Pikiran Rakyat
USD Jual 14.014,00 Beli 14.112,00 | Langit cerah, 18.3 ° C

Belajar Mandiri dari Restoran untuk Anak Autisme

Tri Joko Her Riadi
ANAK penyandang autisme belajar kemandirian di restoran. Kegiatan ini digagas oleh KPAS yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 April 2019.*/ARIF HIDAYAH/PR
ANAK penyandang autisme belajar kemandirian di restoran. Kegiatan ini digagas oleh KPAS yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 April 2019.*/ARIF HIDAYAH/PR

SENYUM ceria bertebaran di sudut-sudut halaman belakang restoran Srundeng di bilangan Gatot Subroto, Kota Bandung, Sabtu, 27 April 2019siang. Ivan (24) mengoleskan bumbu ke beberapa tusuk sate, Fikri (20) menyiapkan es teh manis, sementara Paul (24) memainkan jemarinya di tuts keyboard.

Sajian makan siang kali ini demikian istimewa karena Ivan, Fikri, dan Paul bukan pegawai restoran yang yang mengkhususkan diri pada menu masakan tradisional Indonesia tersebut. Ketiganya merupakan anak-anak dengan autisme. Bersama mereka, terdapat enam lagi anak dengan autisme yang berbagi peran melayani pengunjung restoran. Ada yang menerima tamu, yang lain mengantarkan pesanan.

Mendapat pendampingan dari pegawai restoran, Fikri secara tekun memperhatikan tahap demi tahap penyajian minuman. Selain beberapa gelas es teh manis, ia juga berhasil menyiapkan dua gelas mojito yang dipesan pengunjung. Senyum tidak pernah lepas dari anak muda yang dalam proses penyiapan minuman bisa tiba-tiba meloncat tinggi-tinggi.

“Kami mengetahui keistimewaan Fikri ketika ia berumur tiga tahun. Ia tidak pernah merasa lelah, hiperaktif. Sejak kecil, Fikri kami ikutkan ke beragam kegiatan agar energinya tersalurkan secara positif. Sekarang ia aktif berlatih atletik dan taekwondo,” ucap Siti Martati Sani, sang ibu.

Belajar menjadi pelayan di restoran merupakan bagian dari kegiatan “Kafe Obras” yang dirintis para orang tua anak dengan autisme yang bergabung dalam Komunitas Peduli Anak Spesial (KPAS) Bandung. Persiapan dilakukan selama satu bulan. Tujuannya, menyemangati para penyandang autisme dan orangtua mereka untuk melihat peluang-peluang menjadi pribadi mandiri.

“Di usia produktif seperti saat ini, sudah saatnya bagi anak-anak dengan autisme dikenalkan dengan kemandirian. Tidak mungkin kami para orang tua selamanya hanya berpindah-pindah dari satu tempat terapi ke tempat terapi lain. Kami mulai memiikirkan bagaimana agar anak-anak kami bisa mandiri,” tutur Nursasongko, Ketua KPAS.

Dijelaskan Nursasongko, KPAS dibentuk dengan keyakinan bersama atas peran sentral orang tua dalam pendampingan anak dengan autisme. Terapi dan tindakan secara medis tetap dilakukan, namun sikap dan keputusan para orangtua-lah yang menjadi kunci menuju kemandirian. Selain belajar bekerja di restoran, para anak dengan autisme juga menghasilkan karya lewat kerajinan kriya dan paduan suara.

Alvin Setyadarma, koordinator Kafe Obras, percaya betul, anak dengan autisme dapat bekerja di layanan restoran. Ia sendiri sejak beberapa bulan lalu menyediakan akses bagi empat anak dengan autisme untuk magang di sebuah warung kopi miliknya. Dari awalnya bekerja selama 10-15 menit saja, mereka kini bisa bertahan hingga satu jam.

“Keberhasilan seperti inilah yang selalu membahagiakan kami. Bagi ukuran umum, mungkin tidak kelihatan mencolok, tapi bagi para penyandang autisme, bisa berkonsentrasi selama satu jam penuh merupakan prestasi luar biasa yang harus kita apresiasi,” ucapnya.

Alvin menyimpan mimpi besar tentang lahirnya sebuah restoran yang dijalankan oleh para penyandang autisme. Ia melihatnya bukan sebagai sebuah kemustahilan. Di beberapa negara maju, restoran istimewa semacam ini sudah ada dan terbukti bisa berkembang pesat.
 

Masih terganjal stigma

Di luar upaya merintis kemandirian, tantangan bagi pendampingan anak-anak dengan autisme masih begitu banyak. Beberapa bahkan terkait hak dasar mereka, mulai dari akses kesehatan hingga pendidikan. Selain mahalnya biaya pendidikan, kendala yang umumnya disampaikan para orangtua adalah masih adanya stigma dan bahkan penolakan di tengah-tengah masyarakat.

Sumini bercertia bagaiaman para orangtua di sekolah anaknya pernah menyampaikan penolakan. Mereka ingin agar kelas tidak menyertakan anak dengan autisme karena khawatir bakal mengganggu siswa-siswa yang lain. Bahkan ada yang takut autisme itu akan menular ke anak mereka.

“Saya tidak mau menyerah. Bersama beberapa orangtua lain yang peduli, saya mengadakan seminar tentang autisme di sekolah. Dokter dan praktisi kesehatan kami undang. Alhamdulilah, setelah itu tidak ada lagi penolakan,” ucapnya.

Tak hanya di lingkungan sekolah, stigma juga masih dengan mudah ditemui di ruang-ruang publik, mulai dari taman kota hingga pusat belanja. Di sinilah, peran orang tua betul-betul diuji.

“Di tahun-tahun awal, kami semua tentu kerepotan menerima dan mendampingi anak-anak kami yang istimewa ini,” tutur Yati Mulyati. “Namun dengan berjalannya waktu, saat ini kami merasa bahwa kamilah yang justru banyak belajar dari anak-anak kami.”***

Bagikan: