Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Viral di Media Sosial, Nabila Kebanjiran Hadiah dan Uang Bantuan

Hendro Susilo Husodo
Sepatu milik Nabila.*/HENDRO HUSODO/PR
Sepatu milik Nabila.*/HENDRO HUSODO/PR

SEBUAH rumah di Kampung Cibodas, RT 3 RW 7, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, dipenuhi orang pada Rabu, 17 April 2019 siang. Rumah itu jauh lebih ramai dibandingkan suasana di tempat pemungutan suara (TPS), yang berjarak selemparan batu dari rumah itu.

Adalah Nabila (12) yang membuat rumah itu jadi kerumunan. Bocah kelas 6 di SD Negeri Pangauban itu mendadak tenar setelah cuplikan video berdurasi 28 detik viral di media sosial sejak tiga hari terakhir ini. Banyak orang yang berempati kepada Bila -nama panggilannya- lalu mendatangi rumahnya dan memberikan berbagai barang.

"Saya memulung rongsokan, dijual langsung. Saya harus capek-capek dulu buat beli sepatu. Saya ditinggalkan oleh ibu dan bapak saya. Kalian sih tidak," ujar Bila di video viral itu, yang dinyatakan dalam bahasa Sunda. 

"PR" mendapatkan video yang lebih lebih utuh, bertempo 8 menit 39 detik. Di video itu, Bila tampak beradu mulut dengan temannya. Dia menangis dan marah dengan mengeluarkan kata-kata kasar, karena sepatu hasil jerih payahnya diduduki. Perselisihan khas anak-anak itu memanas karena ada anak yang mengompori, meski anak yang menduduki sepatu Bila sudah meminta maaf.

"Bilang, katanya, Ema, Bila habis berantem dengan teman-teman di sekolah. Gara-gara apa, dijawab oleh Bila... saya ngepel tapi teman-teman menginjak-injak lantai. Sepatu kamu mana? Padahal diduduki oleh temannya," kata Ira (60), neneknya Bila, menirukan percakapan dengan cucunya.

Bersama suaminya, Cece (70), dia terus-terusan menerima tamu, karena saat itu Bila sedang diajak jalan-jalan oleh polisi wanita dari Polres Bandung. "Diajak keluar dari sekitar jam 11.30. Dibawa main ke Paris Van Java, diajak makan terus beli sepatu dan tas," kata Bripda Widya Marisa, polwan yang mengajak pergi Bila. 

Sekitar pukul 14.30, Widya dan rekannya mengembalikan Bila ke rumahnya. Orang-orang yang berkerumun menyambut Bila. Tetangga, saudara, warganet, petugas sosial, aparat pemerintah, hingga selebritas bergantian menyalami dan berfoto dengan Bila. 

"Pusing naik mobil," kata Bila. Dia tak banyak berbicara. Wajahnya tampak kebingungan, tapi tak bisa menutupi rona gembira. Orang-orang yang menemuinya memberikan hadiah atau uang melalui kakek dan neneknya.

NABILA.*/HENDRO HUSODO/PR

Di jagat maya, donasi untuk Bila juga terus digalang. Hingga Rabu (17/4/2019) pukul 19.30, Ahmad Suhendar yang menggalang donasi melalui Kitabisa.com telah menghimpun Rp 323 juta. Masih di Kitabisa.com, akun Faradita Aulia juga sudah mengumpulkan Rp 530 ribu. Di Instagram, akun @lembangnews melaporkan sudah mengumpulkan donasi buat bila sebanyak Rp 24,3 juta sampai Rabu (17/4/2019) pukul 11.00.

Perhatian publik tersebut sebelumnya berbanding terbalik dengan nasib Bila beserta kakek dan neneknya. Sejak masih berumur 40 hari, Bila ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Bapaknya menikah lagi dan menetap di Sukabumi, sedangkan ibunya kerja di tempat hiburan di Kalimantan.  

Hidup bersama kakek dan neneknya, Bila harus meninggalkan rumah yang sebelumnya ditempati di Cimahi. Mereka bertiga pindah ke Pangauban, setelah rumah di Cimahi dijual untuk menutupi hutang buat pengobatan kakeknya. 

"Bapaknya sesekali menengok ke sini, setiap beberapa bulan sekali. Itu juga tidak lama, paling setengah jam sudah pergi lagi. Ibunya malah sudah enggak pernah ke sini lagi," kata Ira, yang sudah kesulitan untuk berjalan. 

Melly Nia (19), tetangganya, mengatakan bahwa kakek dan neneknya Bila sudah sakit-sakitan sejak pindah ke Pangauban. Beruntung, sekitar dua tahun terakhir ini ada dokter yang praktik di depan rumahnya Bila. Kalau penyakit kakeknya sedang kambuh, Bila lah yang mengantarkannya. 

"Kakeknya sakit paru-paru, suka sesak gitu. Sekarang juga lagi susah kencing, jadi dipasangi selang. Yang suka antar ya Bila. Tengah malam, lagi hujan, dia selalu mengantar kakeknya pakai sarung di kepala, karena mungkin malu tak bisa bayar berobat. Neneknya juga punya jantung, pernah dioperasi," kata Melly, yang kerja buat dokter Denis Martin di dekat rumahnya Bila.

Tanpa bantuan sosial dari pemerintah sebelumnya, Bila pula yang menjadi tulang punggung bagi kakek dan neneknya. Menurut Ira, setiap pagi Bila selalu bebersih rumah sebelum pergi sekolah. Bila juga selalu sigap membantunya memasak. 

Pulang sekolah, lanjut dia, Bila mencari rongsokan seperti kardus, botol plastik, atau besi selama beberapa jam, kemudian pergi mengaji sewaktu memasuki petang hari. Barang rongsokan tersebut dikumpulkan di belakang rumah, lalu dijual kalau sudah banyak. Walaupun banyak temannya yang tahu, kata Ira, Bila tidak malu.

"Sepatu yang diributkan itu dia beli sendiri, Rp 60 ribu. Dia nyari rongsokan seminggu, dijual dapat Rp 80 ribu. Ema, uangnya Rp 60 ribu dipakai buat beli sepatu. Ini uang yang Rp 20 ribu buat Ema," kata Ira, dengan mata berkaca-kaca. 

Ihwal perselisihan dengan kawan-kawannya, Bila mengaku sudah melupakan kejadian di sekolah pada Sabtu (6/4/2019) itu. Dia menganggapnya sebagai hal wajar, sebagaimana umumnya anak-anak berkelahi yang berdamai lagi dalam waktu singkat. "Ya Sabtu marahnya, Senin sudah baikan lagi. Namanya juga anak-anak," kata Bila.***

Bagikan: