Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 19.1 ° C

Farhan: Konservasi Kawasan Bandung Utara Kunci Permasalahan Banjir

Dewiyatini
SALAH satu proyek pembangunan di Kampung Cibengang, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Selasa, 12 Februari 2019. Pemanfaatan ruang di Kawasan Bandung Utara yang tidak terkendali akan mengancam keberlangsungan fungsi konservasi kawasan sebagai daerah tangkapan air dan menimbulkan berbagai bencana alam. */ARMIN ABDUL JABBAR/PR
SALAH satu proyek pembangunan di Kampung Cibengang, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Selasa, 12 Februari 2019. Pemanfaatan ruang di Kawasan Bandung Utara yang tidak terkendali akan mengancam keberlangsungan fungsi konservasi kawasan sebagai daerah tangkapan air dan menimbulkan berbagai bencana alam. */ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG,(PR).- Bandung kembali banjir akibat luapan Sungai Citarum. Ketinggian banjir bervariasi, tetapi sebagian besar rumah terendam hingga lebih dari 1 meter. Akibatnya, ribuan warga kesulitan.

Politisi NasDem Muhammad Farhan pun fokus ingin menangani banjir yang kerap melanda Bandung. Farhan akan meminta perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperhatikan konservasi tanah resapan air di KBU (Kawasan Bandung Utara).

Menurut caleg NasDem DPR RI Dapil Jawa Barat I (Kota Bandung dan Kota Cimahi) itu, di sanalah hulu penyebab banjir menerjang Bandung.

"Saya lihat apakah saya di tempatkan di komisi yang tepat atau tidak yakni kalau tidak Komisi IV, ya Komisi V. Kalau saya ditempatkan di Komisi IV, maka saya akan meminta perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperhatikan konservasi tanah resapan air di KBU (kawasan Bandung Utara), karena eta biang kerok na ya," kata Farhan, Jumat, 5 April 2019.

Selain itu, rencana pengendalian banjir di Bandung Raya juga harus menjadi fokus. Provinsi yang bertanggung jawab dalam pembangunan infrastrukturnya. 

Farhan juga menyinggung peran lainnya dari anggota legislatif dalam menanggulangi banjir yaitu membangun jejaring penanggulangan bencana. 

“Penanggulangan korban bencana bersama dengan kementerian sosial atau dinas sosial serta Tagana," katanya.

Dihubungi terpisah, pakar Tata Ruang Kota Nirwono Joga melihat masalah banjir di kawasan Bandung Raya dapat diselesaikan jika ada koordinasi yang baik antara pemerintah kota/kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat. Selama ini, lemahnya koordinasi dan saling melempar tanggungjawab membuat masalah banjir di Bandung tak pernah tuntas.

Menurut Nirwono, ada dua penyebab utama banjir di Bandung. Pertama, banjir kiriman dari daerah dataran tinggi seperti Bandung bagian utara.

“Ini terjadi karena kawasan hutan lindung, dan kawasan hijau sudah sangat ter-eksplorasi. Daerah itu seharusnya menjadi kawasan tangkapan air, sehingga volume air bisa dikurangi,” katanya.

Kedua, banjir di Bandung adalah buruknya drainase atau saluran air. Nirwono menjelaskan, volume air dari daerah dataran tinggi sangat besar karena kurangnya daerah resapan. Ditambah lagi, saluran air tidak berfungsi dengan baik. 

Solusi

Untuk membenahi masalah rusaknya daerah tangkapan air ini, maka harus ada komitmen dari pembuat kebijakan untuk menghentikan ijin pembangunan villa atau properti  baru. "Harus ada keseriusan misalnya, menghentikan ijin pembangunan pemukiman baru dan mulai serius memperhatikan penghijauan," ujarnya. 

Nirwono menyarankan perbaikan drainase dan saluran air. Misalnya dengan mulai memperlebar selokan atau gorong-gorong. Selain itu karena Kota Bandung dan sekitarnya tidak memiliki daerah resapan air yang memadai, maka perlu dibangun  danau, embung atau waduk buatan untuk menampung air. 

Selain itu, juga bisa dipikirkan untuk memperbaiki aliran sungai. Misalnya, sungai bisa diperlebar atau dikeruk agar bisa menampung lebih banyak volume air.***

Bagikan: