Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 17.3 ° C

TKN Jawa Barat Minta BPN Tolak Juga Hasil Pileg

Dewiyatini
KETUA DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi.*/ANTHIKA ASMARA/GM
KETUA DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi.*/ANTHIKA ASMARA/GM

BANDUNG,(PR).- Ketua Tim Kampanye Daerah Ma'ruf-Amin Jawa Barat Dedi Mulyadi menyayangkan sikap dari calon presiden 02 Prabowo Subianto yang menolak hasil pemilu 2019. Dengan sikapnya itu, dapat diartikan Prabowo yang merupakan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya juga tidak mengakui perolehan suara calon legislatif semua partai, termasuk melejitnya peroleh suara Gerindra.

Dedi mengatakan asumsi ini jelas berdasar mengingat Pemilu 2019 itu dilaksanakan satu paket kegiatan yang dipertanggungjawabkan oleh lembaga penyelenggara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari pusat, provinsi hingga tingkat KPPS. Pengawasannya pun berjenjang dari pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan hingga tingkat kelurahan/desa.

Oleh karena itu, ketika hasil pemilu itu dianggap curang, pemahaman itu berlaku paralel, yaitu berlaku bagi pemilihan presiden, DPD, DPR RI hingga DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota. "Penolakan terhadap hasil pemilu, sama saja dengan penolakan terhadap satu paket kegiatan. Bukan hanya penolakan terhadap hasil pilpres, tetapi juga hasil pemilihan DPD dan anggota legislatif dari pusat sampai daerah. Berarti konsekuensinya menolak hasil pileg di berbagai daerah," katanya dalam keterangan resmi, Rabu, 15 Mei 2019.

Jika Prabowo hanya menolak hasil pemilihan presiden, sementara pemilihan legislatif diterima, maka sikap tersebut menurut Dedi membingungkan.

“Kalau pemilu dianggap penuh kecurangan berarti pileg juga curang. Kalau pileg curang, berarti mereka yang mengalami peningkatan suara legislatif hari ini diperoleh dari hasil kecurangan," ujarnya.

Di satu sisi kubu Prabowo menolak hasil pemilu, tapi kata Dedi, mereka malah bangga dengan raihan suara signifikan di partainya. Bahkan, mereka sudah mengakui terlebih dahulu dan mengumumkan bahwa partainya di kabupaten atau kota ini mendapat sekian kursi, provinsi sekian kursi dan DPR RI meraih sekian kursi. "Saking bahagianya, sebagian dari caleg yang lolos tersebut  ada yang menggelar syukuran," katanya.

Dedi meminta pihak Prabowo konsisten dengan penolakannya. Bila menolak hasil pemilu, termasuk dengan pileg juga. Tidak parsial hanya dengan memilih hasil yang merugikan pihaknya. 

Menurut Dedi, kubu Prabowo harus memahami bahwa dalam pemilu itu terdapat aspek logis, yakni calon presiden memiliki dampak elektoral terhadap partai pengusung. Misalnya, di daerah ketika Jokowi-Ma'ruf menang, maka suara PDI-P mengalami kemenangan.

"Itu sebelumnya sudah diprediksi oleh riset yang diumumkan lembaga survei. Ada efek elektoral yang akan ditimbulkan pilpres. Yang paling menikmati kan PDI-P dan PKB. Sementara Golkar hanya bisa bertahan. Dan, kita terima itu sebagai sebuah konsekuensi dalam berpolitik," katanya.***

Bagikan: