Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 26.3 ° C

Baterai dari Tomat Busuk, Temuan Sumber Energi yang Ramah Lingkungan

Ririn Nur Febriani
Muhamad Abidin dan Fitri Isni Apriliany, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Informatika Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) berhasil membuat Baterei dari Tomat (Bamat). Inovasi mereka dinobatkan sebagai Juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah National Research Inovation Call for Paper of Agrotechnology (NURSERY) 2019 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang.*/RIRIN NF/PR
Muhamad Abidin dan Fitri Isni Apriliany, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Informatika Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) berhasil membuat Baterei dari Tomat (Bamat). Inovasi mereka dinobatkan sebagai Juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah National Research Inovation Call for Paper of Agrotechnology (NURSERY) 2019 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang.*/RIRIN NF/PR

ENERGI listrik berperan penting bagi kehidupan manusia karena menopang berbagai aktivitas. Namun, penggunaan energi listrik yang semakin meningkat tak sebanding dengan sumber energi yang terbatas.

Muhamad Abidin dan Fitri Isni Apriliany, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Informatika Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), tercetus ide untuk membuat energi terbarukan yang ramah lingkungan. Berbagai inspirasi digali hingga akhirnya berhasil membuat Baterai dari Tomat (Bamat). 

Hasil karya inovasi tersebut telah dinobatkan sebagai Juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah National Research Inovation Call for Paper of Agrotechnology (NURSERY) 2019 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang. Seleksi lomba tersebut berjenjang, mulai dari tahapan seleksi abstrak, seleksi full paper, dan tahap grand final hingga diumumkan sebagai pemenang pada 20 April 2019 lalu.

Abidin mengatakan, dirinya memulai riset membuat energi terbarukan dari jenis pangan yang mengandung asam. "Awalnya coba pakai belimbing wuluh tapi sulit ditemukan. Lalu dalam 1-2 bulan terakhir tercetus ide pakai tomat yang lebih mudah didapat, tapi tomat sudah punya nilai jual. Akhirnya diputuskan pakai tomat busuk, berlimpah mudah didapat dan harganya miring," ujarnya.

Sebagai negara agraris, dalam setahun produksi tomat Indonesia bisa mencapai 916.000 ton namun, 80 persen diantaranya busuk. "Di era industri pangan 4.0, saya lihat belum ada yang memanfaatkan tomat busuk. Sering juga petani membuang begitu saja tomat yang tidak bagus kualitasnya maupun yang busuk," ucapnya.

Untuk membuat Bamat, Abidin dan Fitri pun memanfaatkan baterai bekas. Didalam baterai mengandung berbagai macam logam berat seperti merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium dan kadmium. Jika dibuang sembarangan maka logam berat di dalamnya bakal mencemari air tanah dan membahayakan kesehatan seperti gangguan di sistem saraf pusat, ginjal, sistem reproduksi dan bahkan kanker.
 

Tomat busuk mengandung elektrolit diproses menjadi jus diukur tingkat keasamannya hingga pH stabil. Baterai bekas dikosongnya isinya, pasta timbal yang terkandung didalamnya digabung dengan jus tomat busuk dan dimasukkan lagi ke dalam baterai bekas.

Semakin tinggi tingkat keasaman dari buah, maka semakin baik dalam menghantarkan arus listrik dan juga semakin besar energi listrik yang akan dihasilkan. "Setelah berbagai variasi komposisi kita dapat Bamat yang bisa menyimpan voltase yang stabil. Baterai ini tidak hanya sekali pakai, tapi bisa diberi daya berulang. Dengan kandungan katoda-anoda pada baterai bekas ditambah elektrolit dari buah, maka baterai ini menjadi biobaterai," katanya.

Untuk penelitian awal, tidak butuh modal besar hingga berhasil membuat inovasi Bamat. Mereka bakal melanjutkan penelitian hingga mendapat voltase yang benar-benar stabil, masa pakai, dan ketahanannya. "Modalnya hanya puluhan ribu, tapi kami harapkan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Ingin tahu sejauh mana Bamat dapat dimanfaatkan pada berbagai perangkat elektronik. Kita sudah uji coba pada dinamo, dan bisa berfungsi," jelasnya.

Dengan memanfaatkan tomat busuk, lanjut dia, diharapkan tomat busuk yang melimpah di lapangan bisa termanfaatkan. "Terutama dapat memberi kesejahteraan bagi petani karena tomat busuk pun bisa kita manfaatkan," tuturnya.

Dosen pembimbing sekaligus Ketua LPPM Unjani Dr. Anceu Murniati, S.Si., M.Si. mengatakan, peran perguruan tinggi berkontribusi dalam inovasi dan penemuan karya baru. "Dalam hal ini, Abidin dan Fitri memanfaatkan sesuatu yang biasanya tidak dilirik menjadi bermanfaat. Selain memanfaatkan tomat busuk, juga mengurangi limbah B3 dengan penggunaan kembali baterai bekas sehingga menjadi baterai sekunder yang bisa diberi daya ulang," ujarnya.

Inovasi awal tersebut bakal dikembangkan dengan riset lanjutan. "Bisa dikembangkan dengan bahan pangan lain dalam mencari teru energi terbarukan, menjadi tantangan bagi dunia kampus," ungkapnya.

Bebas skripsi

Rektor Unjani Witjaksono mengapresiasi penemuan tersebut. "Bagaimana ilmu di perkuliahan bisa diterapkan dalam dunia nyata, terutama bisa memberi manfaat sebesar-besarnya," katanya.

Pihaknya berharap industri mau menyambut penemuan tersebut. "Untuk industri bagaimana merespon alat ini, apalagi Bamat bisa dipakai berulang sehingga efisien untuk masyarakat serta turut berkontribusi dalam perlindungan kesehatan karena limbah B3 baterai bisa dipakai juga," ungkapnya.

Dia bakal mengganjar mahasiswa berprestasi dengan bebas dari kewajiban skripsi. "Penelitian Bamat selain meninhjatkan profil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan prestasi mahasiswa. Mahasiswa yang menjuarai Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) atau ajang sejenis bakal diberi reward tidak dibebankan kewajiban skripai dengan catatan digantikan dengan publikasi riset atas karya yang dilombakan, semoga hal ini memicu mahasiswa untuk lebih giat berinovasi dengan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," tandasnya.***

Bagikan: