Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.2 ° C

Pemprov Jabar Bangun Migran Center

Eva Fahas
KABID Latihan dan Produktifitas Disnakertrans Jabar, Edi Bahtiar mewakili Kadis Disnakertrans Jabar, MA Afriandi membuka secara resmi Tes Fisik Seleksi Calon Peserta Program Magang di Jepang Tahun 2019, yang diadakan oleh Disnakertrans Jabar, di Saraga ITB, Jln. Taman Sari Bandung,  Rabu, 24 April 2019.*/DOK. DISNAKERTRANS JABAR
KABID Latihan dan Produktifitas Disnakertrans Jabar, Edi Bahtiar mewakili Kadis Disnakertrans Jabar, MA Afriandi membuka secara resmi Tes Fisik Seleksi Calon Peserta Program Magang di Jepang Tahun 2019, yang diadakan oleh Disnakertrans Jabar, di Saraga ITB, Jln. Taman Sari Bandung, Rabu, 24 April 2019.*/DOK. DISNAKERTRANS JABAR

BANDUNG, (PR).- Pemerintah Provinsi Jabar akan segera mewujudkan lembaga Migran Center yang merupakan proyek percontohan bagi daerah lain di Indonesia atau menjadi acuan tingkat nasional. Model Migran Center diharapkan dapat menjadi pusat pemberdayaan tenaga kerja Indonesia yang berkualitas, dengan memanfaatkan potensi para purnamigran yang tersebar di Jabar.

“Untuk itu, bersama instansi terkait seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat  dan Desa, Asosiasi Purna Migran, dan lainnya, kami intensif melakukan komunikasi dan koordinasi. Mudah-mudahan kita bisa merealisasikan Migran Juara,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar, MA Afriandi dalam keterangan persnya.

Eksistensi dan kiprah Migran Center yang kemudian menjadi Migran Juara ini, menurut Afriandi, merupakan suatu hal yang urgen dan signifikan dalam upaya menjadikan Jabar Juara Lahir Batin. Migran Juara merupakan produk kolaborasi dan inovasi dari berbagai pihak terkait, yang dampak positifnya antara lain meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja di Jabar serta mengatasi kian meningkatnya pengangguran.

“Jumlah pengangguran di Jabar ini mencapai 1,85 juta orang. Tentunya jumlah tersebut, bisa meningkat seiring dengan perkembangan waktu. Dengan model Migran Juara itu, jelas diharapkan terjadi pengurangan angka pengangguran. Karena, aksi dari model yang melibatkan para purnamigran dipastikan merupakan terobosan baru bagi peningkatan kualitas tenaga kerja dan citra Indonesia di luar negeri,” tutur Afriandi, sambil menambahkan para purna migran akan menjadi instruktur tenaga kerja Indonesia yang diandalkan.
 

Ilustrasi.*/ADE BAYU INDRA/PR

Organisasi buruh dunia

Menyinggung tentang realisasi kerjasama dengan instansi terkait, ungkap Afriandi, Disnakertrans Jabar secepatnya berkolaborasi dan berinovasi dengan DPM Desa Jabar melalui unit-unit training di Migran Center bentukan Disnakertrans Jabar. “Dalam program One Village One Company (OVOC) dan One Pesantren One Produk yang digagas Kang Emil dan Kang Uu, misalnya, Disnakertrans Jabar menurunkan program mempersiapkan tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan potensi pembangunan di desa-desa Jabar,” ujarnya.

Desa Digital dan BUMDes, itu merupakan program pembangunan yang memerlukan tenaga kerja yang terdidik dan berkualitas. Dalam hal ini, balai-balai latihan kerja yang ditangani Disnakertrans Jabar siap memberikan berbagai konsep terobosan penyelenggaraan pelatihan yang produknya siap pakai. Instrukturnya yang merupakan purna migran dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan negara lainnya, itu berpeluang mengajarkan pengalamannya kepada para calon tenaga kerja asal Jabar.

Menjawab pertanyaan tentang upaya pemerintah melindungi para tenaga kerja Indonesia di luar negeri dan prospeknya di Indonesia, Afriandi mengemukakan, beberapa waktu lalu dilakukan upaya terobosan bersama tim akselerasi Pemprov Jabar. Upaya tersebut antara lain melakukan pertemuan dengan organisasi buruh dunia, sehingga  dapat diketahui permasalahan yang sesungguhnya terjadi di dunia buruh serta bisa disusun program aksi bersama.

“Bersama ILO yang merupakan organisasi buruh dunia itu, disepakati ada rencana aksi yang selama ini tidak dilakukan oleh kita di Jabar. Di Jabar ini kan potensi buruh dan bidang pekerjaan garmen cukup tinggi. Sementara angka pengangguran terus naik, tuntutan buruh juga tak henti-hentinya. Kesejahteraan para buruh, jelas menjadi bagian perhatian pemerintah,” kata Afriandi, seraya menjelaskan pihak ILO menyambut hangat adanya langkah terobosan Disnakertrans Jabar.
 

ILUSTRASI. Pekerja Migran Indonesia.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

Magang di Jepang

Berkaitan dengan program jangka pendek Disnakertrans Jabar, Afriandi menjelaskan, secepatnya akan dikirim sejumlah tenaga kerja asal berbagai daerah di Jabar ke Jepang. Mereka akan menjalani program magang di Jepang selama tiga tahun. “Sesuai dengan kebutuhan pasar, kami kini tidak hanya mempersiapkan hal teknis, tapi juga memberikan pembekalan bagi para calon tenaga magang ke Jepang yakni bahasa Jepang dan pemahaman sosial-budaya Jepang,” kata Afriandi, dalam penjelasannya bersama Kabid Latihan dan Produktifitas Disnakertrans Jabar, Edi Bahtiar.

Program magang di Jepang ini merupakan realisasi Memorandum of Understanding (MoU) antara Direktorat Jenderal Binalattas Kemnakertrans ri dengan The Association for International Manpower Development of Medium and Smail Enterpreises Japan (IM) pada 16 September 1994. “Jumpah pendaftarnya meningkat setiap tahunnya. Hanya sayangnya, jumlah peserta yang lolos seleksi masih rendah. Kami berharap, dari 100 persen pendaftar maka 100 persen pula yang lolosnya magang ke Jepang” tuturnya.

Edi Bahtiar menjelaskan, ada 61 jenis pekerjaan magang di Jepang yang akan dijalani oleh para peserta dari berbagai daerah di Jabar antara lain bidang konstruksi bangunan, operator mesin industri, instalasi bangunan, produksi busana, pembuatan dan perawatan mesin, perakitan elekronik, perakitan mesin, pengecoran bahan bangunan, pembuatan peralatan rumah tangga dan tempat tidur, pertanian, dll.

“Peserta magang selain harus memenuhi persyaratan administrasi, juga persyaratan teknis seperti pendidikan minimal SLTA atau sederajat, lulus kesamaptaan tubuh, lulus tes matematika dasar, lulus tes ketahanan fisik, lulus wawancara, dan lulus medical check up,” ujar Edi Bahtiar.

Koordinator Rekrutmen Calon Pemagang di Jepang, Subardi mengemukakan, peserta pada bulan pertama di Jepang menjalani masa berlatih sambil bekerja di training-training center perusahaan tertentu. Selanjutnya, mulai bulan ke 2 hingga ke 12 akan dievaluasi kompetensinya dan direncanakan penempatannya.  “Program bulan kedua hingga selesai itu disebut juga sebagai praktek kerja nyata. Mereka akan dilindungi undang-undang perburuhan  di Jepang  dan sudah diperbolehkan kerja lembur,” kata Subardi.

Selama magang, ujar Subardi, peserta akan memperoleh sejumlah fasilitas dan uang tunjangan. Dalam bulan pertama, peserta magang terima uang tunjangan sebesar 80.000 Yen. Demikian halnya, saat lembur kerja akan memperoleh uang lembur. Sejak bulan kedua hingga ke 24, peserta magang terima dana 90.000 Yuan. “Bulan-bulan selanjutnya menerima 100.000 Yen. Total setelah tiga tahun magang, peserta dapat dana yang bisa dibawa pulang dalam jumlah besar. Karena, mereka bisa menabung," ungkap Subardi. ***

 

Bagikan: