Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Berawan, 21.6 ° C

[Laporan Khusus] Berkah di Balik Timbunan Sampah

Riesty Yusnilaningsih
Bantar Gebang.*/ANTARA
Bantar Gebang.*/ANTARA

Manta (35) masih ingat betul cerita orangtuanya ketika ia masih kecil. Menurut sang ayah, lapangan luas yang membentang di depan rumahnya akan disulap menjadi sebuah bandara. Pesawat terbang akan berseliweran di hadapan warga RT 4 RW 4 Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang itu, setiap harinya.

Namun, apa yang dibayangkannya tersebut buyar saat cerita sang ayah berbeda jauh dari kenyataan yang tampak di depan matanya. Bukan­lah pesawat yang bisa disaksikan setiap hari, melainkan hilir mudik truk-truk peng­angkut sampah dengan bonus bau tak sedap yang justru harus dinikmatinya.

Meski sempat kecewa, Manta kecil bisa segera membuat dirinya senang dengan kehadiran alat-alat berat di sekitar area yang kini dikenal sebagai Tempat Peng­olahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar­gebang. Waktu bermainnya sering kali dihabiskan di sekitar alat-alat berat yang diparkir setelah meratakan tumpukan sampah.

Mungkin karena kebiasaan saat kecil itu pula, Manta dewasa tak lagi asing dengan alat berat, sehingga sejak 2004 ia bekerja sebagai salah seorang operator alat berat di TPST Bantargebang.

Kini, total sudah 15 tahun Manta ada di balik kendali alat berat yang biasanya ­berada di puncak gundukan sampah tersebut. Ia biasa bekerja sesuai dengan sif yang ditentukan.

Sif paling menantang ialah jika ia harus bertugas pada malam hari. Berbekal ­penerangan seadanya dari alat berat, ­gundukan sampah harus diratakannya agar rapi. 

”Ya, ini pekerjaan yang berisiko juga, karena ada kejadian teman saya sesama operator alat berat sampai terjungkal bersama alat ­beratnya hingga kakinya patah,” kata Manta.

Meski tugasnya berisiko, Manta tetap bersyukur bisa hidup ber­dampingan de­ngan TPST Bantargebang. ”Masalah bau sih ­sudah tidak jadi persoalan lagi. Bertetangga dengan TPST Bantar­gebang, ya enak enggak enak. Tetapi karena ada TPST Bantargebang juga saya jadi punya pekerjaan untuk menafkahi keluarga,” ucapnya.

Menjanjikan

Daya tarik dari segi materi itu juga yang memancing ­Mama Nabila (29) merantau ke Bekasi dari kampung halamannya di Jawa Tengah. Bersama sang suami, ia ikut menjadikan TPST Bantargebang sebagai sumber mata pencaharian.

Ia dan sang suami berkegiatan pada proses pember­sihan sampah-sampah plastik yang berhasil dikumpulkan para pemulung. Sampah plastik yang telah bersih lalu dihancurkan hingga menjadi serpihan plastik kecil.

”Kalau sudah terkumpul banyak, baru dikirim ke bos. Nanti bos yang kirim lagi ke pabrik pengolahan bijih plastik di Tangerang,” katanya.

Biasanya tiga pekan sekali ia menyetorkan serpihan sampah plastik kepada sang bos. Sekali kirim, banyaknya bisa berton-ton. ”Hasil­­nya ya lumayan, rata-rata sebulan bisa dapat uang Rp 10 juta dari usaha ini,” ucapnya.

Mama Nabila merasa apa yang diperolehnya tersebut cukup ­sebanding dengan ketidaknyamanan tinggal di sekitar area TPST Bantargebang. ”Ini tahun kelima saya di sini. Lama-lama ya ­nyaman juga dan tidak ada keinginan pindah ke tempat lain,” ­ucapnya, berseri-seri.

PENGENDARA truk pengangkut sampah melintasi jalan yang digenangi air limbah, di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, di Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 9 April 2019.*/ANTARA

Belajar dari TPST Bantargebang

Ibu kota negara DKI Jakarta terancam ­menjadi lautan sampah 2021 nanti. Prediksi tersebut dilatarbelakangi kenyataan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) ­Bantargebang di ­Kota Bekasi yang menjadi tujuan utama pembuangan sampah ­warga DKI Jakarta hampir habis lahannya hingga masa pakainya pun tak akan lama lagi.

Dari total lahan TPST Bantargebang seluas 110 hektare yang dioperasikan sejak 1986, saat ini sekitar 82% di antaranya telah menjadi gunungan sampah. Tinggi gundukannya pun tidak main-main karena bisa sampai 30-40 meter.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentunya tidak tinggal diam dengan situasi ini. Sejumlah strategi pun dipersiapkan, tak sekadar demi memperpanjang usia TPST Bantargebang, tetapi juga memasti­kan agar ancaman sampah tak lagi datang di masa mendatang.

Kepala Unit Pelaksana Teknis ­Dinas TPST Bantargebang Asep Kuswanto menyebutkan, ada setidaknya tiga upaya yang dijadikan ikhtiar untuk keluar dari problema sampah tersebut. Yang pertama dan sudah terealisasi ialah upaya memusnahkan sampah dan memprosesnya menjadi energi listrik. Hal itu dimung­kinkan dengan rampung terbangunnya pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yang dikembangkan Balai Pengkajian dan Pene­rapan Teknologi (BPPT). 

Meski saat ini masih dalam tahap pengondisian mesin-mesin, ketika dioperasikan dua sampai tiga bulan mendatang, PLTSa tersebut diproyeksikan mampu memproses 100 ton sampah per hari menjadi listrik dengan daya 750 kWh setiap harinya.

Namun, dengan kapasitas yang baru 100 ton per hari, Asep me­nga­takan upaya ini tidak akan serta-merta berdampak signi­fikan pada pengurangan sampah yang berakhir dengan metode landfill mining.

”Setiap hari sampah yang datang bisa sampai 7.500-7.800 ton. Berkat kehadiran para pemulung yang melakukan pemilahan barang serta pengolahan menjadi kompos, sampah yang tereduksi sekitar 10%. Setelah dikurangi kembali 100 ton yang diproses menjadi listrik, masih tersisa 6.650 ton sampah yang ­berakhir di gundukan setiap harinya,” kata Asep.

Oleh karena itu, upaya kedualah yang dijadikan andalan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi gunungan sampah sehingga masa pakai TPST Bantargebang bisa diperpanjang, setidaknya sampai ­lima tahun lagi.

”Boleh dibilang kami berkejaran dengan waktu. Sebisa mungkin sebelum masa pakainya tuntas karena tidak ada lagi lahan yang bisa dijadikan area menumpuk gundukan sampah, upaya yang ­kami lakukan bisa membuahkan hasil,” ucapnya.

Upaya yang dimaksud Asep ialah dengan menambang sampah pada gundukan-gundukan sampah tua. Untuk melakukan upaya tersebut, Pemprov DKI Jakarta kembali menggandeng BPPT, Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), serta PT ­Semen Indo­nesia.

”Landfill mining terhadap ­gundukan sampah ini merupakan yang pertama kali dilakukan di ­Indonesia sehingga saat pelaksa­na­annya nanti akan ada pendam­pingan juga dari Direktorat Jen­deral Cipta Karya ­Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rak­yat,” ucap Asep.

Dalam jurnalnya, BPPT menjelaskan tentang landfill mining atau lengkapnya dinamakan enhanced landfill mining (ELFM). Konsep itu tergolong baru yang mengintegrasi­kan pemulihan ­material dan energi pada sebuah landfill (tempat ­penimbunan sampah) yang ber­manfaat bagi keberlanjutan penge­lolaan material dan pengelolaan landfill. Konsep itu mengintegrasi­kan berbagai teknologi seperti eks­kavasi, pemi­lahan, termal, transformasi, serta daur ulang. Selain itu, ter­integrasi dengan aspek nonteknis seperti aspek regulasi, pasar, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

BANTARGEBANG.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT

Bahan bakar

Berdasarkan hasil studi kelayak­an yang dilakukan tenaga ahli dari Teknik Lingkungan ITB, gundukan sampah di zona IV B2 ­seluas dua hektare yang memungkinkan untuk dilakukannya landfill mining lebih dulu karena kemiringan lerengnya relatif aman. Tumpukan sampah di zona tersebut akan dikeruk lalu dikirim ke pabrik PT Semen Indo­nesia untuk diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF). RDF tersebut akan digunakan PT Semen Indonesia sebagai bahan bakar pengganti batu bara dalam proses pembuatan semen.

”Jika kualitas RDF-nya dinyata­kan baik, PT Semen Indonesia akan membelinya, sehingga landfill ­mining pun bisa dilanjutkan hingga seluruh gundukan sampah habis tak bersisa, kira-kira 10-15 tahun mendatang,” katanya.

Terhadap area bekas gundukan sampah, tentunya akan dilaku­kan pemulihan kondisi terlebih dahulu sebelum bisa dimanfaatkan kembali sebagai lahan baru. Rencana awal ialah menjadikan lahan tersebut sebagai lokasi instalasi pengolahan air sampah (IPAS) keempat demi ­mengurangi resapan air lindi yang tidak sepenuhnya tertampung di tiga IPAS sekarang.

Asep menyebutkan, kerja sama dengan PT Semen Indonesia ­sudah ditandatangani. Dalam waktu dekat, landfill mining bisa segera dimulai.

Upaya lain yang juga diupayakan ialah dengan pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Caranya ialah melalui kehadiran ­intermediate treatment facility (ITF) berkapasitas 2.200 ton per hari. ITF pertama Pemprov DKI Jakarta, sekaligus yang pertama di Indonesia, sudah mulai dikerjakan pembangunannya pada Desember 2018. Instalasi ini mampu ­mengon­versi sampah menjadi listrik berdaya 35 megawatt dan diproyeksi­kan bisa mulai ber­operasi.

”Setelah ITF Sunter, akan dihadirkan tiga ITF lain di kawasan ber­beda. Jika seluruh ITF itu sudah berfungsi optimal, tidak akan ada lagi sampah-sampah warga Jakarta yang diangkut truk untuk dibuang ke Bantargebang,” katanya.

Menurut Asep, di masa mendatang, Pemprov DKI Jakarta memang tidak akan lagi bergantung pada TPST Bantargebang untuk keperluan pembuangan sampah. Sebab pembuangan sampah ­dengan metode open dumping tidak akan lagi dilakukan. Adapun area TPST Bantargebang akan dijadikan pusat studi sampah. ***

Bagikan: