Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 17.3 ° C

Warga Berswadaya Kembangkan Wisata Air Cikaro

Tim Pikiran Rakyat
FOTO ilustrasi wisata air.*/DOK. PR
FOTO ilustrasi wisata air.*/DOK. PR

SOREANG, (PR).- Pengembangan wisata air Cikaro Lestari di Kampung Rancabali RW 12 Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung akhirnya bisa direalisasikan, meski pengelola wisata air masih melakukan penataan secara bertahap, Senin 25 Maret 219. 

Wisata air tersebut merupakan hasil swadaya RW dan warga setempat, setelah melewati proses persiapan beberapa pekan. Pengembangan dan pengelolaan wisata air yang mulai dilaunching pada Minggu 24 Maret 2019 itu, untuk melestarikan aliran Sungai Cikaro. 

Selain untuk memberdayakan warga setempat, terutama bagi mereka yang menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap, wisata air tersebut untuk membangkitkan ekonomi masyarakat, terutama pedagang warungan yang ada di sekitar lokasi wisata air. 

"Pada saat wisata air Cikaro Lestari ini mulai dilaksanakan, puluhan warga sudah banyak yang berdatangan ke lokasi wisata air tersebut. Terutama anak-anak terlihat ceria saat mandi dan berenang sambil menggunakan alat bantu ban bekas," kata Ketua RW 12 Kampung Rancabali Nanang Jauhari kepada wartawan Galamedia, Engkos Kosasih.

Untuk memfasilitasi anak-anak yang berenang di lokasi wisata air, imbuh Nanang, pihak pengelola menyiapkan sejumlah ban bekas untuk para pengunjung. Bahkan para pengunjung pun dimanjakan dengan perahu yang bisa digunakan untuk menyeberang di aliran Sungai Cikaro tersebut.

Perahu dibuat sederhana, yaitu terbuat dari busa streafrom, sehingga nampu menampung 4-5 anak-anak yang menyeberang di sungai tersebut. Sedangkan perahu yang terbuat dari 19 lapis busa streafoarm yang kedap air itu bisa ditumpangi 3 orang dewasa. 

Pengelola pun menyiapkan perahu karet yang bisa digunakan 1-2 orang pendayung, khususnya untuk anak-anak. Namun untuk orang dewasa, hanya bisa digunakan satu orang. 

Nanang mengatakan, lokasi penataan wisata air Cikaro lestari tersebut masih dalam proses penataan. "Penataannya baru 20 persen, sehingga masih banyak yang harus dikerjakan," kata Nanang. 

Untuk menambah daya tarik wisata air, pihak pengelola perlu menata bantaran Sungai Cikaro sepanjang 300 meter lebih dijadikan sebuah taman. Kemudian, memberikan warna atau cat pada kirmir bebatuan di bantaran sungai tersebut. "Masih banyak yang harus kami kerjakan. Tetapi, kita berusaha untuk mengerjakan secara bertahap," katanya.

Pihak pengelola wisata air baru menyediaan ban bekas, selain mempercantik bantaran sungai dengan cara membuat ban bekas yang menyerupai hewan bebek atau soang, ikan, dan jenis hewan lainnya. 

Pantauan di lokasi wisata air, sejumlah anak-anak terlihat bahagia ketika bisa kembali merasakan keindahan aliran Sungai Cikaro. Sebelumnya, aliran sungai tersebut tak bisa digunakan berenang karena banyak sampah dan kotor. Bahkan, banyak limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai. 

Namun saat ini, pembuangan sampah dan limbah rumah tangga ke Sungai Cikaro mulai bisa diminimalisir, meski saat ini masih ada sampah streaform yang dibuang ke sungai. 
"Tetapi setidaknya dengan adanya aktivitas warga dan anak-anak di Sungai Cikaro dapat mencegah warga yang ada di hulu Sungai Cikaro tidak membuang sampah maupun limbah rumah tangga ke sungai tersebut," katanya. 

Ia juga mengaku bangga warga di Kampung Rancabali sudah sadar dan tidak membuang sampah serta limbah rumah tangga ke Sungai Cikaro. "Kita yang ada di muara Sungai Cikaro hanya terkena dampaknya, sementara yang membuang sampah ke sungai tersebut warga di luar RW 12.  Kita setiap minggu melaksanakan kerja bhakti membersihkan sampah untuk mengurangi risiko banjir kuapan Sungai Cikaro," ujarnya.

Nanang mengatakan, kawasan Kampung Rancabali merupakan kawasan rawan banjir deras, dan berbeda dengan banjir di Baleendah yang merupakan banjir genangan. "Yang jelas, apa yang kita lakukan untuk menumbuhkan kesadaran kepada warga tentang arti pentingnya melestarikan lingkungan," pungkasnya.***

Bagikan: