Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Ponpes Muallafa Perlu Dukungan Umat

Eriyanti Nurmala Dewi
USTAZAH Irena Handono, pendiri Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) saat memberikan ceramah pada acara "Semarak Ramadan 1440 H," yang digelar GMI Jawa Barat di Hotel Savoy Homman, Rabu 15 Mei 2019.*/ ERIYANTI
USTAZAH Irena Handono, pendiri Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) saat memberikan ceramah pada acara "Semarak Ramadan 1440 H," yang digelar GMI Jawa Barat di Hotel Savoy Homman, Rabu 15 Mei 2019.*/ ERIYANTI

APA yang akan terjadi apabila akidah seorang perempuan mualaf labil? Kemungkinan yang akan terjadi, bukan hanya akidah perempuan itu yang terancam tapi juga akidah anak-anaknya. Sebab perempuan sebagai ibu dalam sebuah keluarga merupakan madrasah pertama bagi putra-putrinya.

Niat memperkokoh akidah para mualaf perempuan (muallafa) inilah yang mendorong ustazah Irena Handono mendirikan pondok pesantren (ponpes) Muallafa di Sentul Bogor. Sebuah pesantren yang menampung para mualaf perempuan untuk memperkokoh akidah mereka setelah berislam. 

"Jadi kita ingin selamatkan akidah mereka, sebab rata-rata mereka sudah tidak diterima lagi oleh keluarga besarnya karena mereka berislam," ujar Ustazah Irena Handono kepada "PR" usai memberikan tausiah tentang "Peradaban Islam dari Masa ke Masa" pada acara Semarak Ramadan yang diselenggarakan Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) Jawa Barat, di Hotel Savoy Homman, Jln Asia Afrika Bandung, Rabu 15 Mei 2019.

Namun niat baik tak selalu berjalan mulus. Ponpes yang sudah meluluskan alumni 6 angkatan ini, terkendala dalam operasional dan pengembangannya. Untuk operasional kata Irena, memerlulan lebih kurang Rp 10 juta per bulan. Biaya ini digunakan sepenuhnya untuk operasional muallafa selama mondok karena mereka tidak dipungut biaya. 

Para muallafa ini berdatangan dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan ada yang berasal dari Medan dan Kalimantan. "Rata-rata muallafa ini dari kalangan tidak mampu dan tidak diterima lagi di keluarga besarnya sehingga selama belajar di ponpes semua biaya kira gratiskan," jelas ustazah Irena. 

Kendala biaya juga terjadi dalam pengelolaan lahan. Ponpes berada di kawasan lahan cukup luas, di bagian belakangnya, kata Irena, terdapat kebun Rosela dan gedung pertemuan yang dapat disewakan. Namun fasilitas tersebut kurang maksimal karena keterbatasan perawatan.

Lebih dari itu, Irena juga ingin membuka sekolah kejuruan. Pasalnya, di kawasan tersebut belum ada sekolah setingkat SMA padahal rata-rata penduduk aslinya bukan dari kalangan mampu. Mereka harus menempuh jarak cukup jauh. "Jadi daerah ini memang sangat kontras, berdekatan dengan Sentul City yang mewah tapi penduduk aslinya serba terbatas," ujar Irena.***

 

USTAZAH Irena Handono, pendiri Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) saat memberikan ceramah pada acara "Semarak Ramadan 1440 H" yang digelar GMI Jawa Barat, di Hotel Savoy Homman, Rabu 15 Mei 2019.* / ERIYANTI NURMALA DEWI

Bagikan: