Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Hampir Seluruh Taman di Bandung Dirusak

Muhammad Fikry Mauludy
PATUNG Gundala meringis dengan menyisakan satu tangan karena rusak dan belum diperbaiki, di Taman Superhero, Jalan Anggrek, Kota Bandung, Selasa, 16 April 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR
PATUNG Gundala meringis dengan menyisakan satu tangan karena rusak dan belum diperbaiki, di Taman Superhero, Jalan Anggrek, Kota Bandung, Selasa, 16 April 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Keberadaan taman-taman di Kota Bandung terus dibayangi kenaikan anggaran pemeliharaan setiap tahun. Dari 29 taman tematik yang ada di Kota Bandung, nyaris tidak ada taman yang tidak mengalami kerusakan dan pencurian.

“Hampir semua taman ini pasti ada kerusakannya. Belum pernah saya lihat taman tidak dirusak. Taman itu ada pengunjungnya, ada pemanfaatnya. Tetapi kadang mereka tidak semua tertib memanfaatkannya,” ujar Kepala Bidang Pertamanan pada Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman, Pertanahan, dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung Iwan Sugiono, di Balai Kota Bandung, Selasa, 23 April 2019.

Di Kota Bandung, kata dia, masih banyak vandalisme, pencurian lampu, besi, fasilitas, hingga ornamen taman. Dari beberapa desain pendukung fasilitas taman, Iwan menjelaskan, DPKP3 Kota Bandung sejak awal mencoba menyediakan fasilitas yang mempersulit pencurian atau perusakan. Namun, beberapa kali mesin air mancur yang beratnya bisa mencapai 40 kilogram pun dengan mudah raib.

“Kita membiayai itu puluhan juta. Dicuri, dijual, paling ratusan ribu. Makanya kita mengimbau bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi masyarakat ikut berkolaborasi. Laporkan saja, biar nanti kita ke lapangan. Biar ada kepedulian dari masyarakat,” katanya.

Iwan menuturkan, besi sekuat apapun bisa dengan mudah hilang atau dipotong menggunakan gergaji. Salah satunya bendera negara Asia Afrika yang tertancap menggunakan besi kukuh di atas batu bollard pelindung pejalan kaki, di sepanjang Jalan Asia Afrika.

“Kursi untuk duduk saja sampai patah besinya? Ini banyak yang dipakai berdiri dan dirusak dengan sengaja. Yang mencuri, merusak, itu ada yang melihat. Cuma kurang kepedulian. Ini seperti yang di Babakan Siliwangi itu lampu-lampu banyak yang dicuri. Besi pengaman banyak dicuri. Itu akibatnya akan kecelakaan,” katanya.

Mereka juga beberapa kali menemukan dan menegur warga yang main skateboard di taman. Sejumlah material taman diyakini rusak akibat aktivitas skateboard di dalam area taman.

“Padahal kita sudah memberikan fasilitas taman skateboard di dekat Taman Jomblo. Tetapi mereka tetap bawa alat ke Taman Inklusi, Taman Cikapayang. Padahal di situ ada ornamen lancip, batu, kalau dipakai skateboard itu pecah-pecah, padahal sayang anggaran perbaikan bisa dialokasikan yang lebih perlu,” ujar Iwan.

Mereka juga menyoroti keberadaan gelandangan dan anak jalanan yang dikhawatirkan berpotensi mengarah pada perusakan atau pencurian di taman. Sebetulnya, kata dia, DPKP3 semua taman dilengkapi CCTV, terutama taman-taman aktif kita pasang CCTV untuk pengendalian dan pengawasan. Mereka hanya bisa sebatas menegur atau memviralkan pelaku perusakan karena tidak mau melangkahi atau mengambil alih kewenangan.  

“Makanya kita ditekannya pemeliharaan setiap hari ke lapangan. Kita juga memelihara seluruhnya ini untuk 29 taman tematik, taman lingkungan total 688 taman. Tidak bisa tiga hari seminggu ini harus setiap hari, karena kita berhadapan dengan makhluk hidup,” ujarnya.

Kebutuhan perbaikan dari tahun ke tahun naik. Meski begitu, anggaran yang ada belum memadai. Tahun 2019, hanya tersedia Rp 21 miliar termasuk untuk perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan.

“Karena bagaimana pun juga kita tidak memungkiri, jumlah wisatawan dan jumlah penduduk setiap tahun meningkat juga. Artinya kebutuhannya pasti,” ujarnya.***

Bagikan: