Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sedikit awan, 15.9 ° C

Puluhan Buruh Bekerja dengan Menerobos Banjir

Tim Pikiran Rakyat
SEJUMLAH buruh terpaksa menerobos banjir untuk tetap bekerja di pabrik.*/DOK. PR
SEJUMLAH buruh terpaksa menerobos banjir untuk tetap bekerja di pabrik.*/DOK. PR

SOREANG, (PR).- Sekitar 40.000 buruh pabrik di kawasan industri di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung menghadapi banjir untuk bekerja. Namun, puluhan ribu buruh tersebut tetap bekerja di sekitar 40 perusahaan besar di Kecamatan Dayeuhkolot dan sekitarnya, Jumat 5 April 2019.

"Walau di terjang banjir, puluhan ribu buruh pabrik tetap komit untuk bekerja di tempat kerjanya masing-masing. Puluhan ribu buruh pabrik itu membuktikan mereka adalah   pekerja tangguh," kata Ketua Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC SPTSK SPSI) Kabupaten Bandung Uben Yunara kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih.

Para pekerja itu dikatakan pekerja tangguh, imbuh Uben Yunara, pasalnya mereka tak menghiraukan akses Jalan Raya Dayeuhkolot Kecamatan Dayeuhkolot yang terendam banjir setinggi 60-80 cm, tepatnya di depan PT Metro Garmen. 

"Ribuan buruh itu tetap bekerja keras dan berusaha menerobos genangan banjir disaat hendak pergi maupun pulang kerja," kata Uben. 

Menurut Uben, puluhan ribu buruh pabrik itu rela basah-basahan tak hanya harus menerobos genangan banjir di Jalan Raya Dayeuhkolot, kondisi serupa yang harus diterobos para buruh di Jalan Raya Banjaran-Dayeuhkolot. Ketinggian air di ruas jalan itu mencapai 60-80 cm.

"Itu membuktikan pekerja pabrik di Kabupaten Bandung benar-benar produktif. Mereka tetap membuktikan tanggungjawabnya sebagai pekerja pabrik dan loyal kepada pemilik perusahaan demi mengais napkah untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi banjir pun mereka tetap harus bekerja, sebagai bentuk risiko yang harus diembannya," tuturnya.

Penghargaan

Melihat perjuangan para buruh seperti itu, Uben berharap, pihak perusahaan memberikan reward atau penghargaan kepada para pekerjanya masing-masing. Soalnya, para pekerja tersebut sudah memberikan keuntungan terhadap perusahaan atau saling menguntungkan di antara kedua belah pihak.

"Bentuk penghargaannya bisa dalam bentuk tambahan uang makan. Misalnya, uang makannya Rp 5.000 ditambah menjadi Rp 10.000 atau Rp 15.000. Atau tambahan uang saku dan tambahan uang transfor bagi para buruh. Soalnya, mereka sudah bersusah payah jalan kaki menerobos genangan banjir supaya tetap bisa bekerja  guna kelangsungan perusahaan," harapnya.

Dengan adanya komitmen dari para buruh itu, Uben memperkirakan, untuk sementara tidak ada perusahaan yang libur karena bencana banjir yang sudah berlangsung selama dua hari ini. 

"Itu pulalah sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab para pekerja dalam upaya mempertahankan kelangsungan perusahaan tempat kerjanya disaat akses jalan lumpuh total  karena tak bisa dilalui semua kendaraan," ungkap Uben.

Para pekerja yang menerobos genangan banjir itu, merupakan buruh yang berangkat dan pulang kerja dari arah Baleendah, Pameungpeuk, dan Banjaran. Sebagian lagi berdomisili di kawasan Dayeuhkolot dan Bojongsoang. 

"Para pekerja asal daerah tersebut memanfaatkan akses Jalan Banjaran-Dayeuhkolot dan Jalan Raya Dayeuhkolot untuk menuju tempat kerjanya. Soalnya, tidak ada jalan alternatif lain, disaat genangan banjir makin meluas dari luapan Sungai Citarum dan anak-anak sungainya," katanya.

Uben juga berharap kepada pemerintah ada keberpihakan peraturan ketenagakerjaan terhadap para buruh. "Intinya upah kerja dapat memberikan kesejahteraan terhadap buruh," pungkasnya.***

Bagikan: