Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Pergerakan Tanah Ancam Warga Bandung Barat

Hendro Susilo Husodo
PETUGAS  BPBD KBB membersihkan material longsor yang menimpa rumah di Kampung Cibogo, RT 3 RW 4, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Senin 8 April 2019. Di Citatah satu rumah tertimpa longsor dan sejumlah rumah terancam longsor oleh pergerakan tanah.*/DOK.  BPBD KBB
PETUGAS  BPBD KBB membersihkan material longsor yang menimpa rumah di Kampung Cibogo, RT 3 RW 4, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Senin 8 April 2019. Di Citatah satu rumah tertimpa longsor dan sejumlah rumah terancam longsor oleh pergerakan tanah.*/DOK.  BPBD KBB

NGAMPRAH,  (PR).- Tebing yang berada di pinggir Jalan Raya Cipatat longsor, lalu menimpa rumah milik keluarga Agus (62), di Kampung Cibogo, RT 3 RW 4, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Senin 8 April 2019.

Kepala Pelaksana BPBD KBB Duddy Prabowo, melalui petugas BPBD KBB, Rudi Wibiksana mengatakan longsor tersebut terjadi sekitar pukul 1.00 WIB.

Rumah milik Agus, kata dia, mengalami kerusakan berat setelah tertimpa tanah yang longsor setinggi 15 meter dan selebar 5 meter. Beruntung, Agus beserta isterinya dapat selamat dari bencana tersebut.

"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Namun, isteri  Bapak Agus yang bernama Ibu Eriah tertimpa bangunan warung yang mengakibatkan memar dan luka ringan. Saat ini korban mengungsi ke rumah putranya. Kami turut membantu evakuasi barang-barang milik korban yang masih bisa diselamatkan," tuturnya.

Terancam longsor

Di kampung lain di Citatah, sejumlah rumah terancam longsor yang dipicu oleh pergerakan tanah. Bencana pergerakan tanah itu terjadi di Kampung Cilimus, RT 3 RW 14, di mana rekahan tanah sepanjang sekitar 50 meter muncul di bukit yang berada di atas kampung tersebut. Menurut warga sekitar, tanah di bukit itu diketahui mulai merekah sejak Maret lalu.

"Waktu itu awalnya ada hujan deras, terus ada tanah yang jatuh. Saya sudah laporkan pergerakan tanah itu ke RT/RW, karena khawatir kalau terjadi longsor. Sudah diperiksa juga oleh petugas, tapi belum ada tindak lanjut lagi," kata Rohandi (45), seorang warga yang rumahnya juga terancam longsor.

Beberapa hari lalu, jelas dia, tanah setinggi delapan meter di bukit tersebut mengalami ambrol. Setiap kali hujan deras turun, Rohandi selalu cemas longsoran tanah akan semakin membesar. "Semalaman saya berjaga, terutama kalau ada hujan. Di rumah ini ada keempat anak saya," ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi tersebut kian diperparah dengan kemunculan aliran air di sekitar tanah yang ambrol. Dikhawatirkan, aliran air itu dapat mempercepat longsor di tebing yang berada di belakang rumahnya. Dia berkeinginan membangun tembok penahan tanah, tapi terbentur oleh biaya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, di Kampung Cilimus sedikitnya terdapat delapan rumah yang terdampak langsung oleh bencana pergerakan tanah. Petugas BPBD pun telah melakukan pengecekan dan mengimbau agar masyarakat waspada.***

 

 

 

 

 

Bagikan: