Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Video Asusila Pengaruhi Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Cecep Wijaya Sari
ASEP Wahyu, Kepala BP3AKB KBB.*/CECEP WIJAYA SARI/PR
ASEP Wahyu, Kepala BP3AKB KBB.*/CECEP WIJAYA SARI/PR

NGAMPRAH, (PR).- Sedikitnya 19 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kabupaten Bandung Barat pada triwulan pertama tahun ini. Sejumlah kasus ini sudah diproses secara hukum dengan pendampingan dari pemerintah daerah.

"Meskipun angkanya kecil jika dibandingkan dengan populasi anak, tapi kasus ini terhitung cukup tinggi juga, sehingga kami tidak bisa menyepelekannya," ujar Asep Wahyu, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana KBB, Rabu 10 April 2019.

Dia mengungkapkan, jumlah kasus kekerasan terhadap anak pada triwulan pertama tahun ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan sepanjang tahun lalu yang berjumlah 25 kasus. Kasus tahun ini terjadi di setiap kecamatan meski masih didominasi wilayah selatan.

Menurut Asep, para korban masih berusia anak-anak hingga remaja. "Sesuai UU Perlindungan Anak, yang dimaksud anak di sini berusia 18 tahun ke bawah. Di KBB para korban ada yang berusia 17, 16, bahkan 10 tahunan," katanya seraya menambahkan, mereka mendapatkan perlakuan kasar dari pelaku yang mengarah pada pelecehan seksual.

Seperti kasus-kasus sebelumnya, lanjut dia, para pelaku masih didominasi orang yang dekat ataupun kenal dengan korban, seperti kerabat dan tetangga. Salah satu penyebabnya, yaitu pengaruh video-video asusila yang dapat diakses dengan mudah di internet.

Untuk meminimalisasi kejadian serupa, BP3AKB gencar melakukan sosialisasi UU Perlindungan Anak baik kepada orangtua maupun anak-anaknya. "Dengan sosialisasi ini, diharapkan para orangtua dan anak bisa lebih waspada terhadap potensi kekerasan terhadap anak," ujar Asep. 

Dia juga mengungkapkan, kekerasan terhadap anak tak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk verbal yang biasa disebut perundungan (bullying). Untuk mencegahnya, ia juga berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan agar di KBB tidak terjadi kekerasan seperti yang menimpa Audrey di Pontianak baru-baru ini.

"Kekerasan baik secara fisik maupun verbal harus dimininalisasi, bahkan sebisa mungkin ditiadakan. Sebab, dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap psikis korban," tuturnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bandung BArat Heri Partomo  juga mengakui, kekerasan terhadap anak memang selalu terjadi. Hal itu akibat berbagai hal, seperti faktor ekonomi, ketidakharmonisan rumah tangga, hingga faktor lingkungan yang buruk.

“Dari kekerasan terhadap anak itu, banyak di antaranya yang merupakan kekerasan seksual. Kebanyakan terjadi di wilayah selatan KBB. Pelakunya juga sering kali orang terdekat korban,” ujarnya.

Menurut Heri, data kekerasan terhadap anak di KBB mungkin saja lebih banyak. Sebab, tidak semua korban terbuka untuk melaporkan kasus yang menimpanya. Namun, dengan turunnya petugas ke lapangan, kasus-kasus tersebut terus terungkap.***

Bagikan: