini tidak tersentuh. Pemenang pertama Bandung Datathon 2019 diberikan pada Tim Avion dari ITB yang menciptakan alat pengubah sinyal suara klakson menjadi getar. Alat itu membuka peluang tuna rungu memenuhi syarat keselamatan berkendara dan bisa mendapatkan SIM.  

“Setelah kompetisi ini ternyata muncul pemecah masalah bagi difabel, yang tuna netra susah mau berpindah tujuan, yang tuli juga sulit, jadi lebih terbuka. Yang saya amaze dari peserta betapa pedulinya mereka terhadap inklusifitas bagi warga Bandung. Jadi ide-ide yang kita pilih banyak yang memiliki nilai manfaat sosial yang tinggi,” tutur penggagas Bandung Datathon sejak 2016 itu.

Dina menjelaskan, ide yang berdampak sosial ini bisa menaikkan status kota pintar yang tengah dijaga Kota Bandung. Selain kebutuhan warga difabel, sejumlah ide muncul untuk membantu kekurangan masyarakat Bandung selama ini.

Contohnya, ada finalis Angkoters, sebuah aplikasi bagi warga yang memerlukan angkot sistem sewa atau carpooling, dengan kemudahan pencarian dan harga terjangkau. Dengan banyaknya proposal yang menyentuh ragam solusi, Dina merasa kemampuan dan kreasi anak muda Bandung terus berkembang.

“Kalau kita ngomongin start up, seringkali terjebak pada kapitalistik, mendatangkan revenue, tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat luas. Sekarang anak muda yang utilizing data, sehingga apa yang mereka tawarkan betul-betul kontekstual dengan apa yang menjadi masalah. Mereka pintar, secara problem and solution kebanyakan dapat,” katanya.

Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Ahyani Raksanagara menjelaskan, sejak digelar 2016 lalu Datathon memanfaatkan data terbuka dari Pemerintah Kota Bandung kemudian diolah oleh siapapun yang berpartisipasi, dan produk akhirnya berupa rekomendasi atau masukan untuk pemecahan masalah.

“Makanya kita memilih yang implementatif sebetulnya, pertama untuk memotivasi para SKPD untuk bisa dimanfaatkan. Kalau tidak bisa oleh pemerintah mungkin bisa dibiayai oleh perusahaan untuk kemanfaatan publik,” ujarnya.***

Bagikan: