Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 23.2 ° C

Kecamatan Cibiru Berusaha Pertahankan Lahan Terbuka Hijau

Muhammad Fikry Mauludy
KAWASAN Bandung Utara.*/DOK. PR
KAWASAN Bandung Utara.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Kecamatan Cibiru berupaya mempertahankan lahan yang sebagian besar masuk ke Kawasan Bandung Utara (KBU) sebagai ruang terbuka hijau dan area tangkapan air. Saat ini terdapat 76 hektare lahan milik Pemerintah Kota Bandung di Kecamatan Cibiru yang dijadikan lahan hijau sebagai wilayah resapan air.

Camat Cibiru Didin Dikayuana menyatakan, idealnya lahan kepemilikan Pemkot Bandung diperluas. Dengan begitu, luas gerak pertumbuhan permukiman bisa dijaga agar tidak didominasi bangunan perumahan.

“Kita tidak bisa mencegah masyarakat membuat rumah di tanah mereka sendiri. Di atas 750 meter (mdpl) memang rekomendasi gubernur, perizinan diperketat. Tetapi kita khawatir di luar keberadaan lahan pemkot 76 hektare itu sisanya ditumbuhi rumah-rumah dengan alami, (upaya menjaga lahan hijau) itu akan sia-sia,” ujarnya, di Balai Kota Bandung, Selasa, 14 Mei 2019.

Ia menjelaskan, luas lahan Kecamatan Cibiru mencapai 6,5 kilometer persegi. Terdapat 76 hektare lahan milik Pemkot Bandung. Hingga saat ini, baru 30 hektare yang dimanfaatkan. Ada sebagian 20 hektare yang dijadikan sawah abadi, serta 4.6 hektare untuk Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan 7 hektare untuk holtikultura.

Kecamatan Cibiru juga dihadapkan dengan pembangunan masif untuk kebutuhan perumahan warga. Saat di wilayah lain harga sudah mulai naik dan ruang semakin padat, kata Didin, Cibiru bisa menjadi target baru pembangunan perumahan.

“Kami mencoba untuk menjaga wilayah hijau ini. Yang agak repot lahan yang sedikit tetapi beranak pinak, membangun rumah ke samping, sehingga berat bagi kami. Mereka kebanyakan masyarakat menengah ke bawah,” tuturnya.

Pembangunan Taman Kehati di RT 01 RW 04 Kelurahan Palasari, Cibiru, Bandung, menjadi salah satu langkah Pemerintah Kota Bandung untuk memelihara lingkungan di KBU. Taman Kehati dibangun diatas lahan seluas 4,6 hektare.

Selain fungsi utamanya sebagai area konservasi air, Taman Kehati juga memiliki fungsi sebagai sarana rekreasi, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, ekowisata, ruang terbuka hijau, dan tutupan lahan vegetasi. Lokasi itu dipilih karena strategis, sebagai benteng pertahanan ekologi di KBU.

Pembangunan Taman Kehati diresmikan secara simbolis oleh Wali Kota Bandung Oded M. Danial dengan menanam pohon, akhir bulan lalu. “Setidaknya kegiatan konservasi ini akan memulihkan lingkungan di wilayah KBU, sehingga air dan tanah kembali pada fungsinya,” ujar Oded.

Oded menilai aktivitas pembangunan di wilayah KBU harus diimbangi dengan pemeliharaan lingkungan, sehingga dapat meminimalisir dampak negatif seperti bencana alam. Nantinya, peran area konservasi ini akan menahan air sehingga meminimalisir potensi banjir di wilayah Kota Bandung..

Oded juga berpesan kepada masyarakat Kota Bandung khususnya warga di wilayah KBU untuk menjaga lingkungan agar Kota Bandung terhindar dari dampak bencana alam.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Kamalia Purbani menyatakan, pembangunan area konservasi Taman Kehati merupakan langkah konkret Pemerintah Kota Bandung dalam melestarikan lingkungan di Kawasan Bandung Utara.

“DED (Detail Engineering Design)-nya sedang dalam tahap pembuatan, sehingga tahun 2020 Insyaallah sudah bisa dieksekusi,” ujar Kamalia. Kamalia menambahkan, konservasi air dan tanah juga akan dibangun di beberapa titik lain di Kota Bandung.***

Bagikan: