Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 16.4 ° C

Simulasi Rekayasa Sukajadi-Setiabudi-Cipaganti, Terjadi Penurunan Kepadatan

Muhammad Fikry Mauludy
SEJUMLAH kenda­ra­an berjejer di Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Minggu, 5 Mei 2019. Polisi kembali berencana merekayasa lalu lintas di Jalan Sukajadi yang awalnya dua arah menjadi satu arah menuju Jalan Setiabudi.*/ARIF HIDAYAH/PR
SEJUMLAH kenda­ra­an berjejer di Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Minggu, 5 Mei 2019. Polisi kembali berencana merekayasa lalu lintas di Jalan Sukajadi yang awalnya dua arah menjadi satu arah menuju Jalan Setiabudi.*/ARIF HIDAYAH/PR

BANDUNG, (PR).- Dinas Perhubungan Kota Bandung telah melakukan simulasi rekayasa kawasan Sukajadi-Setiabudi-Cipaganti hasil survei lapangan dan memanfaatkan perangkat lunak yang mampu menghitung dampak lalu lintas sekitar. Kepala Seksi Manajemen Transportasi Dinas Perhubungan Kota Bandung, Sultoni menuturkan, kajian telah dilakukan dalam beberapa hari.

Fokus survei dan simulasi dilakukan pada kondisi jalan terpadat, yakni pada akhir pekan. Momen itu untuk menghitung arus lalu lintas saat kepadatan tertinggi. “Simulasi dan survey itu memunculkan hasil analisa dampak rekayasa, terutama terhadap kecepatan dan waktu tempuh,” ujarnya, di Bandung, Senin, 20 Mei 2019.

Dari hasil simulasi, Jalan Cihampelas menjadi menjadi ruas yang mengalami perbaikan. Diprediksi akan terjadi penurunan kepadatan.

Rasio volume per kapasitas yang menjadi ukuran kapasitas jalan terhadap jumlah kendaraan yang melintas volume to capacity (VC) ratio yang sebelumnya 0.81 menjadi 0.73.

Kecepatan rata-rata kendaraan pun akan meningkat dari 20.1 kilometer per jam menjadi 27.4 kilometer per jam. Waktu tempuh terhitung rata-rata menjadi 18.8 menit dari sebelumnya 20.8 menit. Di ruas Jalan Sukajadi, yang menjadi satu arah ke wilayah utara, tercatat ada perubahan V/C Ratio dari 0.87 menjadi 0.80.

Dengan kecepatan rata-rata yang meningkat dari 11.2 menjadi 29.1 kilometer per jam, waktu tempuh diprediksi menjadi rata-rata 20.1 menit, dari sebelumnya yang bisa mencapai 30.2 menit. Di Jalan Setiabudi, V/C Ratio menurun sedikit dari 0.79 menjadi 0.76.

Waktu tempuh diperkirakan menurun tipis dari 25.2 menjadi 24.1 menit. Namun, kecepatan rata-rata diprediksi menurun dai 18.2 menjadi 17.8 kilometer per jam. Pengaruh rekayasa jalan ini terpantau di Jalan Cipaganti. Simulasi menghitung, V/C ratio 0,80 berubah menjadi 0,82.

Waktu tempuh pun menjadi berkurang, dari yang semula 24, 9 menit menjadi 23,7 menit. Selain itu, simulasi juga menunjukkan ada penurunan kecepatan  dari 15,6 km/jam menjadi 14,3 km/jam. Jalan Cipaganti diperkirakan mendapat pengalihan arus dari Jalan Cihampelas yang mengalami penurunan kepadatan kendaraan.

SUASANA lalu lintas di Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Selasa, 7 Mei 2019. Sejumlah warga menyambut baik rencana rekayasa jalan di kawasan Sukajadi, Setiabudhi, dan Cipaganti. Meskipun begitu, mereka meminta rekayasa jalan bisa mengantisipasi kemacetan di titik pertemuan jalan dua arah yang terdampak.*/ARIF HIDAYAH/PR

Sultoni mengatakan, kajian itu belum final. Ada sejumlah objek kajian untuk mendapatkan hasil perhitungan terbaik, termasuk menghitung keberadaan pedagang kaki lima di beberapa titik.

“Sebetulnya yang harus kita antisipasi adalah jalan-jalan penghubung dari ruas-ruas jalan tersebut, jalan-jalan kecil seperti Jalan Sederhana. Di jalan itu ada pedagang juga, ada parkirnya juga. Ini yang kita antisipasi,” tuturnya.

Dinas Perhubungan Kota Bandung juga masih akan membahas bersama pihak kepolisian. Pertimbangan lainnya adalah menghitung ulang durasi lampu pengatur persimpangan (APILL) hasil penyesuaian dengan perubahan arus kendaraan di setiap ruas jalan.

“Di kawasan itu juga mempertimbangkan lalu ada ambulans, kurang lebih 3-4 kendaraan per jam melewat ke sana. Kalau arusnya kita ubah khawatir ada pengaruh ke rumah sakit. Nanti kita lihat dulu apakah berubah semua atau ada core platform-nya. Itu belum final,” ucapnya.

Wali Kota Bandung Oded M. Danial menuturkan, uji coba rekayasa lalu lintas merupakan yang paling mudah dan relatif tanpa biaya untuk mengendalikan kepadatan lalu lintas di Kota Bandung.

“Rekayasa jalan itu kajiannya bisa kapan saja. Apabila sudah dicoba ternyata tidak tepat, kita bisa kembalikan (seperti semula). Ini juga tanpa anggaran, tanpa ada beban anggaran lebih,” katanya.

Ia juga meminta seluruh unsur memperkuat koordinasi agar rekayasa lalin itu bisa menciptakan hasil terbaik.

“Urusan jalan bukan hanya urusan Dishub (Dinas Perhubungan). Di situ ada PKL, di situ juga ada trotoar segala macam. Harus kuat koordinasinya dengan dinas yang lain,” tuturnya.***

Bagikan: