Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Puluhan Pasutri di Suntenjaya Belum Miliki Buku Nikah

Hendro Susilo Husodo
ILUSTRASI buku nikah.*/KEMENAG.GO.ID
ILUSTRASI buku nikah.*/KEMENAG.GO.ID

NGAMPRAH, (PR).- Walaupun sudah menikah selama bertahun-tahun puluhan pasangan suami isteri (pasutri) di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) belum mengantongi buku nikah. Oleh karena itu, dalam waktu dekat mereka akan menjalani sidang isbat. 

Demikian disampaikan Kepala Desa Suntenjaya Asep Wahono di kantornya, Senin, 25 Maret 2019. Menurut dia, ada sejumlah faktor yang membuat banyak pasutri di desanya tidak memiliki buku nikah. Kebanyakan pasutri itu pun, kata dia, menikahnya bukan sekarang-sekarang ini.

"Ada yang buku nikahnya hilang, terbakar, nikah siri, dan ada juga yang memang kurang persyaratan administrasinya. Dulu itu kan yang penting nikah saja dulu. Biasanya karena kekurangan dana, jadi belum mengurus surat nikah," katanya.

Oleh karena itu, dia melanjutkan, Pemerintah Desa Suntenjaya berencana memfasilitasi penyelenggaraan sidang isbat. Apalagi, di Suntenjaya terdapat donatur yang bersedia membantu warga untuk membiayai proses kepemilikan buku nikah. 

"Jadi ada donatur yang mau membantu 37 pasangan supaya punya surat nikah baru. Pemerintah desa juga akan memfasilitasi sidang isbat masal lagi. Rencana Agustus mendatang, sekalian dengan milangkala desa. Soalnya, mungkin ada sekitar 50 pasang lagi yang belum punya surat nikah," katanya.

Asep menambahkan, kepemilikan buku nikah cukup penting bagi masyarakat, karena dapat menjadi salah satu syarat administrasi buat pengurusan berbagai hal. "Kalau enggak punya, bisa menghambat pembuatan administasi kependudukan. Buat jual beli tanah juga terhambat. Buat naik haji sudah jelas," ujarnya.

Seorang warga, Nunu (55) mengaku bersyukur bahwa dalam waktu dekat ini dirinya akan diikutkan sidang isbat yang difasilitasi oleh seorang donatur di Suntenjaya. Telah menikah selama 31 tahun dengan Lilis hayati (47), dia mengaku bahwa dulu dirinya cuma menggelar pernikahan secara sederhana.

"Saya masih ingat, dulu menikah pada 23 Juli 1988. Saya cuma nikah secara adat biasa. Dulu memang pernah mengajukan buku nikah, waktu itu harus menebus Rp 15.000 ke lebe (penghulu). Sudah ditebus, tapi lebe-nya meninggal dunia. Sampai sekarang, enggak jadi lagi buat mengurusnya," katanya.

Walaupun tidak memiliki buku nikah, Nunu mengaku tidak mengalami kendala apapun. Selain karena tinggal di kampung, tutur dia, kondisi pada zaman dahulu berbeda dengan sekarang, di mana pengurusan administrasi sudah lebih saklek.

"Dulu kan enggak seperti sekarang, satu syarat saja enggak ada ya enggak bisa bikin surat-surat. Sekarang kan buat motor saja harus ada suratnya, apalagi orang. Kalau enggak punya buku nikah, sekarang buat kredit juga susah," kata bapak dari dua anak dan kakek dari dua cucu itu.***

Bagikan: