Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 19.8 ° C

Petani Butuh Bantuan Digital untuk Akses Pasar

Muhammad Fikry Mauludy
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Para petani masih membutuhkan bantuan teknologi untuk dapat menjaring pasar lebih luas. Dengan adanya marketplace, para petani bisa melangkahi rantai suplai yang selama ini dikendalikan bandar.

“Kalau dari segi pasar, supply chain itu panjang. Dengan adanya marketplace tentu petani bisa memutus peran bandar sehingga bisa langsung berhubungan dengan end-user (konsumen),” ujar Ketua Kelompok Tani Saghara Agri Pangalengan, Chandra Hayat (36), di Bandung, Senin, 20 Mei 2019.

Dari kelompok tani yang ada di Pangalengan, kata dia, berbagai keluhan terkait harga juga muncul akibat panjangnya rantai suplai. Mereka sulit mencari konsumen, atau bertemu konsumen secara langsung.

Dengan harus melewati para bandar di tengah rantai suplai, petani tidak bisa berbuat banyak dengan penentuan harga. Pendapatan yang diperoleh pun jauh dari harga pasar yang telah diterima konsumen. Padahal, kata dia, jika bisa berhubungan langsung maka petani bisa meraup untuk sekaligus meringankan nilai yang bisa dijangkau masyarakat.

Pengembangan yang bisa dilakukan kelompok petani sejauh ini hanya sebatas memanfaatkan pemasaran via media sosial. Dengan sistem kepercayaan, mereka berhubungan dengan pembeli tanpa pernah bertemu.

Kebutuhan petani akan teknologi yang membuka akses pasar secara luas juga akan meningkatkan animo anak muda di perkampungan untuk menjadi petani. Selama ini, kata Chandra, pemuda di Pangalengan lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik ketimbang menjadi petani. Dengan mudahnya mengakses pasar, ia yakin para pemuda akan kembali melirik lahan tani sebagai objek kreatifitas.

“Dengan adanya marketplace gratisan, petani tinggal menunggu terhubung dengan pembeli. Jika sebelumnya yang menentukan harga itu Bandar, sekarang kita yang menentukan harga. Tinggal klik, manfaatnya bisa lebih memperluas jaringan,” kata Chandra, yang telah 10 tahun menekuni komoditas kentang.

CEO dan founder aplikasi Kiosagro Hadiyan Nur Sofyan mengatakan, keluhan petani sebetulnya searah dengan kesulitan konsumen. Para petani sering mendapat hasil panen yang kurang menguntungkan, sementara konsumen kesulitan mendapatkan harga murah untuk mendapatkan produk unggulan.

Oleh karena itu, sejumlah anak muda membentuk Kiosagro sebagai marketplace berbentuk website dan aplikasi. Layanan digital ini diarahkan untuk komunitas lokal utamanya yang bergerak dibidang agro dan UMKM baik pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kelautan ataupun hasil olahan dari semua itu. 

“Kiosagro mempertemukan komunitas agro dengan masyarakat umum sebagai user atau pembeli sehingga akan terjadi kegiatan jual beli secara mudah, dengan fitur-fitur yang kami sediakan kegiatan berbelanja menjadi mudah aman menguntungkan,” ujarnya.

Di Kiosagro, ia meyakini untuk membuat dunia agro menjadi lebih sejahtera, meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, mempertemukan masyarakat dalam transaksi yang saling menguntungkan dan aman. 

“Para petani, peternak, nelayan, pengrajin dan semua komunitas agro dapat menjual hasil panen mereka secara langsung kepada masyarakat dengan harga yang lebih baik, dan masyarakat umum bisa mendapatkan harga terbaik yang lebih murah,” tuturnya.***

Bagikan: