Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Kena Rayuan Maut di Medsos Bisa Rugi 10 – 30 Juta

Handri Handriansyah
POLISI menunjukkan barang bukti penipuan bermodus rayuan dan hubungan asmara online, di Mapolres Bandung, Senin  malam 20 Mei 2019. Dari 7 tersangka yang diamankan, polisi berhasil menyita uang tunai Rp 142 juta, mobil, sepeda motor dan puluhan buku rekening serta kartu ATM.*/ HANDRI HANDRIANSYAH/PR
POLISI menunjukkan barang bukti penipuan bermodus rayuan dan hubungan asmara online, di Mapolres Bandung, Senin malam 20 Mei 2019. Dari 7 tersangka yang diamankan, polisi berhasil menyita uang tunai Rp 142 juta, mobil, sepeda motor dan puluhan buku rekening serta kartu ATM.*/ HANDRI HANDRIANSYAH/PR

SOREANG, (PR).- Jaringan penipu bermodus rayuan lewat media sosial diringkus jajaran Kepolisian Resor Bandung. Dari tujuh tersangka yang diamankan, polisi berhasil menyita barang bukti berupa kendaraan roda empat hingga uang, dan rekening bernilai total ratusan juta rupiah.

Kapolres Bandung Ajun Komisaris Besar Indra Hermawan melalui Wakapolres Komisaris Mikranuddin Syahputra mengatakan, lima tersangka berinisial MRH, RGB, Rd, AR dan AS, saat ini sudah dijebloskan di ruang tahanan Polres Bandung. "Sedangkan dua tersangka lain DF dan AMR, merupakan residivis yang masih berada di rumah lembaga pemasyarakatan (lapas)," ujarnya di Mapolres Bandung, Senin malam 20 Mei 2019.

Penangkapan pelaku, kata Mikra, berawal dari laporan yang diterima oleh polisi pada 12 Mei 2019. Hanya dalam waktu kurang dari sepekan, para tersangka pun berhasil ditangkap di berbagai lokasi pada 18 Mei 2019.

Semua tersangka adalah laki-laki yang memang sengaja mencari korban perempuan. "Modusnya adalah berkenalan dan merayu korban lewat media sosial," ucapnya.

Membuat akun palsu

Untuk mengelabui korban, para tersangka sengaja membuat akun palsu di media sosial dengan nama Putra Pratama. Selain mengunggah foto orang lain, para tersangka pun memberi keterangan bahwa sosok dalam akun tersebut adalah seorang pegawai pelayaran di PT Tangguh LNG Teluk Betuni, Papua.

Setelah berkenalan, tersangka yang berada di dalam lapas kemudian menjalin komunikasi dengan korban lewat aplikasi pesan singkat sampai mereka terjerat dan menjalin hubungan asmara. Beberapa waktu setelah berhubungan jarak jauh, tersangka kemudian mengajak korbannya untuk bertemu dengan janji memfasilitasi biaya kepulangan para korban nantinya.

Bujuk rayu tersangka diperkuat dengan menunjukkan tanda pengenal karyawan PT Tangguh LNG Teluk Betuni, dan cek senilai Rp 2 miliar yang ditujukan atas nama Putra Pratama. Namun sebelumnya, korban diminta untuk mentransfer sejumlah uang yang nantinya terganti setelah korban mendapat bagian dari pencairan cek tersebut.

Termakan bujuk rayu tersebut, sejumlah korban pun akhirnya rela memberikan uang kepada tersangka sebesar Rp 10-30 juta setiap orangnya. Uang tersebut ditransfer ke rekening atas nama Maryono dan Muhamad Rizky Hardiansyah di bank yang berbeda dan dipegang oleh para tersangka di luar lapas.

Para korban baru menyadari telah tertipu, karena tersangka tak bisa lagi dihubungi setelah uang ditransfer. "Yang melaporkan kejadian ini baru satu korban, namun kami yakin korbannya banyak karena pelaku sudah beraksi selama beberapa bulan di beberapa lokasi," kata Mikra.

Kecurigaan polisi akan banyaknya korban sangat beralasan karena jumlah barang bukti yang diamankan sangat banyak. Tercatat setidaknya ada 33 telefon genggam, uang tunai Rp 142 juta, 1 mobil mewah keluaran 2017, 3 sepeda motor, 73 buku rekening, 2 dompet dan 17 kartu ATM.

Mikra menegaskan, para tersangka akan dijerat 378 dan tatau 372 KUH Pidana tentang penipuan dan penggelapan. Selain itu, mereka juga akan dikenakan Undang-Undang ITE dan atau UU Nomor 8 Tahun 2010 pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

"Kami juga sudah bekerja sama dengan pihak bank untuk menelusuri kemungkinan barang bukti tindak pidana pencucian uang lainnya. Kami akan mencari aset-aset lain yang berhasil dibeli pelaku dengan uang hasil menipu para korban," tutur Mikra.***

Bagikan: