Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 30.3 ° C

Margin Selisih Elektabilitas Kedua Calon di Jabar Makin Tipis

Dewiyatini
JOKO Widodo dan Prabowo berjabat tangan seusai mengikuti debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.*/ANTARA
JOKO Widodo dan Prabowo berjabat tangan seusai mengikuti debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.*/ANTARA

BANDUNG,(PR).- Meskipun berbagai prediksi menunjukkan selisih elektabilitas calon presiden masih di kisaran 20 persen, tapi di Jawa Barat, margin suaranya makin tipis. Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Firman Manan menyebutkan selisih margin suaranya sudah berada di satu digit. 

"Ini memang menarik karena di tingkat nasional itu, margin masih tebal. Tapi di Jabar sudah tipis. Ini membuktikan pertarungan di Jabar memang sangat ketat," ujarnya, pada Senin, 25 Maret 2019

Dikatakan Firman, Jabar masih jadi semacam simbol psikologi politik untuk memenangkan pertaruhan di nasional. Bahkan, jadwal terakhir kampanye terbuka di Jabar menunjukkan kedua pasangan calon presiden memang memiliki fokus yang baik di Jabar.

Firman menyebutkan hal itu memang sudah sepantasnya. Pasalnya, Jabar memiliki pemilih yang banyak. Selain itu, undecided voter di Jabar masih tinggi. Belum lagi ditambah dengan swing voters.

Oleh karena itu, metode kampanye di sebulan terakhir atau masa kritis ini harus dimanfaatkan dengan benar. Firman berpendapat rapat umum belum efektif untuk mendekati undecided dan swing voters

"Ini lebih kepada show off kandidat bisa mengumpulkan massa dengan jumlah banyak. Juga memberikan efek gentar kepada lawan dan publik. Jika kemudian mereka bisa mengumpulkan massa dalam jumlah banyak, beranggapan akan memberikan efek pada yang belum memilih, cenderung memilih itu," ucap Firman.

Hal itu, kata Firman, belum tentu. Dia menyebutkan yang hadir di model rapat umum adalah strong voter, pendukung loyal. Sementara swing voter, yang datang mungkin mendukung tapi masih "mau lihat dulu". Bahkan undecided jarang yang datang.

Untuk iklan di media, kemungkinan lebih efektif karena biasanya berisi pesan. Jika disampaikan secara berulang, bisa mempengaruhi persepsi. 

"Persoalannya, iklan dibatasi karena regulasi sudah diatur difasilitasi oleh KPU. Slotnya sama dan tidak ada satu partai memanfaatkan lebih banyak. Kalau lihat sisi itu, pengaruh terhadap pemilih sama," katanya. 

Firman mengatakan akan berbeda kalau ada kandidat yang punya slot lebih banyak. Saat ini, iklan lebih pada mengingatkan saja pada undecided voter berbicara, tapi secara langsung tidak mempengaruhi. 

Dia menilai di massa kritis ini, mempengaruhi undecided dan swing voters adalah pendekatan door to door. Menurutnya pendekatan secara langsung bertemu dengan pemilih akan jauh lebih efektif. Pemilih akan lebih mengenal program-program yang ditawarkan. Selain itu, pemilih berkesempatan berkomunikasi secara personal dengan calon maupun tim suksesnya.***

Bagikan: