Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Cerita Para Milenial di TPS

Tri Joko Her Riadi
Pemilu 2019.*/ANTARA
Pemilu 2019.*/ANTARA

BERITA tentang kaum milenial dalam gelaran pemilihan umum (pemilu) 2019 berputar-putar di isu golongan putih (golput). Padahal, tidak sedikit anak-anak milenial yang bahkan berpartisipasi aktif dalam gelaran pemilu di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sebuah pengalaman yang mereka sebut telah “mengubah cara pandang”.

Bermula dari tugas kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, beberapa mahasiswa Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung ‘nekat’ melamar sebagai petugas di TPS. Ada yang jadi anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), ada juga yang jadi saksi partai politik (parpol) atau petugas pengawas.

Pengalaman selama ‘bekerja’ di hari-hari sekitar pencoblosan itulah yang dibagikan dalam diskusi di sebuah kafe di Jalan Ciumbuleuit, Jumat, 10 Mei 2019 sore.

“Awalnya, saya berpikir untuk mengerjakan tugas kuliah saja. Tapi setelah beberapa hari terlibat dalam pemilihan di TPS, saya memperoleh sesuatu yang baru. Cara pandang saya terhadap pemilu, dan juga terhadap politik, berubah,” kata Giovanni Fondege Zebua (22), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Govanni bertugas sebagai saksi salah satu parpol di TPS di Antapani Tengah, Kota Bandung. Uniknya, pemuda kristiani itu bekerja untuk salah satu parpol Islam. Awalnya Giovanni ragu mengambil peluang tersebut, namun akhirnya semua berjalan baik-baik saja.

“Ini pelajaran lain lagi yang saya peroleh. Tentang pentingnya keterbukaan, transparansi. Tidak baik kita berprasangka pada sesuatu sebelum kita menjalaninya sendiri,” kata pemuda berambut gondrong ini.

Dorotea Wulan (20) juga memanen pengalaman berharga selama gelaran pemilu. Bertugas sebagai saksi salah satu parpol di sebuah TPS di Kota Bekasi, dia menyadari semakin pentingnya bersikap terbuka dan adil terhadap fenomena-fenomena politik yang terjadi di tengah masyarakat. Dorotea juga semakin yakin tentang pentingnya kontribusi anak-anak muda dalam demokrasi.

“Karena menyaksikan sendiri di lapangan, saya merasakan betul bahwa pemilu itu berdampak langsung bagi kehidupan kita, anak-anak muda. Saya tidak bisa lagi berkata ‘siapa pun presidennya bakal sama saja’. Tidak bisa. Pilihan kita menentukan masa depan kita sendiri,” katanya.

Dijelaskan Dorotea, memilih menjadi petugas pada hari pencoblosan di TPS memang menyita waktu dan tenaga. Proses penghitungan suara berlangsung hingga larut malam. Belum lagi kerumitan ketika menyiapkan hari-H. Namun dia bersyukur sudah memperoleh pengalaman yang mengubah perspektifnya terhadap politik.

Dari golput hingga meninggalnya petugas KPPS  

Dalam diskusi yang berlansung lebih dari dua jam tersebut, beragam isu terkini juga dibahas. Mulai dari fenomena golput di kalangan anak muda hingga permasalahan serius terkait meninggalnya ratusan petugas KPPS. Beberapa peserta diskusi menyampaikan pertanyaan tentang itu.

“Sepanjang yang saya tahu, mayoritas petugas KPPS memang sudah berumur. Barangkali itu juga menjadi salah satu faktor kenapa banyak sekali kasus (meninggalnya petugas). Karena diselenggarakan serentak, pemilu ini membutuhkan tenaga ekstra. Barangkali ke depan memang harus lebih banyak anak muda yang mau jadi petugas,” ujar Dorotea.

Michael (20), yang menjadi petugas pengawas di salah satu TPS di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, berpendapat, harus ada evaluasi pelaksanaan pemilu serentak secara menyeluruh. Selain berdampak pada jatuhnya ratusan korban meninggal, pemilu serentak juga terbukti menenggelamkan pemilihan legislatif. Warga mendapatkan informasi yang terlalu minim terkait pileg karena tertutup oleh kompetisi pilpres.

“Barangkali pemilu dilangsungkan selama dua hari, bukan ditumpuk semua dalam satu hari seperti kemarin,” ucapnya.

Dosen Pendidikan Kewarganegaraan Sophan Ajie mengungkapkan, keterlibatan para mahasiswa dalam gelaran pilpres sebagai petugas di TPS merupakan salah satu cara bagi mereka untuk melihat sekaligus terlibat langsung dalam dinamika yang terjadi di masyarakat. Diskusi setelahnya menjadi cara menjaga sikap kritis.***

Bagikan: